Catatan

Pithecantropus Septhermos

Bulan apa ini? Ternyata september. Bulan yang terserat di sembilan wajah almenak. Bulan yang amat ramai oleh hajat. Sembilan bulan sudah berlalu. Hampir sampai ke tahun baru. Hai september, dengarkanlah apa yang ku mau.

September. Lihatlah. Perlengkapan rindu sudah siap dideru. Hujan dan mati lampu. Suasana yang tepat bertemu kamu. Menggenggam tanganmu. Menyeka rambut yang terurai wajahmu. Aku dan kamu bertatap peluk. Mendekap lebih hangat dari nasi uduk mak Acung sewaktu subuh. Detak jantung saling memacu. Darah tak lagi membeku. Membiarkan ruang kosong terisi penuh. Oleh dirimu. Dengan cintamu.

September. Aku ingin membentukmu lebih artistik. Walau kau dan aku sedang sama-sama pelik. Walau jauh dari hal romantik. Menuang air hangat pada cangkir, ditabuhi jamu rematik. Ya tuhan, kita sudah tua. Ada rasa malumu untuk katakan rindu yang terlalu lama kau kasbon. Rasa maluku, ternyata ibukotanya ambon. Cinta, kenapa kita terpisah? Itu karena, bagian training sebelum berumah tangga.

September. Demi laut yang biru. Demi cicak di rumahmu. Dan dalam keadaan yang lain, aku mau kamu.

Iklan

Pithecantropus Agoestinho

Agustus. Bulan yang kadang terasa tandus. Bulan yang terbuat dari rindu yang haus. Bulan yang tak perlu kau susah payah untuk dihapus. Biar semua berjalan dengan apa yang kita gerus. Nanti juga bulannya terlihat bagus. Bulan lahirnya si Agus.

Agustus. Sepertinya aku harus mengubah arah sisiran rambutku. Meralat mimpiku. Mengganti do’aku. Serta menambah tujuan yang baru. Mungkin semua akan terjadi tidak sesuai standar prosedur pengharapan. Namun, kita selalu perlu memantapkan keyakinan. Tak banyak bicara. Cukup diam dan banyak berusaha. Bila gagal, maka ulang lagi. Ulang lagi. Ulang lagi. Sampai tukang bubur naik haji 100 kali.

Agustus. Hujannya jarang-jarang. Rezekinya kadang-kadang. Cintanya panjang-panjang.

Pithecantropus Sambalicus

Saat aku melihatmu, aku yakin, kamu adalah sesuatu dari sesuatu yang membuat sesuatu. Wujudmu mungkin biasa saja. Warnamu biasa saja. Rasamu pun satu rasa. Biasa saja. Walau digerus, ditumbuk, digiling kejamnya waktu. Rasamu tetap sama. Warnamu tetap sama. Wujudmu sama saja. Sama seperti biasa. Menggoda, menaikan selera, dan amat sangat patut diidamkan ketika beku.

Di lain kesempatan, aku menemukanmu berubah. Bermacam wujud, warna, dan bahkan rasa. Perasaan ragu mengalir dalam benak, seraya bertanya, “Apakah itu dia?… Kenapa tak serupa dengan yang dikira?”. Dalam beberapa momen, aku mungkin melupakannya. Namun menemukanku sendiri. Aku sendiri. Yang sepi. Tanpa variasi. Tanpa modifikasi. Ciptaan orisinil situasi, pandangan dan jangkauan yang stagnasi. Lalu aku mencarimu. Maaf, karena harus begitu kalau rindu. Kamu semacam obat mujarab ketika diare mengganggu.

Akhirnya. Dan ternyata. Kamu tidak biasa saja. Tidak sama saja. Banyak wujud, warna dan rasa, karena waktu membuat berubah. Kamu selalu menggoda, menaikan selera, dan amat sangat layak untuk dicinta pula. Pelan-pelan aku mengerti. Kamu punya strata dan komposisi. Perbedaan level diantara kita hanya dipisahkan oleh beberapa jumlah biji. Sambal.., aku mungkin maag, tapi aku akan terus coba menerimamu sebagai pelengkap hidupku hingga masa depan nanti.

Pithecantropus Julyenos

Bulan itu bersinar diantara ubun-ubun yang berasap digarang pikiran. Sinarnya terang bak kemilau wajah-wajah imut hasil editan. Menyerah, seperti kokok ayam ketika masih malam. Terlalu dini. Terlalu cepat untuk berpasrah diri. Lebih baik kulanjut minum teh. Ada gulanya. Ada semutnya juga. Biarin. Itu tambahan protein.

Juli. Waktu berjalan begitu cepat. Baru saja selesai sholat, adzan datang dengan kilat. Yaelah, ternyata sholatnya telat. Seperti gadis muda yang hamil karena telat ngangkat. Tuhan, mungkin aku tidak tepat. Kukira kuat, ternyata belum hebat. Maklumlah, namanya juga belum cermat.

Apabila waktu bisa ditukar kembali, akan aku tukar masa muda yang sedih dan salah pilih. Diralat, direvisi, atau direformasi. Meniti karir yang lebih rapi. Menata cinta yang lebih mesra. Namun yang lalu biarlah berlalu. Biar dilukis dalam kanvas keikhlasan. Tidak ada penyesalan. Ada kelegaan. Seperti rutinitas pengeluaran pada bilik jamban.

Juli. Agar semuanya wangi dan bersih. Agar semuanya putih dan suci. Agar semuanya tampan dan cantik. Ukir saja bulan ini dengan senyum yang baik. Juli tak akan berubah menjadi Juki jika kita lebih teliti. Juli tak akan jadi Jupri bila kita mendengarnya jernih. Atas nama Juli, biarkan cinta dan harapan tergugah lebih positif.

Pithecantropus Juniustupidus

Juni. Rasanya era kejayaan mulai memudar. Seperti alis tebal yg luntur terkena hujan besar. Hujan tengah malam yang selalu saja menentramkan. Kalau bagimu tidak, itu terserah kamu punya perasaan.

Juni. Kadang cuacanya panas. Malam jadi gerah. Pagi, siang, sore juga. Namun harus tetap Alhamdulillah. Dan kalau pun editor memintaku menulis buku tentang cinta dan rindu, aku jamin tidak akan sebagus senyum kamu. Kamu adalah bulan Juni rasa bulan purnama. Sederhana saja kamu istimewa.

Juni. Tengah malam. Kepalanya dipatuk oleh burung-burung yang lalu lalang. Sampai pitak dia. Bak diterjang pisau cukur yang gugup memangkas waktu.

Pithecantropus Burungius

Di bawah rimbunnya pohon pete tua, yang masih rajin berbuah, di halaman SD, melihat teman sedang memainkan burungnya. Dia memainkannya dengan seksama. Lalu dimandikan setelah puas fokus pada kegiatannya. Burungnya yang bagus menurutku. Walau ukurannya tak besar namun cukup menarik perhatian jika bulunya terlihat rapi. 

Burung temanku memang lucu. Lebih lucu dari humor kamu tentang perbedaan warna kulit yang rasis. Burungnya menggemaskan. Begitu pasti katamu jika jadi suka saat melihatnya. Serasa ingin kamu genggam dan elus dengan lembut. Dan aku pun ikut mainin burung juga. Berbarengan dengannya. Berduet tapi dengan gaya yang berbeda.

Oh burung… Kamu tak mungkin lepas. Kamu terikat kontrak dengan kami para lelaki yang suka memainkanmu. Eh juga perempuan yang mungkin turut menikmatimu. Disuatu hari, dibawah rimbun pepohonan, dalam kontes burung berkicau di perkampungan.