Lucu

Pithecantropus Januarich

Hari ini teduh, esok juga begitu. Bersembunyi dari matahari. Mengeram kata agar bisa membentuk puisi. Rangkaian kalimat yang siap dia bubuhkan di nasi goreng, pada perayaan pilu dan rindu. Hati ini teduh, esok juga begitu.

Demi jamur di kulitmu, “apa benar tidak ada namaku dalam daftar malam rindu?”… Katakan bila tak ada. Maka karya sastra ini tak perlu dibuat semanis madu. Cukup dibuat kisut. Agar setiap kau baca, kulitmu jadi mengkerut. Cintamu jadi semaput.

Ya, aku tahu. Ini Januari. Seperti lagu Glenn Fredly. Atau mungkin musisi lain. Bulan awal rencana besar. Titik tumpu untuk split yang lebih lebar. Lihatlah itu hujan. Hujan yang sama kau idamkan ketika kepanasan. Hujan yang sama ketika banjir kenangan. Hujanlah dengan damai. Cinta tak perlu dihujan-hujankan.

Iklan

Pithecantropus Bagaipus

BAGAI

Bagai abu tanpa api. Bagai rindu tak bersemi. Bagai kuda tanpa pedati. Bagai aku tak peduli.

Bagai muram tak berdaya. Bagai selimut tak bernyawa. Bagai cinta tanpa asmara.Bagai kamu tanpa koma.

Bagai sempak tanpa bolong. Bagai cinta tanpa bohong. Bagai kamu tanpa cemong. Bagai motor tanpa bodong.

Bagai kasih tanpa kisah. Bagai geli tanpa basah. Bagai gerak tak berpindah. Bagai kita tak berpisah.

Pithecantropus Desemberial

Daun jambu berguguran disapu angin kencang di bulan desember. Langit menjadi gelap mendung. Ibu-ibu melesat bergegas mengangkat jemuran. Ayam-ayam pun masuk kandang. Hujan akan datang. Hujan akan datang. Hujan akan datang. Pengumuman berulang dari sang pawang. Siap-siap grasak-grusuk di ranjang. Siap-siap banjir kenangan.

Sore itu. Merebahkan punggung yang mulai ngilu. Muka yang sudah kusut. Dan baju yang sudah bau. Menggarang cinta yang hampir membeku. Dengan cokelat hangat dan kue bolu. Itu cukup? Cukuplah untuk mencukupi kebutuhan mental seorang perindu.

Desember. Apa yang dilakukan gajah ketika terkena flu? Menaklukkanmu tak seempuk makanan bayi.

Pithecantropus Noviralistus

November. Semua direkam dengan sempurna. Semua terekam dengan semprulnya. Semua menunduk pada gadget-nya. Dihadiahi notifikasi. Dirantai media sosial. Ada hal menarik, seorang manusia hobi menjilat pantat sapi!

Seketika suara menjadi riuh. Peduli setan walau negara sedang rusuh. Ramai oleh kabar berita waktu subuh. Seseorang terciduk sedang menjilat pantat sapi karena hobi. Ritual pribadi. Agar dagangan jadi laris manis.

November. Fakta atau fiksi. Sudah jadi menu makanan setiap hari. Semua jadi korban rasa penasaran. Semua menjadi besar, di negeri pemuja viral…

November. Semua belum selesai dicatat, kosa kata jadi bergetar karena khilaf. Ya sudahlah. Rindu pun telah mendarat di rimbanya sendiri.

November. Selamatkanlah kami dari minggu siang tak berkegiatan selain kasak kusuk di ranjang.

Pithecantropus Njamoeikhlas

Nyamuknya ramai sekali. Bak di pasar pagi yang kebanjiran pembeli. Ditepuk sekali, nyamuknya mlengos melarikan diri. Ditepuk berkali-kali, seisi kampung geger, “Ada perayaan apa ini?”.

Nyamuk biadab. Membuat salah terka. Jangan kau hisap darahnya. Dia terlalu manis. Kamu bisa diabetes. Dia jangan diganggu. Sedikit darahnya tercucur, akan ku fogging kau sampai hancur. Berubahlah jadi vegetarian. Ada kangkung di meja makan. Silakan kau habiskan. Jangan dia. Aku tak rela walau dia sedang donor darah.

Nyamuk, apakah kamu dan vampire satu klan? Sudah berapa ratus juta liter darah yang kau telan? Malam ini, aku tahu dia sedang mengobatimu. Menyembuhkan letih dan luka. Semoga senang dan bahagia. Karena terkadang cinta tidak butuh pengakuan. Damailah disana. Aku sudah tentram dengan perasaanku sendiri.

Pithecantropus Octogenesis

Akhirnya tiba pada Oktober yang mesra. Jiwa-jiwa yang gersang mulai diterpa angin pancaroba. Aku duduk disampingnya, dalam suasana damai khas negeri sunda. Bersama goreng singkong, teh manis, dan tahi ayam yang diinjak sandal si Rahmat. Nikmat dan semerbak tercampur udara lembab. Cinta dan rindu pun diralat agar tidak salah alamat.

Oktober. Aku minum air kopi. Setelah itu aku kembung. Kopinya kupandangi, air nya ku minum. Segalon. Minum sendiri. Agar kamu yakin aku mandiri. Lalu apa aku ngantuk? Tidak. Belum. Mungkin akibat tidur siang. Mungkin juga karena ada kamu yang dipikirkan. Sial! Kamu yang tidak mandiri. Kenapa harus aku memikirkanmu. Padahal kau punya kepala dan otak untuk memikirkan dirimu sendiri. Jadi ini rindu? Kenapa selalu berdegup ketika bisu?

Hey, Einstein, apa kau pernah masuk angin? Seharusnya kau pernah. Agar tau rasanya dikerokin. Tidak hanya soal fisika. Ketika kamu jatuh cinta, rumus apa yang kamu gunakan untuk menaklukan si dia? Beri aku jawabannya. Aku buta fisika. Buta kimia. Dan juga buta huruf ketika tutup mata. Semoga rindunya tidak pernah salah alamat karena buta arah.