Curhat

Pithecantropus Blanksakus

2 bulan lalu dia berubah menjadi batu. Otaknya padat, pikirnya melambat. Kasihan dia, tahi ayam disangka coklat. Saking lowong hatinya jadi tempat keramat. Bau dupa dan bunga 7 rupa. Selain pada sabun, rindu sudah tak terukur pada siapa.

1 bulan kemudian dia berubah menjadi mesin cuci. Kepalanya rimbun ditumbuhi mimpi-mimpi. Sampai-sampai mimpi oranglain pun dia beli. Dibingkai dan dipajang dalam hati. Tentang dia dan seseorang yang memakai stelan yang rapi pada suatu resepsi. Semoga tidak terlalu dini, karena malam ini dia akan bermimpi terbang naik seekor sapi. Menemui seseorang di langit yang sedang menanak nasi. Untuk makan bersama dalam jamuan cinta kasih.

Bulan ini dia berubah menjadi seblak. Setelah berdamai dengan semua angan dan alur cerita yang amat somplak. Seperti keyakinan seorang petani ganja, dia berharap apa yang ditamannya tidak menjadi blangsak. Ketangguhannya diuji ketika rindu tiba-tiba nabrak. Gubraaakkk!!! Hatinya remuk ditimpuk gumpalan sempak.

Pithecantropus Belexius

Hujan sudah reda tapi matanya masih basah, kenapa dia? Apa dia sakit mata? Dan semoga matahari segera menggarang beleknya.

Dibawah atap orangtua dia bernaung. Mencoba berdamai dengan angan-angan yang mengaung-ngaung. Dalam helaan nafas yang ke 649 kali dia berkata, “Ya Tuhan, sembuhkanlah kami dari penyakit derita”.

Jendela kamar membingkai bunga mawar dan tahi ayam yang menghias keramik halaman rumah. Semalam turun hujan namun pagi terasa gerah. Konon belek dimatanya adalah air mata yang mengering digarang harapan yang belum kunjung tiba.

Pithecantropus Februalus

Februari. Sesingkat itu kau pergi tanpa pamit. Tanpa mengucap terima kasih. Atas apa yang kuperbuat untuk menyenangkanmu. Aku kecewa. Melampiaskan dengan makan soto. Tidak sedap, tapi harga mahal. Aku kecewa double. Celingak-celinguk setelah melihat isi kantong jebol. Bulan yang singkat. Seperti burung kena sunat.

Februari. Hujan datang lagi. Pagi-pagi. Sesaat setelah dia mencret di kamar mandi. Ya Tuhan, hari apa ini? Apakah normal jika cuci muka dengan pasta gigi? Apa boleh makan sabun saat malam nanti? Banyak jawab yang belum ditemui. Juga tentang rasa rindu yang belum terobati, dan apakah cinta masih ada di dalam hati.

Februari. Maret april mei juni juli. Jangan berkata rindu, jika tak mau bertemu kasih. Lebih baik pergi dan tak usah datang kembali. Karena bulan depan bukan februari.

Pithecantropus Januarindu

Bismillah. Semoga semuanya mudah. Masa kecilku bahagia atau tidak ya? Kurasa aku bahagia. Tapi kenapa aku lupa? Malah lebih ingat ketidakbahagiaan yang sudah lewat. Kucari kebahagiaan baru setelah selesai minum obat batuk. Agar ketidakbahagiaan menjadi ambruk. Kadang kala aku yakin pasanganku lebih keren dari artis korea. Karena dia bisa menulis sajak walau hidungnya sedang mampet oleh influenza.

Januari. Fokus kita bikin jadi romantis. Omongan sendiri yang ditulis. Apa kabar kutilmu? Apa sudah menjadi batu? Jangan dulu bergegas mengucap rindu. Siapa tahu rindumu salah lokasi. Cek laporan pengirimannya dulu ya sis. Siapa tahu itu hanya gumpalan rasa sepi dan letih. Karena sudah lama tak hahahihi.

Januari. Pandanganmu menjadi kabur setelah lama melototi lampu senter. Apa yang kamu lakukan brother? Seperti tidak ada lagi saja kegiatan yang seger. Aku tahu kepalamu seberat bulldozer. Tampangmu berubah jadi monster. Tenanglah, januari tak akan merubahmu menjadi zombie. Walau langkah kakimu sudah miring ke kiri. Biar rindu salah lokasi, cinta tak akan pernah mati.

Pithecantropus Decembiostis

Hari yang cerah berangsur menuju temaram. Di taman kota dia duduk sendiri. Menikmati udara segar hasil produksi knalpot motor dan mobil. Nikmatnya sore itu. Polusi yang tinggi, sampah yang berserakan rapi, dan wangi air got yang hitam pekat seperti kopi. Sungguh cantik. Indahnya cinta yang tak terbalas, dan manisnya sakit hati, semua dilahap dengan keterbukaan diri dan bersyukur tinggal di bumi.

Bumi yang menjadi tempat kita berjumpa. Dengan dusta, dosa, sakit hati, rindu, cinta dan kecewa. Begitu senangnya ketika kau katakan putus, akhiri hubungan cinta. Atau begitu riang gembira dikala mendapatkan penolakan pada proposal cinta. Biarlah semua terjadi seperti bagaimana seharusnya terjadi. Angin barat, angin timur, angin selatan, angin utara. Kita pasti tegar menghadapi semuanya walau pasti masuk angin.

Desember yang genting. Selesai hujan dia duduk menikmati snek ketring. Memandangi ponsel yang tak kunjung berdering. Pesannya ternyata pending.

Desember. Hati dan dadanya jadi meriang. Habis diguyur hujan angan-angan. Lambat laun dirinya jadi Sepiderman. Sepi dan keder musiman. Karena cinta lama tak melakukan kunjungan.

Pithecantropus Octosilitus

Tiba-tiba dia bergegas menggulung lengan bajunya. Komat-kamit dipikirannya. Kursi dirapikan, teh manis diletakan di meja kaca. Memburu kata yang keburu kabur. Keadaan dan perasaan sedang mendukung. Bismillah, inilah waktunya untuk berkeluh kesah di media sosial. Berharap kasih dari para pembaca.

Oktober. Kamu hampir habis. Tinggal beberapa jam saja, kamu berubah jadi bulan lahirnya si nova atau novi. Mungkin juga si geri. Bulan yang dia mulai dengan berkeyakinan bahwa seekor ikan tidak mungkin sanggup memesan ojek online karena tidak punya kuota. Bulan yang selalu dia amini bahwa suatu saat kisah kasih hidupnya lebih cemerlang dari para penikmat harta ayah bunda.

Oktober. Tenanglah. Selalu ada pelangi setelah hujan. Nikmati saja dulu susu hangat yang dia seduh sebelum kau tidur. Tidurlah dengan nyaman. Walau esok yang disuguhkan hanya ketiadaan. Tenggak saja. Jangan takut akan masa depan! Semuanya akan terasa kenyang karena yang kau telan adalah sebuah ketulusan.