Lirik

Pithecantropus Hiatus

Sementara blog ini bingung mau nulis apa. Banyak yang ingin diucap, ternyata susah untuk dicatat. Sampai jumpa di hari lain. Diwaktu kita saling berbagi rindu, kasih dan cinta. Diwaktu kita saling mengerti satu sama lain.

Pithecantropus Marethololus

Meteor jatuh menghantam keras pohon jati. Seisi kampung menjadi riuh, bertanya-tanya “apa setelah ini akan hujan uang di kebun kami?”. Banyak harap yang harus dimaklumi. Kampung ini menjadi sunyi setelah ditinggal petani. Dia yang pergi, pergi setelah menanam benih kasih.

Seorang peramal sedang meramal dirinya sendiri. Menerka apa yang terjadi jika minum es teh manis dicampur sabun mandi. Dan tahun terus berganti, rindu masih saja mengusik. Raut wajahnya masih saja terngiang meski sedang buang air. Setelah cebokan ketiga, diputuskan, rindu ini harus dituntaskan dengan bertemu kasih.

Maret tersisa setengah lagi. Seorang petani diburu peramal pagi-pagi, mau bertanya nasib dikemudian hari. Pintu diketuk berulang kali. Namun petani tidak sanggup memanen benih buah rindunya sendiri. Peramal pergi, pergi setelah menerima wangsit. Tempo hari, dia memilih untuk tidak berpilih kasih.

Ini maret sayang, jangan dulu bergegas menuju januari lagi.

Pithecantropus Bagaipus

BAGAI

Bagai abu tanpa api. Bagai rindu tak bersemi. Bagai kuda tanpa pedati. Bagai aku tak peduli.

Bagai muram tak berdaya. Bagai selimut tak bernyawa. Bagai cinta tanpa asmara.Bagai kamu tanpa koma.

Bagai sempak tanpa bolong. Bagai cinta tanpa bohong. Bagai kamu tanpa cemong. Bagai motor tanpa bodong.

Bagai kasih tanpa kisah. Bagai geli tanpa basah. Bagai gerak tak berpindah. Bagai kita tak berpisah.

Pithecantropus Septemblues

Puan. Aku seharusnya menulis sajak cinta. Sajak yang sedari tadi dirangkai di kepala. Selesai boker, buyar semua. Bingung mau nulis apa. Kalah genting oleh urusan biologis manusia. Dalam remang lampu-lampu bolham, dalam malam di kaki gunung karang, daku menyapa puan yang hilang batang hidungnya. Tertelan mesin ATM, alat kosmetik dan sistematis hedonistik. Puan berjalan jauh, lebih jauh dari warung Kak Ombi. Puan berkata pergi, setelah bertemu monyet dalam mimpi.

September malas membahas hal-hal yang rumit. Sedikit berpikir keras otak langsung sakit. Sakitnya tuh dimana? Sakitnya tuh di sana-sini di dalam hariku. Pernahkah kamu adu dengkul dengan kuda? Atau pernahkah kau mencoba pahami tugas pokok sebuah kecoa? Kamu tentu tak akan pernah mengetahui semuanya. Sama halnya ketika aku menginginkanmu. Malam ini, atas nama rindu dan rimbunnya kasih sayang.

Pithecantropus Agooschitis

Agustus. Tak ada koneksi. Sambungan terhalang batang dukuh. Sinyal hilang, semua mendadak rusuh. Kuota banyak, rindunya dihambat jaringan kumat. Kasihan dia. Terancam gagal bercinta gara-gara teknologi tiada nyawa. Akhirnya dia menulis serpihan kasih diatas kertas putih. Baru mau dicatat, pena bergetar hebat. Menahan diri dari rasa buang air. Larilah dia ke departemen pengeluaran. Disana dia bertemu banyak kenangan yang lalu lalang. Rindu kembali muncul ketika sebuah peluru emas meluncur dari liang dubur.

Agustus. Bulannya bulan negeri kaya akan perasaan. Tanah tumpah darah para penyair yang setiap malam tenggorokannya dibasahi kopi. Negeri indah, damai dan tenteram yang terkadang gemetar oleh isu pemberitaan. Tanah, air, pohon, batu, hewan, pedagang, artis-artis dunia maya, tukang tambal ban dan atau seluruh mahluk hidup yang ada diatasnya. Semuanya adalah aneka ragam ibu pertiwi. Ibu yang amat kucintai. Indonesia.

Agustus. Saat itu, diantara wanginya bunga kopi yang bermekaran di kaki gunung karang. Semua perasaan dan keinginan berhamburan berterbangan. Tertiup sejuk, terburai ambruk. Cita dan cinta kadang tak sesuai rencana. Detak jantung mulai tak beraturan. Masuk angin atau asam lambung kah ini? Aku bertanya pada diri sendiri. Dia menjawab, “Tenang, kita tidak apa-apa. Ini hanya karena kita bertemu dia di empat mimpi yang diberkati istiqoroh. Kita pasti bahagia dalam lindungan Allah”.

Pithecantropus Ankothea

Apabila kamu melihat bahwa ada beberapa jenis tumbuhan yang bisa kita gunakan untuk menyedapkan sup ikan lele, dan digunakan oleh orang tua yang tidak pernah bisa mencintaimu karena flu, maka sesungguhnya mencari tanaman yang tumbuh di daerah tersebut adalah hal yang sama saja dengan membuang waktu. Kita harus tumbuh kembang lebih baik dari pohon pinus, lebih artistik dari lukisan Van Gogh. Dengan kata lain kita juga bisa menjadi alternatif bagi orang lain yang tidak mampu menikmati langit senja ketika sedang manis-manisnya.

Aku mau cerita sedikit tentang pengalamanku. Yaitu tentang apa yang terjadi pada saat itu. Yaitu tentang bagaimana caranya untuk mendapatkan hasil maksimal menggunakan jari telunjuk. Salah satu dari lima di lenganmu. Waktu itu aku sadar, ternyata jari telunjuk bisa digunakan untuk mendapatkan kamu. Kutunjuk kamu ketika sedang mencari sebuah rumah untuk aku pulang. Kita seperti sudah ditakdirkan untuk bersama. Dalam remang lampu kota. Dalam sejuk angin malam. Dalam satu tujuan, satu kesatuan, arah dan jawaban. Kau berhenti, setelah jariku menunjuk ngaceng dalam sepi.

Aku tidak pernah menyesal atas apa yang terjadi. Kita harus tetap menjaga kedaulatan dan kebersamaan demi mencapai tujuan yang ditetapkan oleh naluri. Kita adalah wujud dari simbiosis mutualisme. Saling melengkapi dan saling berbagi. Tidak perlu lagi menunggu waktu lama untuk berbuah. Arah angin yang tepat untuk berlayar ke horizon. Jari telunjuk telah melakukan tugasnya dengan sempurna. Kau begitu baik dan menyenangkan. Walau brewok dan warna kulitmu terlihat menyeramkan. Dalam sejuk malam, dalam lelah dan lapar, dalam angkutan perkotaan. Kita dipertemukan dalam suatu sistem bisnis perhubungan.

Wahai pengendali kereta besi. Jangan membuat kesal para pengemudi. Ugal-ugalan seperti kau kebanyakan minuman. Wahai pengendali hati. Jangan cemburu, karena setiap rindu tujuannya ke kamu.