Love

Pithecantropus Rizkipaus

Dulu aku gelap. Dulu aku beku. Dulu aku gagap. Dulu aku mati kutu. Bagai tahi ayam di atas gardu listrik yang lambat laun mengering terpapar waktu. Semua berjalan sesuai tuntunan zaman. Melampaui batas kesadaranku yang imut. Siapa aku sekarang? Dimana aku sekarang? Banyak kenangan melintas kala hujan, kopi dan musik mulai mendayu. Sekarang aku tangguh. Sekeras betis si Erik, bek kanan andalan Rajawali Club. Jangan macam-macam padaku. Walau rinduku cuma satu macam yaitu ke kamu. Kamu yang meneduhkan hati ketika hujaman pikiran menderu-deru.

Kelam yang dulu hinggap, semoga tak akan lagi mendarat. Berkarat-karat. Hih amit-amit. Aku tak mau lagi jadi bagian yang sempit. Aku sudah berubah. Banyak berubah. Kadang jadi serigala, ular kobra, lemari es atau juga seseorang yang lebih berwarna dari langit senja. Dekaplah aku demi cinta yang lebih mesra dari kisah Dilan dan Milea.

Iklan

Pithecantropus Le Febre

Diam. Dengarkan. Suara angin akhir-akhir ini lebih senyap. Menandakan arah telah berubah. Bagian mana dari hidup ini yang tak kau mengerti? Ketika angin membawa hujan lebih jauh ke tengah. Atau kau masih teguh berdiri di tebing penantian? Semua yang kita tulis akan memenuhi halaman buku hingga harus menyibakkan halaman baru. Cinta harus bermetamorfosis. Seperti pedagang tahu bulat yang juga berjualan cireng isi.

Februari. Bulan kedua di tahun ini. Tahun baru yang berasa baku. Cuacanya biasa. Langitnya indah di kala fajar, senja, dan malam jikalau sedang cerah. Para pencinta bergumul mesra bersama masing-masing selirnya. Si Anang intim dengan mobile legend-nya. Dan aku klimaks oleh teh hangat, musik merdu, dan goreng sukun. Berilah kami semua ketabahan ketika harapan longsor digerus ketidakpastian.

Terima kasih tuhan. Ketika rindu, aku bersyukur, karena Kau tahu yang ku butuhkan. Februari yang tentram oleh cinta yang diidamkan.

Pithecantropus Takdirus

Aku tak tahu kemana takdir akan membawaku. Tuhan tidak pernah memberitahu. Entah pergi ke gunung, hutan, laut, entahlah kemana itu. Mungkin ke Papua, Jogja, Jakarta, atau Cilengkeng. Ke dalam sumur, ke jurang, ke rumah si Ilham, atau lapangan sepak bola. Kemana pun, asal ada kamu, pasti bagus.

Pithecantropus Octoblues

Oktober. Barusan aku putuskan untuk menyeduh jamu kuat. Jamu yang disimpan dalam lemari ukuran sedang. Sebagai pengganti medis yang kimiawi. Sebagai bukti cinta dalam negeri. Jamu kuat dianiaya cap nyonya minul. Ampuh mengatasi ketidakmampuan cinta yang cuma bermodal dengkul.

Oktober. Bulan sepuluh sebelum sebelas dan setelah sembilan. Menanak nasi pada sewaktu siang. Menghidangkan makanan untuk kasih yang kelaparan. Rindu saja tak akan cukup mengenyangkan. Melintas kenangan yang dijejer rapi. Memori denganmu mewarnai dunia lewat perbuatan mesum.

Oktober. Baik-baiklah kepada kami. Kami yang benjol dihantam hujan pikiran sedari September. Menjahit mimpi, memintal harapan. Hidup terasa miring sebelah ketika tidur salah bantal. Baik-baiklah kepada kami. Kami yang berdo’a agar Oktober ditutup dengan mesra.

Pithecantropus Lambonginus

Malam di tempatku, terbuat dari nyeri lambung dan gitar yang merdu. Setelah ini mungkin aku akan buat malam lebih faktual. Tentang mimpi yang emosional. Tentang cinta yang konseptual.

Jangan bergerak. Rindu sedang bergerak. Lebih lengkap. Lebih dekat. Dalam porsi yang lebih akurat. Lebih besar dari ukuran pemahaman. Lebih luas dari peluk dan pengakuan.

Malam ini, malam seperti biasanya, malam ketika mamang mie tek-tek kembali berkeliaran, dan pada sudut yang lain, aku sedang memikirkanmu. Memikirkan adonan yang cocok untuk memilikimu. Dengan kata lain aku ingin berdua menikmati hampa.

Kasih, dekatkanlah telingamu. Biar semua terbisik dengan jelas. Berbagi suara kentut dengan intim. Aku tahu kamu tak akan rela. Rela jika aku masuk angin.

Pithecantropus Boringus

Ketika terasa menyebalkan. Ketika semua terasa memuakkan. Dan ketika tiada satu pun yang bisa diandalkan. Lebih baik kuputuskan untuk masak nasi goreng. Nasi yang sudah ditanak lalu digoreng. Pakai bumbu dan kecap agar warna berubah agak cokelat. Salah satu warna yang kusuka ketika kamu tidak membuat warna yang cantik dalam suramnya hari yang berat.

Maksud hati ingin menulis rindu yang mengikis. Maksud hati ingin ceritakan cinta yang manis. Namun apa daya, perasaan dan logika seperti tahi ayam dan kue lapis. Yang satu ingin meringis, yang satu kukuh realistis. 

Angin berubah dingin. Layar terkembang menuntun jalan ke pelabuhan. Banyak hal yang diingin. Dayung bergerak, perahu menabrak tebing karang. Cinta, sudahlah aku menyerah saja. Rindumu ternyata tak sebanyak panggilan kerja.
Lampu temaram di kampung gunung karang. Cahayanya redup, bagai bulan terhalang awan. Matamu sudah berbeda pandangan. Mataku sudah berada di perbatasan.