Pithecantropus Burungius

Di bawah rimbunnya pohon pete tua, yang masih rajin berbuah, di halaman SD, melihat teman sedang memainkan burungnya. Dia memainkannya dengan seksama. Lalu dimandikan setelah puas fokus pada kegiatannya. Burungnya yang bagus menurutku. Walau ukurannya tak besar namun cukup menarik perhatian jika bulunya terlihat rapi. 

Burung temanku memang lucu. Lebih lucu dari humor kamu tentang perbedaan warna kulit yang rasis. Burungnya menggemaskan. Begitu pasti katamu jika jadi suka saat melihatnya. Serasa ingin kamu genggam dan elus dengan lembut. Dan aku pun ikut mainin burung juga. Berbarengan dengannya. Berduet tapi dengan gaya yang berbeda.

Oh burung… Kamu tak mungkin lepas. Kamu terikat kontrak dengan kami para lelaki yang suka memainkanmu. Eh juga perempuan yang mungkin turut menikmatimu. Disuatu hari, dibawah rimbun pepohonan, dalam kontes burung berkicau di perkampungan.

Pithecantropus Februarus

Februari. Dulu aku melihatnya bak mutiara dalam lumpur. Lama melebur, dia jadi tahi kucing diatas kasur. Cinta kabur, rindu dikubur. Baunya sampai Singapur? Tidak, cuma sampai nempel di dubur. Lama melamun akhirnya kutelan bubur. Enak, sewaktu sore yang dihabiskan dengan cara mendekam di dapur.

Februari. Lagi-lagi aku menulis dengan susah payah. Sambil tahan nafas sekuatnya. Sambil mengepul asap kretek sebagai salah satu bantuanku untuk meningkatkan kesejahteraan para petani tembakau Indonesia. Bulan yang teramat datar. Bulan yang semakin hambar. Tiada cinta di dada. Yang ada hanya tahi lalat yang dengan manisnya menghiasi dada. Dada. Katanya itu nama buah. 

Februari. Apakah aku ditakdirkan begini saja? Hidup santai dan gembira dikelilingi warna-warni lucu dan sendu hasil perbuatan lingkungan yang nyaman. Ditraktir makan-makan setiap minggu merayakan kejombloan si Firhan. Aku tak mau si Firhan. Aku ingin dia. Dia adalah penjahat yang diidam-idamkan untuk menjarah semua perasaan. Dia yang mengajak janjian agar bertemu di mimpi setiap malam. Aku adalah tipe protagonis pasrah yang siap teraniaya dengan bahagia olehnya.

Pithecantropus Statixis

Okelah. Disini listrik mati. Tak ada kekuatan yang mampu menyalakannya selain PLN itu sendiri. Dan tentu kuasa Tuhan tak akan mampu disaingi. Termasuk soal rezeki. Tidak hanya berwujud uang. Juga bisa berupa jodoh atau kesehatan.

Bagaimana aku tahu bahwa kamu makan bakwan 2 biji, hey Rifa’i ? Karena aku disampingmu Sore tadi. Minta dibayari. Sore yang cantik sehabis main Voli. Dada terasa pengap oleh nikotin jahat yang selalu kuhisap sebatang demi sebatang sebagai salah satu bentuk bantuanku pada pemerintah meningkatkan devisa negara.

Hari terus berganti. Aku meraba-raba apa yang telah aku lakukan sehari ini. Selain minum air, tak diduga aku juga makan nasi. Seperti biasanya kan? Tidak! Kali ini aku makan nasi uduk gratis. Itu memang nikmat. Tapi rasanya tak ada yang lebih lezat dari masakan seorang pasangan hati. Ah kamu.

Wajahmu makin lama makin menarik saja. Hasil terpaan efek kamera. Wajahku makin lama makin terlihat tua. Hasil terpaan usia. Direkam, diedit, sedemikian rupa. Sampai lupa wajah aslinya. Apa daya, tuntutan gaya hidup social media.

Apa kabarmu? Sedang apa kau disitu? Dengarlah ini suaraku. Yang datang dari hati dan juga pikiran. Campuran dari musik yang melankolis, balsem yang praktis, dan rindu yang statis. Semoga kamu dengar walau sekarang sedang nyuci piring di Atlantis.

Pithecantropus Julilovis

Juli dengarkan ini :

Ayah dan ibu menikah karena cinta. Kita hasil dari cinta mereka. Mengapa kau menginginkan yang lebih dari cinta?

Barang siapa yang mau denganmu, adalah ia yang suka koleksi barang kecuali cintamu. Barangkali. Cinta tak bisa digambarksn wujudnya kecuali cinta laura.
Sesungguhnya yang paling dibutuhkan oleh CINTA di dunia ini adalah ‘T’. Tanpanya, cuma jadi CINA. Lalu ada yg lebih sulit dari kisah percintaan. Yaitu kasih yang tak dicintakan.

Cinta tidak ada apa-apanya dibandingkan roti keju yang kau idamkan ketika lapar.

Pithecantropus Wordiatulisanah

Apa yang harus aku katakan tentang hutang? Itu cuma sebuah kata dari bahasa Indonesia asli. Berurusan dengan hal ekonomi. Berupa uang, barang, janji, atau si budi. Bukan sesuatu yang wanita kenakan dan suka dipreteli lelaki.

Kalau tidak punya uang disebut apa? Banyak disebut Bokek oleh orang Indonesia juga. Sebuah kata yang mengandung tiga huruf konsonan dan dua huruf vokal. Apa harus disebutkan huruf apa saja? Tidak. Repot. Karena kau sudah tahu huruf apa saja. Bokek kondisi saat manusia lemah dompet dan bukan sejenis binatang yang bersaudara dengan cicak di dinding.

Kamu itu apa? Kamu adalah sejenis manusia yang Tuhan ciptakan dengan sempurna. Lebih sempurna dari setan dan malaikat. Kamu tak perlu menjadi dia. Iya dia. Dia yang suka gelantungan di pohon dan main topeng juga. Kamu salah satu do’a yang di-aminkan sewaktu shalat.

Pithecantropus Frienzonus

Temanku. Temanku ternyata banyak. Mulai dari manusia, sampai mahluk lain spesies juga. Mereka punya banyak rasa. Banyak karya. Banyak gaya. Dan pula banyak yang pacaran sama tetangga. Aku menyayangi mereka. Sebagai teman. Tidak lebih. Kecuali teman tapi mesra. Lumayan.

Temanku. Kadang suka tersirat di benak, kenapa mereka ditakdirkan bertemu aku? Mengenalku. Meminjam uangku. Ini takdir yang keren menurutku. Termasuk bisa berteman dengan si Uud sewaktu sekolah dulu. Namanya pendek. Uud. Cuma itu. Jelas bukan singkatan peraturan negara. Dia seseorang yang kadang nama buku-bukunya ku namai dengan Uud Permatasari. Agar panjang maksudku. Walau dia lelaki. “Uud, semoga kau ingat bahwa dulu ada gambar Titit di mejamu. Yang tentu disuruh dihapus oleh Bu Ratu. Dan itu hasil karyamu”.

Temanku. Banyak rupanya. Ada yang matanya dua. Ada pula yang kakinya dua. Dan itu normal. Aku bahagia bisa mengenal mereka. Banyak warna. Ada yang jahat, ada yang baik. Manusiawilah. Termasuk si Eri. Bukan nama samaran. Ini bukan aib, melainkan prestasi membanggakan. Eri si Macan kampus yang memakan banyak korban. Adik-adik angkatan ada beberapa yang menjadi tawanan. Tapi kenapa ya Eri gak jadian sama Mang Jamid sang kepala Security? Padahal mereka terlihat serasi. Banyak kesamaan yang alami. Sama-sama lelaki. Dan semoga si Eri gak baca ini.

Temanku. Begitulah beberapa dari mereka. Semua punya khasnya sendiri. Mereka tetap keren dengan caranya sendiri. Iya lah, dengan siapapun aku bisa berteman. Tidak satu pilihan. Kecuali untuk urusan cinta dan pernikahan. Tipikal lelaki setia kan?

Teman. Apa kabar kalian? Semoga semua dalam lindungan Tuhan. Penuh cinta dan hidup menyenangkan.