Pithecantropus Juniustupidus

Juni. Rasanya era kejayaan mulai memudar. Seperti alis tebal yg luntur terkena hujan besar. Hujan tengah malam yang selalu saja menentramkan. Kalau bagimu tidak, itu terserah kamu punya perasaan.

Juni. Kadang cuacanya panas. Malam jadi gerah. Pagi, siang, sore juga. Namun harus tetap Alhamdulillah. Dan kalau pun editor memintaku menulis buku tentang cinta dan rindu, aku jamin tidak akan sebagus senyum kamu. Kamu adalah bulan Juni rasa bulan purnama. Sederhana saja kamu istimewa.

Juni. Tengah malam. Kepalanya dipatuk oleh burung-burung yang lalu lalang. Sampai pitak dia. Bak diterjang pisau cukur yang gugup memangkas waktu.

Pithecantropus Barberius III

KERAJAAN AWAN DAN TUKANG CUKUR III (ENDING)

Nah. Dia menghindari wastafel yang barusan tadi dihadapinya. Dia menyandarkan diri di tembok. Kamar mandi seolah menjadi saksi bagaimana dia terkejut melihat dirinya. Rambut yang stylish dan berkilau miliknya hilang seperti habis diterjang gerombolan ABG Alay yang jago jurus Dewa Mabuk. Yang terlihat dicermin adalah kepala yang plontos dan dihiasi kecupan sisa gincu merah merona. Sang Raja marah. Lantas dia berteriak, “Mang Uhaaaaaaaaaannnnnn…….!!!”. Begitu dia memanggil pengawal pribadi sekaligus kepala BIKAMBON (Biro Intelijen Kerajaan Awan Makin Brengsek Oh No). Singkat cerita sang raja menceritakan apa yang sudah dialaminya. Sementara sang raja direkomendaskan memakai wig oleh mang uhan. Dia pun langsung mengumpulkan anggotanya untuk menyelidiki kasus besar ini.

Penyelidikan pun dimulai. Mang Uhan beserta bawahannya memulai dengan penuh semangat. Sehabis Sholat Subuh berjamaah mereka sarapan bubur ayam di alun-alun Kerajaan Awan. Sambil membahas kasus yang akan mereka tuntaskan. Dan tidak lupa berfoto ria bersama untuk di update mereka punya social media. Lumayan. Buat stok ganti profil picture juga katanya. Setelahnya, mereka langsung pergi ke tempat kejadian. Investigasi pun dilakukan. Mengumpulkan sidik jati hingga memeriksa kamera pengamanan. Alhasil mereka pun menemukan bukti bahwa, yang menghabiskan gorengan di pantry adalah salah satu anggotanya. Si Beben. Beben pun langsung mengiyakan. Mengakui perbuatannya. Biar gak Mubadzir katanya. Mang Uhan cuma senyum saja. Kasus pembotakan Raja ini sangat tertutup dilakukan. Agar aib Raja tidak menyebar luas dan menimbulkan keresahan. Bahkan media lokal setempat pun dilarang menginformasikan. Selang beberapa jam kemudian, korps pimpinan Mang Uhan menemukan bukti otentik yang tajam. Bukti yang didapat dari kamera pengamanan dan pesan secarik surat pelaku yang diletakan di meja rias permaisuri kerajaan. Di kamera terlihat ada sosok seseorang yang mengendap-ngendap melawati pagar istana kerajaan hingga masuk ke ruang raja punya tempat peristirahatan. Terlihat di monitor, ada Raja. Lagi tidur. Meluk boneka Beruang. Kasihan. Maklum 1 bulan ditinggal Permaisuri liburan. Ada seseorang juga. Wajahnya samar terlihat. Tapi kepalanya bersinar dengan nampak. Bahkan sempat selfie dia. Sedangkan isi pesan surat itu berbunyi;

“Assalamualaikum Wr. Wb. Dengan datangnya surat ini dan atas rahmat yang maha kuasa ; Saya, Tuan Muda Tukang Cukur yang Cakep, menyataken bahwa ; rambut anda dipangkas dengan cara seksama dan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Sekian. Tertanda, kamu taulah siapa”.. Thanks ya gan.

Mang Uhan dan  pasukannya langsung pergi untuk melakukan penangkapan. Tukang cukur yang baru saja hinggap di Kerajaan Awan diringkus dengan gampang. Seolah sudah tahu akan ada penyergapan. Tanpa ada perlawanan. Tanpa ada penyangkalan. Dia ditangkap tepat di dalam jamban. Ah. Sebenarnya situasinya tidak sebegitu tenang. Mengingat si tukang cukur yang pada saat sebenarnya mengalami gangguan pencernaan. Asam lambungnya naik karena makan mie ayam kepedesan. Bahkan ketika itu dia masuk jamban dengan gelagapan. Karena isi perutnya udah mulai menodai celana dalam.

Si tukang cukur pun dibawa ke ruang rahasia kerajaan. Diintrogasi langsung oleh raja yang ditemani mang Uhan. Si tukang cukur botak itu mengakui dia punya perbuatan. Namun tidak mengatakan maksud dan dia punya tujuan. Sang raja sudah tanggung marah bukan kepalang. Mang Uhan pun diintruksikan untuk menembak kepalanya yang cemerlang. Tiba-tiba, “braaaakkk…!!!”, suara pintu yang didorong paksa karena ada yang datang. Permaisuri yang sudah sebulan tidak pulang, akhirnya muncul dihadapan. Dia meminta mang Uhan untuk tidak melakukan penembakan. Sang raja pun heran. Mang Uhan heran. Si tukang cukur enggak. Lantas raja berkata, “ada apa ini istriku?”, bilangnya tegang. “Jangan lakukan itu suamiku”, bilangnya tenang. Sang permasuri pun menjelaskan bahwa si tukang cukur itu adalah anak kandung dari mereka berdua yang ketika raja menyuruh tapi sebenarnya tidak permaisuri gugurkan. “Daripada aborsi lebih baik aku membesarkannya dan ku titipkan pada nenek di negeri seberang”. Itu yang permaisuri katakan. Dalang yang mencukur rambut sang raja adalah permaisuri yang berharap sang raja bisa menerima ganjaran. Yaitu balasan pelajaran bagaimana menyikapi akibat perbuatan nakal mereka saat masih remaja. Jangan takut cibiran manusia. Harusnya lebih takut pada dosa. Begitu maksudnya. Sang raja pun ingat kejadiannya. Dan percaya bahwa si tukang cukur adalah anaknya setelah melihat tanda lahir berupa tahi lalat diketek berbentuk bintang yang juga dimiliki oleh raja. Mereka bertiga pun larut dalam haru kebahagiaan. Saling berpelukan. Mang Uhan jadi obat nyamuknya. Tamat.

Pithecantropus L’Septembre

Ketika kau sibuk menyusuri pusat perbelanjaan, aku dan duniaku menjelajah laut atau hutan. Kita bertemu dipersimpangan jalan. Kau ke kiri, aku ke kanan. Cinta tak butuh satu jalan. Namun harus satu tujuan.

Dan sesungguhnya jika kau berkehendak untuk putus, maka kau harus punya pacar terlebih dahulu.

Ah September. Radiohead – No Surprises, tentu saja lebih merdu ketimbang suara yang palsu. Banyak omong, namun tak bermutu.

Mataku, mata bulan. Sudah malam, bukannya redup, malah makin terang.

Pithecantropus Expelore

Ku lari ke hutan, ku datangi saung, kemudian tidur. Ku lari ke pantai, itu gazebo, aku tidur. Ku lari ke mall, ada mushola, aku sholat. Karena memang waktunya.

Aku bisa tidur dimana saja. Asal ngantuk dan matanya tertutup.

Ketika kau membahas cinta dan rindu via udara, aku ketiduran. Jangan marah. Suruh siapa kau membungkusnya dengan nyaman. Rasanya seperti kau menikamku dengan kecup hangat di dahi, lalu membenarkan letak selimutku, dan mengucap selamat malam.

Namun selama ini aku belum bisa tidur cantik karena bukan perempuan.

Aku bisa tidur malam atau siang. Sore, tergantung kemauan. Oke, demi cinta kasih dan seluruh jajaran personil ranjang, aku ucapkan semoga tidurmu tentram.

Pithecantropus Septembrenck

Masa lalu. Masa dimana 10 menit yang lalu kuhabiskan waktu di jamban buang kotoran. Sambil melamun tentang masa yang lampau. Ada lukanya, ada sukanya. Berimbanglah. Dengan begitu hidupku jadi indah. Sehingga aku tak khawatir tentang apa yang aku buang dengan tidak mengharapkannya kembali. Begitu juga soal cinta. Ikhlas.

Masa depan. Masa depan salah satunya adalah aku berniat ini minum tolak angin cair. Kenapa? Tidak apa-apa. Hanya sedang kemasukan angin. Mungkin terlalu banyak mangap. Entah karena anginnya menyelundup ketika aku tidur. September siangnya panas. Panas yang membuat badan ranggas jadi tambah lemas. September malam anginnya dingin. Berselimut membentengi angin. Anginnya tak masuk, rindunya malah merasuk. Jancuk!

Pithecantropus Augusflus

Baru saja kemarin kita bertemu
Sudah lama semenjak kamu pinjam uangku
Lama ih, terakhir kita berciuman
Sekarang kita kembali bermusuhan

Dibawah naungan warung Bu Haji Emay
Duduk berdua lampiaskan rindu
Kau tanya padaku “Apakah kamu mau makan sukro?”
Tentu saja aku mau asal disuapi kamu
Aaahh.. Manjanya

Agustus dimulai dengan flu
Bersin sekali saja aku suka menyebut namamu
“Haatchiimm… I miss you to”, begitu kataku
“Alhamdulillahirobbilalamin”, jawab ibu

Dear Agustus
Pasti banyak Agus yang ulang tahun bulan ini
Aku mah maunya mengulang rindu dengan ketemu kamu