Pithecantropus Sambalicus

Saat aku melihatmu, aku yakin, kamu adalah sesuatu dari sesuatu yang membuat sesuatu. Wujudmu mungkin biasa saja. Warnamu biasa saja. Rasamu pun satu rasa. Biasa saja. Walau digerus, ditumbuk, digiling kejamnya waktu. Rasamu tetap sama. Warnamu tetap sama. Wujudmu sama saja. Sama seperti biasa. Menggoda, menaikan selera, dan amat sangat patut diidamkan ketika beku.

Di lain kesempatan, aku menemukanmu berubah. Bermacam wujud, warna, dan bahkan rasa. Perasaan ragu mengalir dalam benak, seraya bertanya, “Apakah itu dia?… Kenapa tak serupa dengan yang dikira?”. Dalam beberapa momen, aku mungkin melupakannya. Namun menemukanku sendiri. Aku sendiri. Yang sepi. Tanpa variasi. Tanpa modifikasi. Ciptaan orisinil situasi, pandangan dan jangkauan yang stagnasi. Lalu aku mencarimu. Maaf, karena harus begitu kalau rindu. Kamu semacam obat mujarab ketika diare mengganggu.

Akhirnya. Dan ternyata. Kamu tidak biasa saja. Tidak sama saja. Banyak wujud, warna dan rasa, karena waktu membuat berubah. Kamu selalu menggoda, menaikan selera, dan amat sangat layak untuk dicinta pula. Pelan-pelan aku mengerti. Kamu punya strata dan komposisi. Perbedaan level diantara kita hanya dipisahkan oleh beberapa jumlah biji. Sambal.., aku mungkin maag, tapi aku akan terus coba menerimamu sebagai pelengkap hidupku hingga masa depan nanti.

Pithecantropus Juniustupidus

Juni. Rasanya era kejayaan mulai memudar. Seperti alis tebal yg luntur terkena hujan besar. Hujan tengah malam yang selalu saja menentramkan. Kalau bagimu tidak, itu terserah kamu punya perasaan.

Juni. Kadang cuacanya panas. Malam jadi gerah. Pagi, siang, sore juga. Namun harus tetap Alhamdulillah. Dan kalau pun editor memintaku menulis buku tentang cinta dan rindu, aku jamin tidak akan sebagus senyum kamu. Kamu adalah bulan Juni rasa bulan purnama. Sederhana saja kamu istimewa.

Juni. Tengah malam. Kepalanya dipatuk oleh burung-burung yang lalu lalang. Sampai pitak dia. Bak diterjang pisau cukur yang gugup memangkas waktu.

Pithecantropus Burungius

Di bawah rimbunnya pohon pete tua, yang masih rajin berbuah, di halaman SD, melihat teman sedang memainkan burungnya. Dia memainkannya dengan seksama. Lalu dimandikan setelah puas fokus pada kegiatannya. Burungnya yang bagus menurutku. Walau ukurannya tak besar namun cukup menarik perhatian jika bulunya terlihat rapi. 

Burung temanku memang lucu. Lebih lucu dari humor kamu tentang perbedaan warna kulit yang rasis. Burungnya menggemaskan. Begitu pasti katamu jika jadi suka saat melihatnya. Serasa ingin kamu genggam dan elus dengan lembut. Dan aku pun ikut mainin burung juga. Berbarengan dengannya. Berduet tapi dengan gaya yang berbeda.

Oh burung… Kamu tak mungkin lepas. Kamu terikat kontrak dengan kami para lelaki yang suka memainkanmu. Eh juga perempuan yang mungkin turut menikmatimu. Disuatu hari, dibawah rimbun pepohonan, dalam kontes burung berkicau di perkampungan.

Pithecantropus L’Socialmedianus

Setiap hari dan sebelum tidur, dia bergumul dengan akunnya. Menapaki kisah fakta & fiktif yang jor-joran digenjot para penghuni negara maya.

Banyak denyut disana. Dari budaya, politik agama, atau drama cinta. Semua diserat dalam akun yg memikat. 

Jika sudah begitu, waktu dzuhur pun bisa lewat, simpati menjadi langka, empati entah bagaimana. Didera waktu, ditundukan alat.

Semua rasa bisa dinikmati tanpa ada rahasia. Menjual diri atau mencari-cari hati pun ada. Tapi kami butuh yang lebih nyata. Lebih bercahaya. Tapi semua berhak mengurus halamannya.

Ditanam, dipupuk, disiram, dan memanen buah-buah kata. Delusinasi, eksplorasi, hingga ekspektasi, terpapar rapi.

Jangan salahkan teknologi. Teknologi tak akan pernah mati. Teknologi membantu kamu yang sedang sepi.

Aku rindu purba. Rindu yang lebih meletup ketika sukar berjumpa. Rindu yang hanya terobati dengan berpeluk atau bertatap mesra.

Pithecantropus Apriliseries

April. Semua sudah diserap seperti yang tersirat. Disekap dan diucap hingga tersadap. Mobat-mabit hati ini diembat. Apakah lebih baik bila aku tetap menyuarakan namamu? Baiklah, aku habisi dulu mie instan sebelum menjamah tentang kamu. Tentang nama-nama yang sudah terlanjur menjadi rindu.

April. Kamu tiba seperti biasanya. Menggusur maret karena sudah keharusan. Dalam hisapan tembakau ini ada oksigen yang dibagi untuk kamu. Dalam isi dompet ini harusnya ada wajah kamu sebagai jimat pelindung hasrat laparku. Di tengah ramainya kota, aku bisa senang dubidubidudu. Di tengah ramainya kota, aku bisa bernyanyi shalalala. Tapi tunggu. Dalam kamar aku menemukanku yang sensitif. Sendiri dan menjadi konservatif. Dihajar pilu yang dubidupapapcuaptiwdidiwdidiw. Huff. Terkadang hidup ini terasa lebih sempit ketika kamu mengenakan kancut ukuran anak PAUD.

April. Apa yang lebih baik dari jus gratis pemberian si rahmat? Ternyata jawabnya adalah peluk kamu ketika dunia terasa sedang runtuh. Kamu. Maafkan, aku harus rindu. Kecuali sedang mules, aku harus boker dan kamu tahu itu. Jika banyak pikiran, rasanya hidup digrogoti waktu. Boker tak tenang, rindu pun jadi kelabu. Di April yang cantik, semua angan menjadi hal yang klasik untuk ketika idamkan cinta yang romantik.

Pithecantropus Mentalis

Angin bertiup dari selatan ke utara. Membawa kabar nasib yang belum saja berkecup mesra. Apa kabarmu? Bagaimana dengan korengmu? Sudahkah tak sebasah ketika kukatakan selamat berpisah? Pada setiap rindu yang belum kau kencani, aku katakan, selamat tidur sayang, semoga mimpimu nyaman.

Hari demi hari berlalu. Dada semakin menggebu. Menumpah darah rindu, berdegup jantungnya syahdu. Mengingatmu mengecup keningku. Melunturkan runyam di kepala dan di dada. Dada, yang ternyata itu mana buah juga.

Bermusim-musim sudah terlewati. Dari musim hujan hingga musim kecapi. Aku masih disini. Dari musim kawin hingga musim hujan lagi. Aku masih disini. Lama ini terasa sebentar jika amat dinikmati. Tangan tengadah meminta pada illahi. Merefleksi diri dengan secangkir kopi.

Berarak-arak awan membimbing ke masa depan yang diharapkan. Berbekal semangat juang dan serantang makanan akan kulawan. Melawan semua ketidakpastian. Pedangku lebih panjang dari lidahmu yang berkata seakan kau jagoan. Aku tidak takut dikalahkan. Sebab sebelum sholat, aku telah rancang catatan permintaan pada Tuhan. Karena Dia maha mengabulkan. Lebih dari kantor pegadaian.