Pantun

Pithecantropus Ankothea

Apabila kamu melihat bahwa ada beberapa jenis tumbuhan yang bisa kita gunakan untuk menyedapkan sup ikan lele, dan digunakan oleh orang tua yang tidak pernah bisa mencintaimu karena flu, maka sesungguhnya mencari tanaman yang tumbuh di daerah tersebut adalah hal yang sama saja dengan membuang waktu. Kita harus tumbuh kembang lebih baik dari pohon pinus, lebih artistik dari lukisan Van Gogh. Dengan kata lain kita juga bisa menjadi alternatif bagi orang lain yang tidak mampu menikmati langit senja ketika sedang manis-manisnya.

Aku mau cerita sedikit tentang pengalamanku. Yaitu tentang apa yang terjadi pada saat itu. Yaitu tentang bagaimana caranya untuk mendapatkan hasil maksimal menggunakan jari telunjuk. Salah satu dari lima di lenganmu. Waktu itu aku sadar, ternyata jari telunjuk bisa digunakan untuk mendapatkan kamu. Kutunjuk kamu ketika sedang mencari sebuah rumah untuk aku pulang. Kita seperti sudah ditakdirkan untuk bersama. Dalam remang lampu kota. Dalam sejuk angin malam. Dalam satu tujuan, satu kesatuan, arah dan jawaban. Kau berhenti, setelah jariku menunjuk ngaceng dalam sepi.

Aku tidak pernah menyesal atas apa yang terjadi. Kita harus tetap menjaga kedaulatan dan kebersamaan demi mencapai tujuan yang ditetapkan oleh naluri. Kita adalah wujud dari simbiosis mutualisme. Saling melengkapi dan saling berbagi. Tidak perlu lagi menunggu waktu lama untuk berbuah. Arah angin yang tepat untuk berlayar ke horizon. Jari telunjuk telah melakukan tugasnya dengan sempurna. Kau begitu baik dan menyenangkan. Walau brewok dan warna kulitmu terlihat menyeramkan. Dalam sejuk malam, dalam lelah dan lapar, dalam angkutan perkotaan. Kita dipertemukan dalam suatu sistem bisnis perhubungan.

Wahai pengendali kereta besi. Jangan membuat kesal para pengemudi. Ugal-ugalan seperti kau kebanyakan minuman. Wahai pengendali hati. Jangan cemburu, karena setiap rindu tujuannya ke kamu.

Iklan

Pithecantropus Aprilonea

Nyamuk itu meminum darahnya sendiri. Darah yang sebenarnya dia dapat dari orang yang sore tadi makan geplak 2 biji. Nyamuk itu mabuk. Lunglai lesu terjerembab nyusruk. Ternyata darahnya mengandung racun. Zat yang membuat dirinya rabun. Tidak bisa menerima kebenaran. Tidak bisa merasakan kenyataan. Semua menjadi buram dan menjadi banyak perkiraan. Kasihan dia, terbenam oleh ulah alih halonya sendiri.

April. Bulan belum montok. Seonggok wanita yang posting goyangannya di tik-tok. Bercelana sependek-pendeknya. Berdansa sensual merem melek mata dan genit bibir nakalnya. Terjebak dalam realita dunia maya. Tergeletak di dunia ayam.

April. Tindakan dan hasil mungkin kadang tak sesuai harapan. Keinginan yang belum terpuaskan. Semua didekap tenang oleh cinta yang amat menentramkan. Dalam kecup manis, dalam tawa dan tangis. Pada dasarnya, kita adalah nyamuk-nyamuk yang perlu banyak istighfar dan ikhtiar. Agar semua menjadi besar.

Pithecantropus Rizkipaus

Dulu aku gelap. Dulu aku beku. Dulu aku gagap. Dulu aku mati kutu. Bagai tahi ayam di atas gardu listrik yang lambat laun mengering terpapar waktu. Semua berjalan sesuai tuntunan zaman. Melampaui batas kesadaranku yang imut. Siapa aku sekarang? Dimana aku sekarang? Banyak kenangan melintas kala hujan, kopi dan musik mulai mendayu. Sekarang aku tangguh. Sekeras betis si Erik, bek kanan andalan Rajawali Club. Jangan macam-macam padaku. Walau rinduku cuma satu macam yaitu ke kamu. Kamu yang meneduhkan hati ketika hujaman pikiran menderu-deru.

Kelam yang dulu hinggap, semoga tak akan lagi mendarat. Berkarat-karat. Hih amit-amit. Aku tak mau lagi jadi bagian yang sempit. Aku sudah berubah. Banyak berubah. Kadang jadi serigala, ular kobra, lemari es atau juga seseorang yang lebih berwarna dari langit senja. Dekaplah aku demi cinta yang lebih mesra dari kisah Dilan dan Milea.

Pithecantropus Takdirus

Aku tak tahu kemana takdir akan membawaku. Tuhan tidak pernah memberitahu. Entah pergi ke gunung, hutan, laut, entahlah kemana itu. Mungkin ke Papua, Jogja, Jakarta, atau Cilengkeng. Ke dalam sumur, ke jurang, ke rumah si Ilham, atau lapangan sepak bola. Kemana pun, asal ada kamu, pasti bagus.

Pithecantropus Januaryon

Wahai Januari. Tolong sampaikan maaf pada November dan Desember kemarin aku belum menyapanya rutin. Seperti yang biasa. Biasa yang seperti kita habiskan dengan berkata-kata. Singkatnya, aku lupa. Lupa hingga 2 bulan terlewat begitu saja. Tanpa ada tegur manja, atau gelisah tak berdaya. Ingin hati berjumpa, namun apa daya momen terlintas begitu basah.

Januari. Tahun baru yang dipenuhi mercon berwarna-warni. Mirip koleksi sempak di dalam lemari. Warnanya banyak, modelnya segitiga sama sisi. Sempak yang melindungi jutaan manusia di bumi dari jahatnya udara dingin. Sempak tidak akan berguna jika kamu tidak punya kemaluan. Rasa malu pada sesama spesies dan juga tuhan.

Januari. Ah aku pusing jika harus menulis rindu. Banyak hal yang perlu dirunut selain kamu. Cinta bisa saja berubah. Namun rindu selalu membawaku pada hangat selimut dihari yang basah. Rindu akan kekal selama tidak ada perjumpaan yang mesra. 

Januari. Teringat masa kecil yang bugil. Mandi sore dibawah hujan setelah sepakbola yang dekil. Tiada lelah, tak takut sakit. Tetesan hujan di pancuran atap bagai air terjun niagara versi paralon. Membersihkan diri dari kuman dan mencuci sempak yang bolong.

Januari. Segitu saja. Demi awan, laut, pohon dan juga bakwan, aku ingin sempak kita berjajar dalam lemari yang sama.

Pithecantropus Octoblues

Oktober. Barusan aku putuskan untuk menyeduh jamu kuat. Jamu yang disimpan dalam lemari ukuran sedang. Sebagai pengganti medis yang kimiawi. Sebagai bukti cinta dalam negeri. Jamu kuat dianiaya cap nyonya minul. Ampuh mengatasi ketidakmampuan cinta yang cuma bermodal dengkul.

Oktober. Bulan sepuluh sebelum sebelas dan setelah sembilan. Menanak nasi pada sewaktu siang. Menghidangkan makanan untuk kasih yang kelaparan. Rindu saja tak akan cukup mengenyangkan. Melintas kenangan yang dijejer rapi. Memori denganmu mewarnai dunia lewat perbuatan mesum.

Oktober. Baik-baiklah kepada kami. Kami yang benjol dihantam hujan pikiran sedari September. Menjahit mimpi, memintal harapan. Hidup terasa miring sebelah ketika tidur salah bantal. Baik-baiklah kepada kami. Kami yang berdo’a agar Oktober ditutup dengan mesra.