buku

Pithecantropus Noviralistus

November. Semua direkam dengan sempurna. Semua terekam dengan semprulnya. Semua menunduk pada gadget-nya. Dihadiahi notifikasi. Dirantai media sosial. Ada hal menarik, seorang manusia hobi menjilat pantat sapi!

Seketika suara menjadi riuh. Peduli setan walau negara sedang rusuh. Ramai oleh kabar berita waktu subuh. Seseorang terciduk sedang menjilat pantat sapi karena hobi. Ritual pribadi. Agar dagangan jadi laris manis.

November. Fakta atau fiksi. Sudah jadi menu makanan setiap hari. Semua jadi korban rasa penasaran. Semua menjadi besar, di negeri pemuja viral…

November. Semua belum selesai dicatat, kosa kata jadi bergetar karena khilaf. Ya sudahlah. Rindu pun telah mendarat di rimbanya sendiri.

November. Selamatkanlah kami dari minggu siang tak berkegiatan selain kasak kusuk di ranjang.

Pithecantropus Octogenesis

Akhirnya tiba pada Oktober yang mesra. Jiwa-jiwa yang gersang mulai diterpa angin pancaroba. Aku duduk disampingnya, dalam suasana damai khas negeri sunda. Bersama goreng singkong, teh manis, dan tahi ayam yang diinjak sandal si Rahmat. Nikmat dan semerbak tercampur udara lembab. Cinta dan rindu pun diralat agar tidak salah alamat.

Oktober. Aku minum air kopi. Setelah itu aku kembung. Kopinya kupandangi, air nya ku minum. Segalon. Minum sendiri. Agar kamu yakin aku mandiri. Lalu apa aku ngantuk? Tidak. Belum. Mungkin akibat tidur siang. Mungkin juga karena ada kamu yang dipikirkan. Sial! Kamu yang tidak mandiri. Kenapa harus aku memikirkanmu. Padahal kau punya kepala dan otak untuk memikirkan dirimu sendiri. Jadi ini rindu? Kenapa selalu berdegup ketika bisu?

Hey, Einstein, apa kau pernah masuk angin? Seharusnya kau pernah. Agar tau rasanya dikerokin. Tidak hanya soal fisika. Ketika kamu jatuh cinta, rumus apa yang kamu gunakan untuk menaklukan si dia? Beri aku jawabannya. Aku buta fisika. Buta kimia. Dan juga buta huruf ketika tutup mata. Semoga rindunya tidak pernah salah alamat karena buta arah.

Pithecantropus Meijunius

Telat. Bergerak lambat. Yang seharusnya diserat baru saja tersirat. Kurang pupuk, kebanyakan ketupat. Rindu gagal merambat. Yang dipeluk seharusnya nikmat, malah dapat bantal bantat. Angin sedang menggebu dahsyat. Semoga cinta bisa tersampaikan dengan kilat. Mengibarkan cangcut dijemuran kawat. Apa kabar sayang? Apakah kamu masih suka makan bakwan?

Mei. Tertulis dibulan juni. Bulan keenam dalam hitungan masehi. Bulan yang sumber kekuatan misagi. Tokoh sailormoon, tontonan minggu pagi. Sewaktu kecil, sewaktu belum mandi. Masa yang berbayang penuh fantasi. Aku jadi papi. Kamu jadi mami. Berdua kita menjalin hubungan rumah-rumah tanggaan, dan si Ajo jadi pembantu yang baik.

Juni. Ramadhan. 2 bulan yang hinggap bersamaan. Semua akan bersuka cita pada lebaran. Yang mantan, jalin tali pertemanan. Yang pacaran, jalin tali kasih kekeluargaan. Yang jomblo, gasrak gasruk berpeluk kue, opor, begah kekenyangan. “Kapan kawin?” jadi pertanyaan. “Kapan cerai?”, belum bisa diungkapkan.

Mei dan juni tercampur dalam hangat teh manis malam. Banyak kisah yang pontang-panting sliweran. Rindu seperti terhalang batang dukuh. Dahan dipapas, rindunya keburu kabur. Kitab dibuka, suara dibuka, dalam tadarus menenangkan. Mendamaikan perasaan, menentramkan pikiran.

Pithecantropus Aprilonea

Nyamuk itu meminum darahnya sendiri. Darah yang sebenarnya dia dapat dari orang yang sore tadi makan geplak 2 biji. Nyamuk itu mabuk. Lunglai lesu terjerembab nyusruk. Ternyata darahnya mengandung racun. Zat yang membuat dirinya rabun. Tidak bisa menerima kebenaran. Tidak bisa merasakan kenyataan. Semua menjadi buram dan menjadi banyak perkiraan. Kasihan dia, terbenam oleh ulah alih halonya sendiri.

April. Bulan belum montok. Seonggok wanita yang posting goyangannya di tik-tok. Bercelana sependek-pendeknya. Berdansa sensual merem melek mata dan genit bibir nakalnya. Terjebak dalam realita dunia maya. Tergeletak di dunia ayam.

April. Tindakan dan hasil mungkin kadang tak sesuai harapan. Keinginan yang belum terpuaskan. Semua didekap tenang oleh cinta yang amat menentramkan. Dalam kecup manis, dalam tawa dan tangis. Pada dasarnya, kita adalah nyamuk-nyamuk yang perlu banyak istighfar dan ikhtiar. Agar semua menjadi besar.