Hujan

Pithecantropus Lambonginus

Malam di tempatku, terbuat dari nyeri lambung dan gitar yang merdu. Setelah ini mungkin aku akan buat malam lebih faktual. Tentang mimpi yang emosional. Tentang cinta yang konseptual.

Jangan bergerak. Rindu sedang bergerak. Lebih lengkap. Lebih dekat. Dalam porsi yang lebih akurat. Lebih besar dari ukuran pemahaman. Lebih luas dari peluk dan pengakuan.

Malam ini, malam seperti biasanya, malam ketika mamang mie tek-tek kembali berkeliaran, dan pada sudut yang lain, aku sedang memikirkanmu. Memikirkan adonan yang cocok untuk memilikimu. Dengan kata lain aku ingin berdua menikmati hampa.

Kasih, dekatkanlah telingamu. Biar semua terbisik dengan jelas. Berbagi suara kentut dengan intim. Aku tahu kamu tak akan rela. Rela jika aku masuk angin.

Iklan

Pithecantropus Septhermos

Bulan apa ini? Ternyata september. Bulan yang terserat di sembilan wajah almenak. Bulan yang amat ramai oleh hajat. Sembilan bulan sudah berlalu. Hampir sampai ke tahun baru. Hai september, dengarkanlah apa yang ku mau.

September. Lihatlah. Perlengkapan rindu sudah siap dideru. Hujan dan mati lampu. Suasana yang tepat bertemu kamu. Menggenggam tanganmu. Menyeka rambut yang terurai wajahmu. Aku dan kamu bertatap peluk. Mendekap lebih hangat dari nasi uduk mak Acung sewaktu subuh. Detak jantung saling memacu. Darah tak lagi membeku. Membiarkan ruang kosong terisi penuh. Oleh dirimu. Dengan cintamu.

September. Aku ingin membentukmu lebih artistik. Walau kau dan aku sedang sama-sama pelik. Walau jauh dari hal romantik. Menuang air hangat pada cangkir, ditabuhi jamu rematik. Ya tuhan, kita sudah tua. Ada rasa malumu untuk katakan rindu yang terlalu lama kau kasbon. Rasa maluku, ternyata ibukotanya ambon. Cinta, kenapa kita terpisah? Itu karena, bagian training sebelum berumah tangga.

September. Demi laut yang biru. Demi cicak di rumahmu. Dan dalam keadaan yang lain, aku mau kamu.

Pithecantropus Boringus

Ketika terasa menyebalkan. Ketika semua terasa memuakkan. Dan ketika tiada satu pun yang bisa diandalkan. Lebih baik kuputuskan untuk masak nasi goreng. Nasi yang sudah ditanak lalu digoreng. Pakai bumbu dan kecap agar warna berubah agak cokelat. Salah satu warna yang kusuka ketika kamu tidak membuat warna yang cantik dalam suramnya hari yang berat.

Maksud hati ingin menulis rindu yang mengikis. Maksud hati ingin ceritakan cinta yang manis. Namun apa daya, perasaan dan logika seperti tahi ayam dan kue lapis. Yang satu ingin meringis, yang satu kukuh realistis. 

Angin berubah dingin. Layar terkembang menuntun jalan ke pelabuhan. Banyak hal yang diingin. Dayung bergerak, perahu menabrak tebing karang. Cinta, sudahlah aku menyerah saja. Rindumu ternyata tak sebanyak panggilan kerja.
Lampu temaram di kampung gunung karang. Cahayanya redup, bagai bulan terhalang awan. Matamu sudah berbeda pandangan. Mataku sudah berada di perbatasan.

Pithecantropus Juniustupidus

Juni. Rasanya era kejayaan mulai memudar. Seperti alis tebal yg luntur terkena hujan besar. Hujan tengah malam yang selalu saja menentramkan. Kalau bagimu tidak, itu terserah kamu punya perasaan.

Juni. Kadang cuacanya panas. Malam jadi gerah. Pagi, siang, sore juga. Namun harus tetap Alhamdulillah. Dan kalau pun editor memintaku menulis buku tentang cinta dan rindu, aku jamin tidak akan sebagus senyum kamu. Kamu adalah bulan Juni rasa bulan purnama. Sederhana saja kamu istimewa.

Juni. Tengah malam. Kepalanya dipatuk oleh burung-burung yang lalu lalang. Sampai pitak dia. Bak diterjang pisau cukur yang gugup memangkas waktu.

Pithecantropus Burungius

Di bawah rimbunnya pohon pete tua, yang masih rajin berbuah, di halaman SD, melihat teman sedang memainkan burungnya. Dia memainkannya dengan seksama. Lalu dimandikan setelah puas fokus pada kegiatannya. Burungnya yang bagus menurutku. Walau ukurannya tak besar namun cukup menarik perhatian jika bulunya terlihat rapi. 

Burung temanku memang lucu. Lebih lucu dari humor kamu tentang perbedaan warna kulit yang rasis. Burungnya menggemaskan. Begitu pasti katamu jika jadi suka saat melihatnya. Serasa ingin kamu genggam dan elus dengan lembut. Dan aku pun ikut mainin burung juga. Berbarengan dengannya. Berduet tapi dengan gaya yang berbeda.

Oh burung… Kamu tak mungkin lepas. Kamu terikat kontrak dengan kami para lelaki yang suka memainkanmu. Eh juga perempuan yang mungkin turut menikmatimu. Disuatu hari, dibawah rimbun pepohonan, dalam kontes burung berkicau di perkampungan.

Pithecantropus Apriliseries

April. Semua sudah diserap seperti yang tersirat. Disekap dan diucap hingga tersadap. Mobat-mabit hati ini diembat. Apakah lebih baik bila aku tetap menyuarakan namamu? Baiklah, aku habisi dulu mie instan sebelum menjamah tentang kamu. Tentang nama-nama yang sudah terlanjur menjadi rindu.

April. Kamu tiba seperti biasanya. Menggusur maret karena sudah keharusan. Dalam hisapan tembakau ini ada oksigen yang dibagi untuk kamu. Dalam isi dompet ini harusnya ada wajah kamu sebagai jimat pelindung hasrat laparku. Di tengah ramainya kota, aku bisa senang dubidubidudu. Di tengah ramainya kota, aku bisa bernyanyi shalalala. Tapi tunggu. Dalam kamar aku menemukanku yang sensitif. Sendiri dan menjadi konservatif. Dihajar pilu yang dubidupapapcuaptiwdidiwdidiw. Huff. Terkadang hidup ini terasa lebih sempit ketika kamu mengenakan kancut ukuran anak PAUD.

April. Apa yang lebih baik dari jus gratis pemberian si rahmat? Ternyata jawabnya adalah peluk kamu ketika dunia terasa sedang runtuh. Kamu. Maafkan, aku harus rindu. Kecuali sedang mules, aku harus boker dan kamu tahu itu. Jika banyak pikiran, rasanya hidup digrogoti waktu. Boker tak tenang, rindu pun jadi kelabu. Di April yang cantik, semua angan menjadi hal yang klasik untuk ketika idamkan cinta yang romantik.