Lucu

Pithecantropus Hiatus

Sementara blog ini bingung mau nulis apa. Banyak yang ingin diucap, ternyata susah untuk dicatat. Sampai jumpa di hari lain. Diwaktu kita saling berbagi rindu, kasih dan cinta. Diwaktu kita saling mengerti satu sama lain.

Pithecantropus Aprimeiramadanus

Aku marah pada batu. Ku hujat, ku caci, dan ku ludahi, dia tetap bisu. Batunya tetap membatu. Mati kutu. Bagai keteguhan hatimu. Yang tak goyah walau ribuan lelaki klimis meminta darahmu. Kau memilihku. Seseorang yang senang dengan makan sorabi sewaktu subuh.

April terlewat dengan lupa. Burung-burung terbang dalam udara yang cerah. Satu burung hinggap di celana. Mengeram menunggu di deportasi ke sarangnya. Menanti kasih membelai mesra.

Mei dan ramadan sedang berjalan. Di akhir ramadan, orang itu gugup menjelang adzan. Tentang apa yang nanti akan dia hidangkan. Tumis bolham atau sop kaki meja sambal belacan? Semoga semuanya kenyang dan senang, walau yang disuguhkan hanya ketiadaan.

Pithecantropus Januarich

Hari ini teduh, esok juga begitu. Bersembunyi dari matahari. Mengeram kata agar bisa membentuk puisi. Rangkaian kalimat yang siap dia bubuhkan di nasi goreng, pada perayaan pilu dan rindu. Hati ini teduh, esok juga begitu.

Demi jamur di kulitmu, “apa benar tidak ada namaku dalam daftar malam rindu?”… Katakan bila tak ada. Maka karya sastra ini tak perlu dibuat semanis madu. Cukup dibuat kisut. Agar setiap kau baca, kulitmu jadi mengkerut. Cintamu jadi semaput.

Ya, aku tahu. Ini Januari. Seperti lagu Glenn Fredly. Atau mungkin musisi lain. Bulan awal rencana besar. Titik tumpu untuk split yang lebih lebar. Lihatlah itu hujan. Hujan yang sama kau idamkan ketika kepanasan. Hujan yang sama ketika banjir kenangan. Hujanlah dengan damai. Cinta tak perlu dihujan-hujankan.

Pithecantropus Bagaipus

BAGAI

Bagai abu tanpa api. Bagai rindu tak bersemi. Bagai kuda tanpa pedati. Bagai aku tak peduli.

Bagai muram tak berdaya. Bagai selimut tak bernyawa. Bagai cinta tanpa asmara.Bagai kamu tanpa koma.

Bagai sempak tanpa bolong. Bagai cinta tanpa bohong. Bagai kamu tanpa cemong. Bagai motor tanpa bodong.

Bagai kasih tanpa kisah. Bagai geli tanpa basah. Bagai gerak tak berpindah. Bagai kita tak berpisah.

Pithecantropus Desemberial

Daun jambu berguguran disapu angin kencang di bulan desember. Langit menjadi gelap mendung. Ibu-ibu melesat bergegas mengangkat jemuran. Ayam-ayam pun masuk kandang. Hujan akan datang. Hujan akan datang. Hujan akan datang. Pengumuman berulang dari sang pawang. Siap-siap grasak-grusuk di ranjang. Siap-siap banjir kenangan.

Sore itu. Merebahkan punggung yang mulai ngilu. Muka yang sudah kusut. Dan baju yang sudah bau. Menggarang cinta yang hampir membeku. Dengan cokelat hangat dan kue bolu. Itu cukup? Cukuplah untuk mencukupi kebutuhan mental seorang perindu.

Desember. Apa yang dilakukan gajah ketika terkena flu? Menaklukkanmu tak seempuk makanan bayi.

Pithecantropus Noviralistus

November. Semua direkam dengan sempurna. Semua terekam dengan semprulnya. Semua menunduk pada gadget-nya. Dihadiahi notifikasi. Dirantai media sosial. Ada hal menarik, seorang manusia hobi menjilat pantat sapi!

Seketika suara menjadi riuh. Peduli setan walau negara sedang rusuh. Ramai oleh kabar berita waktu subuh. Seseorang terciduk sedang menjilat pantat sapi karena hobi. Ritual pribadi. Agar dagangan jadi laris manis.

November. Fakta atau fiksi. Sudah jadi menu makanan setiap hari. Semua jadi korban rasa penasaran. Semua menjadi besar, di negeri pemuja viral…

November. Semua belum selesai dicatat, kosa kata jadi bergetar karena khilaf. Ya sudahlah. Rindu pun telah mendarat di rimbanya sendiri.

November. Selamatkanlah kami dari minggu siang tak berkegiatan selain kasak kusuk di ranjang.