Musik

Pithecantropus Octoblues

Oktober. Barusan aku putuskan untuk menyeduh jamu kuat. Jamu yang disimpan dalam lemari ukuran sedang. Sebagai pengganti medis yang kimiawi. Sebagai bukti cinta dalam negeri. Jamu kuat dianiaya cap nyonya minul. Ampuh mengatasi ketidakmampuan cinta yang cuma bermodal dengkul.

Oktober. Bulan sepuluh sebelum sebelas dan setelah sembilan. Menanak nasi pada sewaktu siang. Menghidangkan makanan untuk kasih yang kelaparan. Rindu saja tak akan cukup mengenyangkan. Melintas kenangan yang dijejer rapi. Memori denganmu mewarnai dunia lewat perbuatan mesum.

Oktober. Baik-baiklah kepada kami. Kami yang benjol dihantam hujan pikiran sedari September. Menjahit mimpi, memintal harapan. Hidup terasa miring sebelah ketika tidur salah bantal. Baik-baiklah kepada kami. Kami yang berdo’a agar Oktober ditutup dengan mesra.

Iklan

Pithecantropus Sambalicus

Saat aku melihatmu, aku yakin, kamu adalah sesuatu dari sesuatu yang membuat sesuatu. Wujudmu mungkin biasa saja. Warnamu biasa saja. Rasamu pun satu rasa. Biasa saja. Walau digerus, ditumbuk, digiling kejamnya waktu. Rasamu tetap sama. Warnamu tetap sama. Wujudmu sama saja. Sama seperti biasa. Menggoda, menaikan selera, dan amat sangat patut diidamkan ketika beku.

Di lain kesempatan, aku menemukanmu berubah. Bermacam wujud, warna, dan bahkan rasa. Perasaan ragu mengalir dalam benak, seraya bertanya, “Apakah itu dia?… Kenapa tak serupa dengan yang dikira?”. Dalam beberapa momen, aku mungkin melupakannya. Namun menemukanku sendiri. Aku sendiri. Yang sepi. Tanpa variasi. Tanpa modifikasi. Ciptaan orisinil situasi, pandangan dan jangkauan yang stagnasi. Lalu aku mencarimu. Maaf, karena harus begitu kalau rindu. Kamu semacam obat mujarab ketika diare mengganggu.

Akhirnya. Dan ternyata. Kamu tidak biasa saja. Tidak sama saja. Banyak wujud, warna dan rasa, karena waktu membuat berubah. Kamu selalu menggoda, menaikan selera, dan amat sangat layak untuk dicinta pula. Pelan-pelan aku mengerti. Kamu punya strata dan komposisi. Perbedaan level diantara kita hanya dipisahkan oleh beberapa jumlah biji. Sambal.., aku mungkin maag, tapi aku akan terus coba menerimamu sebagai pelengkap hidupku hingga masa depan nanti.

Pithecantropus Burungius

Di bawah rimbunnya pohon pete tua, yang masih rajin berbuah, di halaman SD, melihat teman sedang memainkan burungnya. Dia memainkannya dengan seksama. Lalu dimandikan setelah puas fokus pada kegiatannya. Burungnya yang bagus menurutku. Walau ukurannya tak besar namun cukup menarik perhatian jika bulunya terlihat rapi. 

Burung temanku memang lucu. Lebih lucu dari humor kamu tentang perbedaan warna kulit yang rasis. Burungnya menggemaskan. Begitu pasti katamu jika jadi suka saat melihatnya. Serasa ingin kamu genggam dan elus dengan lembut. Dan aku pun ikut mainin burung juga. Berbarengan dengannya. Berduet tapi dengan gaya yang berbeda.

Oh burung… Kamu tak mungkin lepas. Kamu terikat kontrak dengan kami para lelaki yang suka memainkanmu. Eh juga perempuan yang mungkin turut menikmatimu. Disuatu hari, dibawah rimbun pepohonan, dalam kontes burung berkicau di perkampungan.

Pithecantropus L’Socialmedianus

Setiap hari dan sebelum tidur, dia bergumul dengan akunnya. Menapaki kisah fakta & fiktif yang jor-joran digenjot para penghuni negara maya.

Banyak denyut disana. Dari budaya, politik agama, atau drama cinta. Semua diserat dalam akun yg memikat. 

Jika sudah begitu, waktu dzuhur pun bisa lewat, simpati menjadi langka, empati entah bagaimana. Didera waktu, ditundukan alat.

Semua rasa bisa dinikmati tanpa ada rahasia. Menjual diri atau mencari-cari hati pun ada. Tapi kami butuh yang lebih nyata. Lebih bercahaya. Tapi semua berhak mengurus halamannya.

Ditanam, dipupuk, disiram, dan memanen buah-buah kata. Delusinasi, eksplorasi, hingga ekspektasi, terpapar rapi.

Jangan salahkan teknologi. Teknologi tak akan pernah mati. Teknologi membantu kamu yang sedang sepi.

Aku rindu purba. Rindu yang lebih meletup ketika sukar berjumpa. Rindu yang hanya terobati dengan berpeluk atau bertatap mesra.

Pithecantropus Singleanus

Matahari. Kita jarang bertegur sapa. Kita jarang bertatap cahaya. Ketika kau meninggi, aku baru saja membuka mata. Entah berapa masa hal itu terlewat begitu saja. Entah berapa banyak rezekiku yang dipatok ayam. Namun tak masalah, karena nanti ayamnya tinggal ku makan. Sehingga rezekinya menyatu dengan tubuhku secara maksimal. Matahari meredup ketika senja. Saat itu, sore, di warung teh Uri, banyak kalimat di kepala. Menanyakan cinta ada dimana. Apakah cinta hanya milik si Rangga?

Banyak yang bilang single itu menyenangkan. Bisa dekati dia, dia, dia, dia dan dia, kecuali orangnya sudah tak bernafas. Menjadi single itu tidak semudah mengedit profile picture akun social media. Banyak halangan dan juga rintangan yang menjadi masalah dan beban pikiran. Single, berkelana setiap hari demi mendapat cinta suci. Single yang sering dibanggakan dengan berkata “i’m single and very happy” adalah single yang menutup lukanya sendiri dengan memanipulasi persepsi. Mengenai hal itu, aku sendiri sangat amat yakin bahwa single adalah bahasa Inggris.

Menatap langit. Hari sudah benderang. Dejavu. Bangun siang seperti kemarin. Matahari mulai menatap dengan garangnya. Menghidupi semua mahluk bumi. Memberi kesempatan bagi jutaan single di dunia untuk menemukan cinta abadinya. Cahaya cinta ciptaan Yang Maha Esa. Diseberang laut, diatas gunung, atau disamping pak kusir yang sedang bekerja, cinta ada dimana-mana. Kenapa kita masih sendiri saja? Apakah seharusnya mata hati lebih terbuka? Lebih terbuka dari kaum yang pamer belahan dada di facebooknya. Oh Tuhan bimbinglah kami kesana. Merasakan kembali denyut cinta yang berdegup di dada. Single tak selamanya bahagia. Single tak bahagia selamanya. I’m single and i’m very worry.

Pithecantropus Februarus

Februari. Dulu aku melihatnya bak mutiara dalam lumpur. Lama melebur, dia jadi tahi kucing diatas kasur. Cinta kabur, rindu dikubur. Baunya sampai Singapur? Tidak, cuma sampai nempel di dubur. Lama melamun akhirnya kutelan bubur. Enak, sewaktu sore yang dihabiskan dengan cara mendekam di dapur.

Februari. Lagi-lagi aku menulis dengan susah payah. Sambil tahan nafas sekuatnya. Sambil mengepul asap kretek sebagai salah satu bantuanku untuk meningkatkan kesejahteraan para petani tembakau Indonesia. Bulan yang teramat datar. Bulan yang semakin hambar. Tiada cinta di dada. Yang ada hanya tahi lalat yang dengan manisnya menghiasi dada. Dada. Katanya itu nama buah. 

Februari. Apakah aku ditakdirkan begini saja? Hidup santai dan gembira dikelilingi warna-warni lucu dan sendu hasil perbuatan lingkungan yang nyaman. Ditraktir makan-makan setiap minggu merayakan kejombloan si Firhan. Aku tak mau si Firhan. Aku ingin dia. Dia adalah penjahat yang diidam-idamkan untuk menjarah semua perasaan. Dia yang mengajak janjian agar bertemu di mimpi setiap malam. Aku adalah tipe protagonis pasrah yang siap teraniaya dengan bahagia olehnya.