Quote

Pithecantropus Octosilitus

Tiba-tiba dia bergegas menggulung lengan bajunya. Komat-kamit dipikirannya. Kursi dirapikan, teh manis diletakan di meja kaca. Memburu kata yang keburu kabur. Keadaan dan perasaan sedang mendukung. Bismillah, inilah waktunya untuk berkeluh kesah di media sosial. Berharap kasih dari para pembaca.

Oktober. Kamu hampir habis. Tinggal beberapa jam saja, kamu berubah jadi bulan lahirnya si nova atau novi. Mungkin juga si geri. Bulan yang dia mulai dengan berkeyakinan bahwa seekor ikan tidak mungkin sanggup memesan ojek online karena tidak punya kuota. Bulan yang selalu dia amini bahwa suatu saat kisah kasih hidupnya lebih cemerlang dari para penikmat harta ayah bunda.

Oktober. Tenanglah. Selalu ada pelangi setelah hujan. Nikmati saja dulu susu hangat yang dia seduh sebelum kau tidur. Tidurlah dengan nyaman. Walau esok yang disuguhkan hanya ketiadaan. Tenggak saja. Jangan takut akan masa depan! Semuanya akan terasa kenyang karena yang kau telan adalah sebuah ketulusan.

Pithecantropus Januarich

Hari ini teduh, esok juga begitu. Bersembunyi dari matahari. Mengeram kata agar bisa membentuk puisi. Rangkaian kalimat yang siap dia bubuhkan di nasi goreng, pada perayaan pilu dan rindu. Hati ini teduh, esok juga begitu.

Demi jamur di kulitmu, “apa benar tidak ada namaku dalam daftar malam rindu?”… Katakan bila tak ada. Maka karya sastra ini tak perlu dibuat semanis madu. Cukup dibuat kisut. Agar setiap kau baca, kulitmu jadi mengkerut. Cintamu jadi semaput.

Ya, aku tahu. Ini Januari. Seperti lagu Glenn Fredly. Atau mungkin musisi lain. Bulan awal rencana besar. Titik tumpu untuk split yang lebih lebar. Lihatlah itu hujan. Hujan yang sama kau idamkan ketika kepanasan. Hujan yang sama ketika banjir kenangan. Hujanlah dengan damai. Cinta tak perlu dihujan-hujankan.

Pithecantropus Septemblues

Puan. Aku seharusnya menulis sajak cinta. Sajak yang sedari tadi dirangkai di kepala. Selesai boker, buyar semua. Bingung mau nulis apa. Kalah genting oleh urusan biologis manusia. Dalam remang lampu-lampu bolham, dalam malam di kaki gunung karang, daku menyapa puan yang hilang batang hidungnya. Tertelan mesin ATM, alat kosmetik dan sistematis hedonistik. Puan berjalan jauh, lebih jauh dari warung Kak Ombi. Puan berkata pergi, setelah bertemu monyet dalam mimpi.

September malas membahas hal-hal yang rumit. Sedikit berpikir keras otak langsung sakit. Sakitnya tuh dimana? Sakitnya tuh di sana-sini di dalam hariku. Pernahkah kamu adu dengkul dengan kuda? Atau pernahkah kau mencoba pahami tugas pokok sebuah kecoa? Kamu tentu tak akan pernah mengetahui semuanya. Sama halnya ketika aku menginginkanmu. Malam ini, atas nama rindu dan rimbunnya kasih sayang.

Pithecantropus Agooschitis

Agustus. Tak ada koneksi. Sambungan terhalang batang dukuh. Sinyal hilang, semua mendadak rusuh. Kuota banyak, rindunya dihambat jaringan kumat. Kasihan dia. Terancam gagal bercinta gara-gara teknologi tiada nyawa. Akhirnya dia menulis serpihan kasih diatas kertas putih. Baru mau dicatat, pena bergetar hebat. Menahan diri dari rasa buang air. Larilah dia ke departemen pengeluaran. Disana dia bertemu banyak kenangan yang lalu lalang. Rindu kembali muncul ketika sebuah peluru emas meluncur dari liang dubur.

Agustus. Bulannya bulan negeri kaya akan perasaan. Tanah tumpah darah para penyair yang setiap malam tenggorokannya dibasahi kopi. Negeri indah, damai dan tenteram yang terkadang gemetar oleh isu pemberitaan. Tanah, air, pohon, batu, hewan, pedagang, artis-artis dunia maya, tukang tambal ban dan atau seluruh mahluk hidup yang ada diatasnya. Semuanya adalah aneka ragam ibu pertiwi. Ibu yang amat kucintai. Indonesia.

Agustus. Saat itu, diantara wanginya bunga kopi yang bermekaran di kaki gunung karang. Semua perasaan dan keinginan berhamburan berterbangan. Tertiup sejuk, terburai ambruk. Cita dan cinta kadang tak sesuai rencana. Detak jantung mulai tak beraturan. Masuk angin atau asam lambung kah ini? Aku bertanya pada diri sendiri. Dia menjawab, “Tenang, kita tidak apa-apa. Ini hanya karena kita bertemu dia di empat mimpi yang diberkati istiqoroh. Kita pasti bahagia dalam lindungan Allah”.

Pithecantropus Ankothea

Apabila kamu melihat bahwa ada beberapa jenis tumbuhan yang bisa kita gunakan untuk menyedapkan sup ikan lele, dan digunakan oleh orang tua yang tidak pernah bisa mencintaimu karena flu, maka sesungguhnya mencari tanaman yang tumbuh di daerah tersebut adalah hal yang sama saja dengan membuang waktu. Kita harus tumbuh kembang lebih baik dari pohon pinus, lebih artistik dari lukisan Van Gogh. Dengan kata lain kita juga bisa menjadi alternatif bagi orang lain yang tidak mampu menikmati langit senja ketika sedang manis-manisnya.

Aku mau cerita sedikit tentang pengalamanku. Yaitu tentang apa yang terjadi pada saat itu. Yaitu tentang bagaimana caranya untuk mendapatkan hasil maksimal menggunakan jari telunjuk. Salah satu dari lima di lenganmu. Waktu itu aku sadar, ternyata jari telunjuk bisa digunakan untuk mendapatkan kamu. Kutunjuk kamu ketika sedang mencari sebuah rumah untuk aku pulang. Kita seperti sudah ditakdirkan untuk bersama. Dalam remang lampu kota. Dalam sejuk angin malam. Dalam satu tujuan, satu kesatuan, arah dan jawaban. Kau berhenti, setelah jariku menunjuk ngaceng dalam sepi.

Aku tidak pernah menyesal atas apa yang terjadi. Kita harus tetap menjaga kedaulatan dan kebersamaan demi mencapai tujuan yang ditetapkan oleh naluri. Kita adalah wujud dari simbiosis mutualisme. Saling melengkapi dan saling berbagi. Tidak perlu lagi menunggu waktu lama untuk berbuah. Arah angin yang tepat untuk berlayar ke horizon. Jari telunjuk telah melakukan tugasnya dengan sempurna. Kau begitu baik dan menyenangkan. Walau brewok dan warna kulitmu terlihat menyeramkan. Dalam sejuk malam, dalam lelah dan lapar, dalam angkutan perkotaan. Kita dipertemukan dalam suatu sistem bisnis perhubungan.

Wahai pengendali kereta besi. Jangan membuat kesal para pengemudi. Ugal-ugalan seperti kau kebanyakan minuman. Wahai pengendali hati. Jangan cemburu, karena setiap rindu tujuannya ke kamu.

Pithecantropus Marethius

Maret beberapa ratus juta detik lalu. Dia itu terbuat dari kuatnya rasa cinta. Dia menimbulkan haru bahagia. Dia terjun ke dunia setelah berbulan-bulan mendekam dipangkuan ibu. Entah berapa bibir yang mendarat di kedua pipinya. Di keningnya. Di bibir dan hidungnya juga. Semua terjadi karena rasa suka. Gemas dengan wujudnya. Yang sehabis mandi sore wangi oleh lumuran minyak telon dan bedak. Dia yang lahir untuk dikenal dengan kamu panggil sayang, si jelek, atau cinta.

Maret beberapa juta menit yang lalu. Dia mengenalmu. Memberikan warna lain dalam hidupmu. Mengingatkanmu bersamanya pada kenangan tempo dulu. Dia yang suka kejepit resleting waktu itu. Dia yang rajin ke dokter gigi pada minggu. Dia yang tidur sambil memegang pipi ibu. Dia yang berkata, “Aku ingin beli mobil buntung agar seluruh keluargaku keangkut”. Ah dia itu. Dia yang gemar ngemut makanan sampai umur sepuluh. Dia yang suka kamu rindu adalah dia yang pernah bilang rindu ke kamu.

Duhai maret. Bulan yang bagus untuk konsumsi nasi goreng sendirian. Nasinya digoreng, piringnya dimakan. Banyak khilaf yang belum dimaafkan. Banyak rindu yang belum dipertemukan. Ku tanya malam, dapatkah kau lihat perbedaan yang tak terungkapkan? Tapi mengapa kau tak berubah. Ada apa dengan anu?