Pantun

Pithecantropus Rizkipaus

Dulu aku gelap. Dulu aku beku. Dulu aku gagap. Dulu aku mati kutu. Bagai tahi ayam di atas gardu listrik yang lambat laun mengering terpapar waktu. Semua berjalan sesuai tuntunan zaman. Melampaui batas kesadaranku yang imut. Siapa aku sekarang? Dimana aku sekarang? Banyak kenangan melintas kala hujan, kopi dan musik mulai mendayu. Sekarang aku tangguh. Sekeras betis si Erik, bek kanan andalan Rajawali Club. Jangan macam-macam padaku. Walau rinduku cuma satu macam yaitu ke kamu. Kamu yang meneduhkan hati ketika hujaman pikiran menderu-deru.

Kelam yang dulu hinggap, semoga tak akan lagi mendarat. Berkarat-karat. Hih amit-amit. Aku tak mau lagi jadi bagian yang sempit. Aku sudah berubah. Banyak berubah. Kadang jadi serigala, ular kobra, lemari es atau juga seseorang yang lebih berwarna dari langit senja. Dekaplah aku demi cinta yang lebih mesra dari kisah Dilan dan Milea.

Iklan

Pithecantropus Takdirus

Aku tak tahu kemana takdir akan membawaku. Tuhan tidak pernah memberitahu. Entah pergi ke gunung, hutan, laut, entahlah kemana itu. Mungkin ke Papua, Jogja, Jakarta, atau Cilengkeng. Ke dalam sumur, ke jurang, ke rumah si Ilham, atau lapangan sepak bola. Kemana pun, asal ada kamu, pasti bagus.

Pithecantropus Januaryon

Wahai Januari. Tolong sampaikan maaf pada November dan Desember kemarin aku belum menyapanya rutin. Seperti yang biasa. Biasa yang seperti kita habiskan dengan berkata-kata. Singkatnya, aku lupa. Lupa hingga 2 bulan terlewat begitu saja. Tanpa ada tegur manja, atau gelisah tak berdaya. Ingin hati berjumpa, namun apa daya momen terlintas begitu basah.

Januari. Tahun baru yang dipenuhi mercon berwarna-warni. Mirip koleksi sempak di dalam lemari. Warnanya banyak, modelnya segitiga sama sisi. Sempak yang melindungi jutaan manusia di bumi dari jahatnya udara dingin. Sempak tidak akan berguna jika kamu tidak punya kemaluan. Rasa malu pada sesama spesies dan juga tuhan.

Januari. Ah aku pusing jika harus menulis rindu. Banyak hal yang perlu dirunut selain kamu. Cinta bisa saja berubah. Namun rindu selalu membawaku pada hangat selimut dihari yang basah. Rindu akan kekal selama tidak ada perjumpaan yang mesra. 

Januari. Teringat masa kecil yang bugil. Mandi sore dibawah hujan setelah sepakbola yang dekil. Tiada lelah, tak takut sakit. Tetesan hujan di pancuran atap bagai air terjun niagara versi paralon. Membersihkan diri dari kuman dan mencuci sempak yang bolong.

Januari. Segitu saja. Demi awan, laut, pohon dan juga bakwan, aku ingin sempak kita berjajar dalam lemari yang sama.

Pithecantropus Octoblues

Oktober. Barusan aku putuskan untuk menyeduh jamu kuat. Jamu yang disimpan dalam lemari ukuran sedang. Sebagai pengganti medis yang kimiawi. Sebagai bukti cinta dalam negeri. Jamu kuat dianiaya cap nyonya minul. Ampuh mengatasi ketidakmampuan cinta yang cuma bermodal dengkul.

Oktober. Bulan sepuluh sebelum sebelas dan setelah sembilan. Menanak nasi pada sewaktu siang. Menghidangkan makanan untuk kasih yang kelaparan. Rindu saja tak akan cukup mengenyangkan. Melintas kenangan yang dijejer rapi. Memori denganmu mewarnai dunia lewat perbuatan mesum.

Oktober. Baik-baiklah kepada kami. Kami yang benjol dihantam hujan pikiran sedari September. Menjahit mimpi, memintal harapan. Hidup terasa miring sebelah ketika tidur salah bantal. Baik-baiklah kepada kami. Kami yang berdo’a agar Oktober ditutup dengan mesra.

Pithecantropus Boringus

Ketika terasa menyebalkan. Ketika semua terasa memuakkan. Dan ketika tiada satu pun yang bisa diandalkan. Lebih baik kuputuskan untuk masak nasi goreng. Nasi yang sudah ditanak lalu digoreng. Pakai bumbu dan kecap agar warna berubah agak cokelat. Salah satu warna yang kusuka ketika kamu tidak membuat warna yang cantik dalam suramnya hari yang berat.

Maksud hati ingin menulis rindu yang mengikis. Maksud hati ingin ceritakan cinta yang manis. Namun apa daya, perasaan dan logika seperti tahi ayam dan kue lapis. Yang satu ingin meringis, yang satu kukuh realistis. 

Angin berubah dingin. Layar terkembang menuntun jalan ke pelabuhan. Banyak hal yang diingin. Dayung bergerak, perahu menabrak tebing karang. Cinta, sudahlah aku menyerah saja. Rindumu ternyata tak sebanyak panggilan kerja.
Lampu temaram di kampung gunung karang. Cahayanya redup, bagai bulan terhalang awan. Matamu sudah berbeda pandangan. Mataku sudah berada di perbatasan.

Pithecantropus Sambalicus

Saat aku melihatmu, aku yakin, kamu adalah sesuatu dari sesuatu yang membuat sesuatu. Wujudmu mungkin biasa saja. Warnamu biasa saja. Rasamu pun satu rasa. Biasa saja. Walau digerus, ditumbuk, digiling kejamnya waktu. Rasamu tetap sama. Warnamu tetap sama. Wujudmu sama saja. Sama seperti biasa. Menggoda, menaikan selera, dan amat sangat patut diidamkan ketika beku.

Di lain kesempatan, aku menemukanmu berubah. Bermacam wujud, warna, dan bahkan rasa. Perasaan ragu mengalir dalam benak, seraya bertanya, “Apakah itu dia?… Kenapa tak serupa dengan yang dikira?”. Dalam beberapa momen, aku mungkin melupakannya. Namun menemukanku sendiri. Aku sendiri. Yang sepi. Tanpa variasi. Tanpa modifikasi. Ciptaan orisinil situasi, pandangan dan jangkauan yang stagnasi. Lalu aku mencarimu. Maaf, karena harus begitu kalau rindu. Kamu semacam obat mujarab ketika diare mengganggu.

Akhirnya. Dan ternyata. Kamu tidak biasa saja. Tidak sama saja. Banyak wujud, warna dan rasa, karena waktu membuat berubah. Kamu selalu menggoda, menaikan selera, dan amat sangat layak untuk dicinta pula. Pelan-pelan aku mengerti. Kamu punya strata dan komposisi. Perbedaan level diantara kita hanya dipisahkan oleh beberapa jumlah biji. Sambal.., aku mungkin maag, tapi aku akan terus coba menerimamu sebagai pelengkap hidupku hingga masa depan nanti.