Pithecantropus

Pithecantropus Njamoeikhlas

Nyamuknya ramai sekali. Bak di pasar pagi yang kebanjiran pembeli. Ditepuk sekali, nyamuknya mlengos melarikan diri. Ditepuk berkali-kali, seisi kampung geger, “Ada perayaan apa ini?”.

Nyamuk biadab. Membuat salah terka. Jangan kau hisap darahnya. Dia terlalu manis. Kamu bisa diabetes. Dia jangan diganggu. Sedikit darahnya tercucur, akan ku fogging kau sampai hancur. Berubahlah jadi vegetarian. Ada kangkung di meja makan. Silakan kau habiskan. Jangan dia. Aku tak rela walau dia sedang donor darah.

Nyamuk, apakah kamu dan vampire satu klan? Sudah berapa ratus juta liter darah yang kau telan? Malam ini, aku tahu dia sedang mengobatimu. Menyembuhkan letih dan luka. Semoga senang dan bahagia. Karena terkadang cinta tidak butuh pengakuan. Damailah disana. Aku sudah tentram dengan perasaanku sendiri.

Iklan

Pithecantropus Septemblues

Puan. Aku seharusnya menulis sajak cinta. Sajak yang sedari tadi dirangkai di kepala. Selesai boker, buyar semua. Bingung mau nulis apa. Kalah genting oleh urusan biologis manusia. Dalam remang lampu-lampu bolham, dalam malam di kaki gunung karang, daku menyapa puan yang hilang batang hidungnya. Tertelan mesin ATM, alat kosmetik dan sistematis hedonistik. Puan berjalan jauh, lebih jauh dari warung Kak Ombi. Puan berkata pergi, setelah bertemu monyet dalam mimpi.

September malas membahas hal-hal yang rumit. Sedikit berpikir keras otak langsung sakit. Sakitnya tuh dimana? Sakitnya tuh di sana-sini di dalam hariku. Pernahkah kamu adu dengkul dengan kuda? Atau pernahkah kau mencoba pahami tugas pokok sebuah kecoa? Kamu tentu tak akan pernah mengetahui semuanya. Sama halnya ketika aku menginginkanmu. Malam ini, atas nama rindu dan rimbunnya kasih sayang.

Pithecantropus Julgigos

Cuaca berubah menjadi dingin. Yang dulu hangat, mulai beku oleh angin. Arah mana yang mau kau tuju? Ketika dengkulmu berdarah, kakimu melepuh. Menggenggam erat harapan yang ingin ditempuh. Membeli obat sakit gigi pada jam sepuluh. Duhai malam, katakanlah, siapa disana yang suka minum teh manis ketika sore? Selain mas-mas yang lelah dipojokan warteg dan bau embe? Apakah kamu? Yang tadi mengenakan jaket dan berkata, “Aku tak mau cuaca mengubah suhu rindu. Dia mesti tetap hangat walau cuaca sedang sendu”.

Juli. Aku mau tidur dulu atau tidak itu bukan urusannya. Sebab itu juga aku tak pernah bisa mendapatkanmu dengan sederhana. Aku tersenyum manis ketika sore hari yang lalu mengenangnya. Mereka bilang padaku untuk mendapatkan kamu. Tapi aku rasa aku tidak bisa mencintaimu. Walaupun dipaksa untuk bersebelahan nyaman. Wujudmu kadang lonjong, kadang bundar, kadang serbuk putih. Tidak statis, dan bergantung pada kreasi orang farmasi. Kau memang yang aku cari. Tidak untuk selamanya, cuma saat sedang sakit gigi. Maaf kita beda jenis. Kau benda medis, aku anak manis.

Juli. Sialan. Niat mau curhat, malah jadi minum obat. Cintamu tak akan bisa menyembuhkan luka, kecuali dikecup Cinta Laura. Ubun-ubun jadi tumbuh beruban-uban. Cinta sudah mulai dimakan usia. Harus bijak menentukan pilihan. Mencari jawaban dalam sholat malam.

Pithecantropus Marethius

Maret beberapa ratus juta detik lalu. Dia itu terbuat dari kuatnya rasa cinta. Dia menimbulkan haru bahagia. Dia terjun ke dunia setelah berbulan-bulan mendekam dipangkuan ibu. Entah berapa bibir yang mendarat di kedua pipinya. Di keningnya. Di bibir dan hidungnya juga. Semua terjadi karena rasa suka. Gemas dengan wujudnya. Yang sehabis mandi sore wangi oleh lumuran minyak telon dan bedak. Dia yang lahir untuk dikenal dengan kamu panggil sayang, si jelek, atau cinta.

Maret beberapa juta menit yang lalu. Dia mengenalmu. Memberikan warna lain dalam hidupmu. Mengingatkanmu bersamanya pada kenangan tempo dulu. Dia yang suka kejepit resleting waktu itu. Dia yang rajin ke dokter gigi pada minggu. Dia yang tidur sambil memegang pipi ibu. Dia yang berkata, “Aku ingin beli mobil buntung agar seluruh keluargaku keangkut”. Ah dia itu. Dia yang gemar ngemut makanan sampai umur sepuluh. Dia yang suka kamu rindu adalah dia yang pernah bilang rindu ke kamu.

Duhai maret. Bulan yang bagus untuk konsumsi nasi goreng sendirian. Nasinya digoreng, piringnya dimakan. Banyak khilaf yang belum dimaafkan. Banyak rindu yang belum dipertemukan. Ku tanya malam, dapatkah kau lihat perbedaan yang tak terungkapkan? Tapi mengapa kau tak berubah. Ada apa dengan anu?

Pithecantropus Januaryon

Wahai Januari. Tolong sampaikan maaf pada November dan Desember kemarin aku belum menyapanya rutin. Seperti yang biasa. Biasa yang seperti kita habiskan dengan berkata-kata. Singkatnya, aku lupa. Lupa hingga 2 bulan terlewat begitu saja. Tanpa ada tegur manja, atau gelisah tak berdaya. Ingin hati berjumpa, namun apa daya momen terlintas begitu basah.

Januari. Tahun baru yang dipenuhi mercon berwarna-warni. Mirip koleksi sempak di dalam lemari. Warnanya banyak, modelnya segitiga sama sisi. Sempak yang melindungi jutaan manusia di bumi dari jahatnya udara dingin. Sempak tidak akan berguna jika kamu tidak punya kemaluan. Rasa malu pada sesama spesies dan juga tuhan.

Januari. Ah aku pusing jika harus menulis rindu. Banyak hal yang perlu dirunut selain kamu. Cinta bisa saja berubah. Namun rindu selalu membawaku pada hangat selimut dihari yang basah. Rindu akan kekal selama tidak ada perjumpaan yang mesra. 

Januari. Teringat masa kecil yang bugil. Mandi sore dibawah hujan setelah sepakbola yang dekil. Tiada lelah, tak takut sakit. Tetesan hujan di pancuran atap bagai air terjun niagara versi paralon. Membersihkan diri dari kuman dan mencuci sempak yang bolong.

Januari. Segitu saja. Demi awan, laut, pohon dan juga bakwan, aku ingin sempak kita berjajar dalam lemari yang sama.

Pithecantropus Octoblues

Oktober. Barusan aku putuskan untuk menyeduh jamu kuat. Jamu yang disimpan dalam lemari ukuran sedang. Sebagai pengganti medis yang kimiawi. Sebagai bukti cinta dalam negeri. Jamu kuat dianiaya cap nyonya minul. Ampuh mengatasi ketidakmampuan cinta yang cuma bermodal dengkul.

Oktober. Bulan sepuluh sebelum sebelas dan setelah sembilan. Menanak nasi pada sewaktu siang. Menghidangkan makanan untuk kasih yang kelaparan. Rindu saja tak akan cukup mengenyangkan. Melintas kenangan yang dijejer rapi. Memori denganmu mewarnai dunia lewat perbuatan mesum.

Oktober. Baik-baiklah kepada kami. Kami yang benjol dihantam hujan pikiran sedari September. Menjahit mimpi, memintal harapan. Hidup terasa miring sebelah ketika tidur salah bantal. Baik-baiklah kepada kami. Kami yang berdo’a agar Oktober ditutup dengan mesra.