Pithecantropus Apriliseries

April. Semua sudah diserap seperti yang tersirat. Disekap dan diucap hingga tersadap. Mobat-mabit hati ini diembat. Apakah lebih baik bila aku tetap menyuarakan namamu? Baiklah, aku habisi dulu mie instan sebelum menjamah tentang kamu. Tentang nama-nama yang sudah terlanjur menjadi rindu.

April. Kamu tiba seperti biasanya. Menggusur maret karena sudah keharusan. Dalam hisapan tembakau ini ada oksigen yang dibagi untuk kamu. Dalam isi dompet ini harusnya ada wajah kamu sebagai jimat pelindung hasrat laparku. Di tengah ramainya kota, aku bisa senang dubidubidudu. Di tengah ramainya kota, aku bisa bernyanyi shalalala. Tapi tunggu. Dalam kamar aku menemukanku yang sensitif. Sendiri dan menjadi konservatif. Dihajar pilu yang dubidupapapcuaptiwdidiwdidiw. Huff. Terkadang hidup ini terasa lebih sempit ketika kamu mengenakan kancut ukuran anak PAUD.

April. Apa yang lebih baik dari jus gratis pemberian si rahmat? Ternyata jawabnya adalah peluk kamu ketika dunia terasa sedang runtuh. Kamu. Maafkan, aku harus rindu. Kecuali sedang mules, aku harus boker dan kamu tahu itu. Jika banyak pikiran, rasanya hidup digrogoti waktu. Boker tak tenang, rindu pun jadi kelabu. Di April yang cantik, semua angan menjadi hal yang klasik untuk ketika idamkan cinta yang romantik.

Pithecantropus Marchongis

Dahulu kala, tidak lama-lama amat, tetapi cukup, telah turun ke dunia, seorang lelaki tampan mempesona. Buah hati karya kolaborasi ayah dan bundanya. Lelaki itu menangis yang disambut haru pada maret pagi di hari minggu. Dibubuhi nama dan do’a agar kelak menjadi anak yang berguna bagi siapa? Bagi semuanyalah.

Anak yang saban hari mandi air hujan di halaman rumah tanpa busana. Anak yang polos tanpa malu ketika onderdilnya dipamerkan pada hajat sunat. Anak yang giginya rontok karena cokelat. Anak yang tumbuh menjadi pria karena sudah dewasa. Itu aku, anak mereka. Bukan anak-anak, karena sekarang sudah tua. Terus bertambah usia, tergerus waktu dengan berbagai aneka cerita.

Maret, hujanmu masih menderu. Ibu-ibu kocar-kacir mengejar pakaian yang sedang dijemur. Hujan besar, hujan kecil, sama-sama hujan rindu. Kenangan berangsur muncul ketika hujan turun dengan makmur.

Maret, izinkan aku berkata-kata. Dengar semua getar doa. Merayakan suka cita dengan yang maha kuasa. Tidak mengajak si Nova karena dia sibuk mengurus anaknya. Aku saja. Biar aku saja. Cukup aku saja. Maret itu punyaku. Ada hari yang mesti dibubuhi rindu. Juga cinta yang harus segera ditempeli kamu.

Pithecantropus Februarus

Februari. Dulu aku melihatnya bak mutiara dalam lumpur. Lama melebur, dia jadi tahi kucing diatas kasur. Cinta kabur, rindu dikubur. Baunya sampai Singapur? Tidak, cuma sampai nempel di dubur. Lama melamun akhirnya kutelan bubur. Enak, sewaktu sore yang dihabiskan dengan cara mendekam di dapur.

Februari. Lagi-lagi aku menulis dengan susah payah. Sambil tahan nafas sekuatnya. Sambil mengepul asap kretek sebagai salah satu bantuanku untuk meningkatkan kesejahteraan para petani tembakau Indonesia. Bulan yang teramat datar. Bulan yang semakin hambar. Tiada cinta di dada. Yang ada hanya tahi lalat yang dengan manisnya menghiasi dada. Dada. Katanya itu nama buah. 

Februari. Apakah aku ditakdirkan begini saja? Hidup santai dan gembira dikelilingi warna-warni lucu dan sendu hasil perbuatan lingkungan yang nyaman. Ditraktir makan-makan setiap minggu merayakan kejombloan si Firhan. Aku tak mau si Firhan. Aku ingin dia. Dia adalah penjahat yang diidam-idamkan untuk menjarah semua perasaan. Dia yang mengajak janjian agar bertemu di mimpi setiap malam. Aku adalah tipe protagonis pasrah yang siap teraniaya dengan bahagia olehnya.

Pithecantropus Endingdongos

​Vintage Jazz music seperti sengaja dirancang agar lebih enak dinikmati ketika tengah malam. Sama, seperti rindu Kamu. Lebih berdenyut ketika sunyi. Dan mengidamkan tukang bakso lewat pada pukul 2 dini hari adalah sama dengan menginginkan peri datang menunggang Unicorn menyelamatkan dari bahaya ketika akan dibunuh penyihir nakal. Oke, inilah catatan akhir Desember. Catatan akhir 2016. 

11 bulan kemarin adalah waktu yg seperti biasanya dibuat menyenangkan sedemikian rupa. Ada sedihnya juga sih. Pokoknya lengkaplah. Bumbu rindu dan penyedap cinta juga ada. 11 bulan yang mengagumkan. Harus terus disyukuri walau banyak halang rintang dan kebahagiaan. Aku masih hidup sekarang. Masih makan nasi uduk. Dan masa lalu bagai bab pendahuluan. Tentangmu seperti halaman buku yang lupa aku batasi. Mengulang membaca dari awal. Lalu jadi hafal. Langsung merapikan diri untuk masa depan.

Beberapa bulan yang lalu adalah hal yang penuh kejutan. Aku ketemu cinta. Tapi cintanya keburu pergi. Kasian. Ada si Anang memutuskan untuk mirip dengan Reza Rahardian sebagai simbol pencitraan. Mengejutkan bukan? Si Ilham sih terkejut. Si Rahmat juga. Bapaknya, ngga. Beberapa momen manis dan pahit dalam hitungan bulan. Dapat dirasakan. Alhamdulillah normal. Sebagai mahluk sosial. Sebagai manusia bumi yang berkewarganegaraan, beradab dan berperasaan.

Masa depan itu hanya dalam satu hitungan detik. Satu detik ke depan adalah masa depan. Jangan disia-siakan dengan membuang kesempatan. Kenali diri. Apa yang sebenarnya yang kamu ingini. Jangan jadi penyesalan dikemudian hari. Sederhanakan pikiran. Jika rindu masih berdenyut dan cinta masih berdegup, jatuhkan dia pada pelukan. Jika dia enggan, maka “kasian deh lu” kalo kata si Firhan.

Desember sebentar lagi menggulung kalender dan berganti Januari. Sedang apa kamu disitu. Kemarilah. Aku ada uang 2000. Modal masa depan dengan kamu. Sisanya tergantung penghulu. Penghulunya, lupa belum bayar parkir. Parkirnya ternyata mahal. Mahal banget sampai cintanya juga dijual. Dijual pada orang berkantong tebal. Tebal dompetnya, setebal Alis matamu. Matamu berubah hijau. Hijau gunung, sawah dan ladang. Ladang ranjau darat. Darat, laut dan udara tahu jika aku menyukaimu. Menyukaimu ternyata lebih mudah dari berhenti merokok. Tamat. Tamat. Tamat.

Pithecantropus Painus

Lihatlah kamu sekarang. Lebih tangguh dari batu karang. Lebih enak dari Tahu Sumedang. Kamu mungkin memulainya dengan kurang. Namun semuanya kau lampaui dengan kekuatan beribu bintang. Semua pasti akan menjadi cemerlang. Seperti yang kau mau sayang. Kadang kau harus tersakiti agat tahu bagaimana caranya senang.

Hidup ini sederhana memang. Tanggalkan masa lalu, melangkah jauh ke masa mendatang. Jarang ragu untuk meminta kalau kau tak punya uang. Lihatlah sekitarmu, banyak cahaya benderang. Itu untuk kamu, bahwa kau tidak pernah sendirian melayang-layang.

Rasa sakit oleh pengkhiatan yang berujung kekecewaan, tidak ada apa-apanya dengan sakit Gigi yang menyerang ketika siang dan tetangga sebelah stel musik dengan kencang jika kamu bandingkan. Dan bagaimana aku tahu itu akan menjadi unsur pesakitan? Itu dari si Eki, nama seorang teman, ketika berbagi cerita diparkiran tempat makan.

Akan percuma ketika kau jauh-jauh menimba ilmu, tapi sumur sendiri tak pernah dapat belaian. Ini tentang kamu, tentang dia, tentang aku, tentang siapapun yang merasa dirinya adalah orang. Bahwa, kecewa, tidak akan ada ujungnya kecuali kamu merelakan. Sekian. Semoga kamu tak paham. Amin.

Pithecantropus Statixis

Okelah. Disini listrik mati. Tak ada kekuatan yang mampu menyalakannya selain PLN itu sendiri. Dan tentu kuasa Tuhan tak akan mampu disaingi. Termasuk soal rezeki. Tidak hanya berwujud uang. Juga bisa berupa jodoh atau kesehatan.

Bagaimana aku tahu bahwa kamu makan bakwan 2 biji, hey Rifa’i ? Karena aku disampingmu Sore tadi. Minta dibayari. Sore yang cantik sehabis main Voli. Dada terasa pengap oleh nikotin jahat yang selalu kuhisap sebatang demi sebatang sebagai salah satu bentuk bantuanku pada pemerintah meningkatkan devisa negara.

Hari terus berganti. Aku meraba-raba apa yang telah aku lakukan sehari ini. Selain minum air, tak diduga aku juga makan nasi. Seperti biasanya kan? Tidak! Kali ini aku makan nasi uduk gratis. Itu memang nikmat. Tapi rasanya tak ada yang lebih lezat dari masakan seorang pasangan hati. Ah kamu.

Wajahmu makin lama makin menarik saja. Hasil terpaan efek kamera. Wajahku makin lama makin terlihat tua. Hasil terpaan usia. Direkam, diedit, sedemikian rupa. Sampai lupa wajah aslinya. Apa daya, tuntutan gaya hidup social media.

Apa kabarmu? Sedang apa kau disitu? Dengarlah ini suaraku. Yang datang dari hati dan juga pikiran. Campuran dari musik yang melankolis, balsem yang praktis, dan rindu yang statis. Semoga kamu dengar walau sekarang sedang nyuci piring di Atlantis.