Diary

Pithecantropus Desemberial

Daun jambu berguguran disapu angin kencang di bulan desember. Langit menjadi gelap mendung. Ibu-ibu melesat bergegas mengangkat jemuran. Ayam-ayam pun masuk kandang. Hujan akan datang. Hujan akan datang. Hujan akan datang. Pengumuman berulang dari sang pawang. Siap-siap grasak-grusuk di ranjang. Siap-siap banjir kenangan.

Sore itu. Merebahkan punggung yang mulai ngilu. Muka yang sudah kusut. Dan baju yang sudah bau. Menggarang cinta yang hampir membeku. Dengan cokelat hangat dan kue bolu. Itu cukup? Cukuplah untuk mencukupi kebutuhan mental seorang perindu.

Desember. Apa yang dilakukan gajah ketika terkena flu? Menaklukkanmu tak seempuk makanan bayi.

Iklan

Pithecantropus Almaricus

Tanggul sebesar apapun, kita tak bisa menahan rindu yang sudah terlanjur banjir. Dia adalah cuaca cerah yang kau idamkan ketika mendung. Cahaya mentari yang menyelusup diantara celah-celah daun. Sekejam apapun dia kepada nyamuk, kau pasti akan tetap menerimanya.

Ingin rasanya memeluknya. Mengatakan, hari ini menyenangkan. Merebahkan kepalamu ketika hari terasa berat di bahunya. Berbagi oksigen bumi dengannya. Apakah kau bersandar ditempat yang benar? Dan hatimu pun menggambar sebuah mimpi.

Sebelum matamu dan mataku bertemu, katamu, aku telah menjadi abu. Kataku, kamu hanyalah tamu. Berbeda zona kenyamanan. Menerima apa yang dihidangkan. Keinginan tinggal keinginan. Dipendam, dikubur. Menutupi perasaan. Disimpan kenangan. Di lemari titip perasaan. Bahwa rindu dan cinta ini bisa meluap gampang.

Oh. Beberapa musim telah berganti. Apakah hatimu masih menggambar sebuah mimpi?

Pithecantropus Noviralistus

November. Semua direkam dengan sempurna. Semua terekam dengan semprulnya. Semua menunduk pada gadget-nya. Dihadiahi notifikasi. Dirantai media sosial. Ada hal menarik, seorang manusia hobi menjilat pantat sapi!

Seketika suara menjadi riuh. Peduli setan walau negara sedang rusuh. Ramai oleh kabar berita waktu subuh. Seseorang terciduk sedang menjilat pantat sapi karena hobi. Ritual pribadi. Agar dagangan jadi laris manis.

November. Fakta atau fiksi. Sudah jadi menu makanan setiap hari. Semua jadi korban rasa penasaran. Semua menjadi besar, di negeri pemuja viral…

November. Semua belum selesai dicatat, kosa kata jadi bergetar karena khilaf. Ya sudahlah. Rindu pun telah mendarat di rimbanya sendiri.

November. Selamatkanlah kami dari minggu siang tak berkegiatan selain kasak kusuk di ranjang.

Pithecantropus Njamoeikhlas

Nyamuknya ramai sekali. Bak di pasar pagi yang kebanjiran pembeli. Ditepuk sekali, nyamuknya mlengos melarikan diri. Ditepuk berkali-kali, seisi kampung geger, “Ada perayaan apa ini?”.

Nyamuk biadab. Membuat salah terka. Jangan kau hisap darahnya. Dia terlalu manis. Kamu bisa diabetes. Dia jangan diganggu. Sedikit darahnya tercucur, akan ku fogging kau sampai hancur. Berubahlah jadi vegetarian. Ada kangkung di meja makan. Silakan kau habiskan. Jangan dia. Aku tak rela walau dia sedang donor darah.

Nyamuk, apakah kamu dan vampire satu klan? Sudah berapa ratus juta liter darah yang kau telan? Malam ini, aku tahu dia sedang mengobatimu. Menyembuhkan letih dan luka. Semoga senang dan bahagia. Karena terkadang cinta tidak butuh pengakuan. Damailah disana. Aku sudah tentram dengan perasaanku sendiri.

Pithecantropus Octogenesis

Akhirnya tiba pada Oktober yang mesra. Jiwa-jiwa yang gersang mulai diterpa angin pancaroba. Aku duduk disampingnya, dalam suasana damai khas negeri sunda. Bersama goreng singkong, teh manis, dan tahi ayam yang diinjak sandal si Rahmat. Nikmat dan semerbak tercampur udara lembab. Cinta dan rindu pun diralat agar tidak salah alamat.

Oktober. Aku minum air kopi. Setelah itu aku kembung. Kopinya kupandangi, air nya ku minum. Segalon. Minum sendiri. Agar kamu yakin aku mandiri. Lalu apa aku ngantuk? Tidak. Belum. Mungkin akibat tidur siang. Mungkin juga karena ada kamu yang dipikirkan. Sial! Kamu yang tidak mandiri. Kenapa harus aku memikirkanmu. Padahal kau punya kepala dan otak untuk memikirkan dirimu sendiri. Jadi ini rindu? Kenapa selalu berdegup ketika bisu?

Hey, Einstein, apa kau pernah masuk angin? Seharusnya kau pernah. Agar tau rasanya dikerokin. Tidak hanya soal fisika. Ketika kamu jatuh cinta, rumus apa yang kamu gunakan untuk menaklukan si dia? Beri aku jawabannya. Aku buta fisika. Buta kimia. Dan juga buta huruf ketika tutup mata. Semoga rindunya tidak pernah salah alamat karena buta arah.

Pithecantropus Agooschitis

Agustus. Tak ada koneksi. Sambungan terhalang batang dukuh. Sinyal hilang, semua mendadak rusuh. Kuota banyak, rindunya dihambat jaringan kumat. Kasihan dia. Terancam gagal bercinta gara-gara teknologi tiada nyawa. Akhirnya dia menulis serpihan kasih diatas kertas putih. Baru mau dicatat, pena bergetar hebat. Menahan diri dari rasa buang air. Larilah dia ke departemen pengeluaran. Disana dia bertemu banyak kenangan yang lalu lalang. Rindu kembali muncul ketika sebuah peluru emas meluncur dari liang dubur.

Agustus. Bulannya bulan negeri kaya akan perasaan. Tanah tumpah darah para penyair yang setiap malam tenggorokannya dibasahi kopi. Negeri indah, damai dan tenteram yang terkadang gemetar oleh isu pemberitaan. Tanah, air, pohon, batu, hewan, pedagang, artis-artis dunia maya, tukang tambal ban dan atau seluruh mahluk hidup yang ada diatasnya. Semuanya adalah aneka ragam ibu pertiwi. Ibu yang amat kucintai. Indonesia.

Agustus. Saat itu, diantara wanginya bunga kopi yang bermekaran di kaki gunung karang. Semua perasaan dan keinginan berhamburan berterbangan. Tertiup sejuk, terburai ambruk. Cita dan cinta kadang tak sesuai rencana. Detak jantung mulai tak beraturan. Masuk angin atau asam lambung kah ini? Aku bertanya pada diri sendiri. Dia menjawab, “Tenang, kita tidak apa-apa. Ini hanya karena kita bertemu dia di empat mimpi yang diberkati istiqoroh. Kita pasti bahagia dalam lindungan Allah”.