Tulisan

Pithecantropus Belexius

Hujan sudah reda tapi matanya masih basah, kenapa dia? Apa dia sakit mata? Dan semoga matahari segera menggarang beleknya.

Dibawah atap orangtua dia bernaung. Mencoba berdamai dengan angan-angan yang mengaung-ngaung. Dalam helaan nafas yang ke 649 kali dia berkata, “Ya Tuhan, sembuhkanlah kami dari penyakit derita”.

Jendela kamar membingkai bunga mawar dan tahi ayam yang menghias keramik halaman rumah. Semalam turun hujan namun pagi terasa gerah. Konon belek dimatanya adalah air mata yang mengering digarang harapan yang belum kunjung tiba.

Pithecantropus Februalus

Februari. Sesingkat itu kau pergi tanpa pamit. Tanpa mengucap terima kasih. Atas apa yang kuperbuat untuk menyenangkanmu. Aku kecewa. Melampiaskan dengan makan soto. Tidak sedap, tapi harga mahal. Aku kecewa double. Celingak-celinguk setelah melihat isi kantong jebol. Bulan yang singkat. Seperti burung kena sunat.

Februari. Hujan datang lagi. Pagi-pagi. Sesaat setelah dia mencret di kamar mandi. Ya Tuhan, hari apa ini? Apakah normal jika cuci muka dengan pasta gigi? Apa boleh makan sabun saat malam nanti? Banyak jawab yang belum ditemui. Juga tentang rasa rindu yang belum terobati, dan apakah cinta masih ada di dalam hati.

Februari. Maret april mei juni juli. Jangan berkata rindu, jika tak mau bertemu kasih. Lebih baik pergi dan tak usah datang kembali. Karena bulan depan bukan februari.

Pithecantropus Januarindu

Bismillah. Semoga semuanya mudah. Masa kecilku bahagia atau tidak ya? Kurasa aku bahagia. Tapi kenapa aku lupa? Malah lebih ingat ketidakbahagiaan yang sudah lewat. Kucari kebahagiaan baru setelah selesai minum obat batuk. Agar ketidakbahagiaan menjadi ambruk. Kadang kala aku yakin pasanganku lebih keren dari artis korea. Karena dia bisa menulis sajak walau hidungnya sedang mampet oleh influenza.

Januari. Fokus kita bikin jadi romantis. Omongan sendiri yang ditulis. Apa kabar kutilmu? Apa sudah menjadi batu? Jangan dulu bergegas mengucap rindu. Siapa tahu rindumu salah lokasi. Cek laporan pengirimannya dulu ya sis. Siapa tahu itu hanya gumpalan rasa sepi dan letih. Karena sudah lama tak hahahihi.

Januari. Pandanganmu menjadi kabur setelah lama melototi lampu senter. Apa yang kamu lakukan brother? Seperti tidak ada lagi saja kegiatan yang seger. Aku tahu kepalamu seberat bulldozer. Tampangmu berubah jadi monster. Tenanglah, januari tak akan merubahmu menjadi zombie. Walau langkah kakimu sudah miring ke kiri. Biar rindu salah lokasi, cinta tak akan pernah mati.

Pithecantropus Novocalosis

Keras benar kepalanya. Dihantam palunya Thor pun tak akan menggoyahkan isi pemikirannya. Palunya retak, dirinya tetap tegak. Sebuah kelapa dikupas dari kulitnya. Airnya di minum, dagingnya di kunyah. Bercampur susu kental manis dan sedikit rasa gundah. Dinikmati ketika malam hari pada bulan maulid. Menambah energi, mengurangi racun yang di dapat dari polusi. Hati yang suka tiba-tiba resah, semoga jadi lunak, nyaman dan lembut seperti softex.

November. Jangan ragu. Kalau kau tak suka, muntahkan saja. Jika suka, telan dan bayar makanannya. Bulan ini mulai hujan mengguyur. Basahnya, basah. Seperti basah yang basah. Dan kadang panasnya, panas. Seperti panas yang panas. Seperti kasih yang belum kau temui, dan cinta yang terkadang berubah dingin. Itu bagian dari rangkaian perjalanan menggapai mimpi. Dan angin berdesir pelan di gunung karang. Menggibaskan poni ketika kau berjalan santai. Hei awan turunlah kesini. Biar aku bisa merasakan dekapmu dan tertidur dipangkuanmu persis seperti di TV. Jangan mandi air dingin! aku takut kamu jadi pilek.

November. Berjalan sangat pelan hingga pagi susah menjelang. Nyali yang besar runtuh diterjang badai. Lampu cinta padam. Kena giliran pemadaman dari PLN. Rindunya jadi rundi karena salah tulis. Tak ada yang sia-sia mencintai seseorang. Yang sia-sia itu kamu berharap cinta yang balas pada Lee Min Ho dan Scarlett Johannson. Bagi mereka cinta itu, Sarang dan Love.

Pithecantropus Octosilitus

Tiba-tiba dia bergegas menggulung lengan bajunya. Komat-kamit dipikirannya. Kursi dirapikan, teh manis diletakan di meja kaca. Memburu kata yang keburu kabur. Keadaan dan perasaan sedang mendukung. Bismillah, inilah waktunya untuk berkeluh kesah di media sosial. Berharap kasih dari para pembaca.

Oktober. Kamu hampir habis. Tinggal beberapa jam saja, kamu berubah jadi bulan lahirnya si nova atau novi. Mungkin juga si geri. Bulan yang dia mulai dengan berkeyakinan bahwa seekor ikan tidak mungkin sanggup memesan ojek online karena tidak punya kuota. Bulan yang selalu dia amini bahwa suatu saat kisah kasih hidupnya lebih cemerlang dari para penikmat harta ayah bunda.

Oktober. Tenanglah. Selalu ada pelangi setelah hujan. Nikmati saja dulu susu hangat yang dia seduh sebelum kau tidur. Tidurlah dengan nyaman. Walau esok yang disuguhkan hanya ketiadaan. Tenggak saja. Jangan takut akan masa depan! Semuanya akan terasa kenyang karena yang kau telan adalah sebuah ketulusan.

Pithecantropus Jodohuensis

Halo matahari, apa kabarmu di langit? Sabar dan betahlah kau disana. Jangan turun ke bumi nanti kami jadi merana. Bumi tempat kami tinggal, berkembang biak, buang air dan makan. Hai matahari, semoga kamu sendiri tidak kepanasan.

Seorang manusia mencari ilham. Demi yang ideal dan pengertian. Kopi dan senja tidak akan pernah mengenyangkan. Dengan punggung dibalur handbody dan minyak angin cap lang, menanti kasih untuk dijadikan tempatnya pulang.

Apa yang kau lakukan ketika dada dan kepalamu runyam? Perut kembung dan pandangan kunang-kunang. Meregang asa saat kerokan. Berharap buang angin berdurasi panjang. Angin ini angin perubahan. Cinta sudah ada sebelum kamu memintanya kepada tuhan. Suatu hari kau pasti temukan. Orang bego yang matanya kelilipan karena memilihmu untuk dia sayang.