Berita

Pithecantropus Meijunius

Telat. Bergerak lambat. Yang seharusnya diserat baru saja tersirat. Kurang pupuk, kebanyakan ketupat. Rindu gagal merambat. Yang dipeluk seharusnya nikmat, malah dapat bantal bantat. Angin sedang menggebu dahsyat. Semoga cinta bisa tersampaikan dengan kilat. Mengibarkan cangcut dijemuran kawat. Apa kabar sayang? Apakah kamu masih suka makan bakwan?

Mei. Tertulis dibulan juni. Bulan keenam dalam hitungan masehi. Bulan yang sumber kekuatan misagi. Tokoh sailormoon, tontonan minggu pagi. Sewaktu kecil, sewaktu belum mandi. Masa yang berbayang penuh fantasi. Aku jadi papi. Kamu jadi mami. Berdua kita menjalin hubungan rumah-rumah tanggaan, dan si Ajo jadi pembantu yang baik.

Juni. Ramadhan. 2 bulan yang hinggap bersamaan. Semua akan bersuka cita pada lebaran. Yang mantan, jalin tali pertemanan. Yang pacaran, jalin tali kasih kekeluargaan. Yang jomblo, gasrak gasruk berpeluk kue, opor, begah kekenyangan. “Kapan kawin?” jadi pertanyaan. “Kapan cerai?”, belum bisa diungkapkan.

Mei dan juni tercampur dalam hangat teh manis malam. Banyak kisah yang pontang-panting sliweran. Rindu seperti terhalang batang dukuh. Dahan dipapas, rindunya keburu kabur. Kitab dibuka, suara dibuka, dalam tadarus menenangkan. Mendamaikan perasaan, menentramkan pikiran.

Iklan

Pithecantropus Rizkipaus

Dulu aku gelap. Dulu aku beku. Dulu aku gagap. Dulu aku mati kutu. Bagai tahi ayam di atas gardu listrik yang lambat laun mengering terpapar waktu. Semua berjalan sesuai tuntunan zaman. Melampaui batas kesadaranku yang imut. Siapa aku sekarang? Dimana aku sekarang? Banyak kenangan melintas kala hujan, kopi dan musik mulai mendayu. Sekarang aku tangguh. Sekeras betis si Erik, bek kanan andalan Rajawali Club. Jangan macam-macam padaku. Walau rinduku cuma satu macam yaitu ke kamu. Kamu yang meneduhkan hati ketika hujaman pikiran menderu-deru.

Kelam yang dulu hinggap, semoga tak akan lagi mendarat. Berkarat-karat. Hih amit-amit. Aku tak mau lagi jadi bagian yang sempit. Aku sudah berubah. Banyak berubah. Kadang jadi serigala, ular kobra, lemari es atau juga seseorang yang lebih berwarna dari langit senja. Dekaplah aku demi cinta yang lebih mesra dari kisah Dilan dan Milea.

Pithecantropus Le Febre

Diam. Dengarkan. Suara angin akhir-akhir ini lebih senyap. Menandakan arah telah berubah. Bagian mana dari hidup ini yang tak kau mengerti? Ketika angin membawa hujan lebih jauh ke tengah. Atau kau masih teguh berdiri di tebing penantian? Semua yang kita tulis akan memenuhi halaman buku hingga harus menyibakkan halaman baru. Cinta harus bermetamorfosis. Seperti pedagang tahu bulat yang juga berjualan cireng isi.

Februari. Bulan kedua di tahun ini. Tahun baru yang berasa baku. Cuacanya biasa. Langitnya indah di kala fajar, senja, dan malam jikalau sedang cerah. Para pencinta bergumul mesra bersama masing-masing selirnya. Si Anang intim dengan mobile legend-nya. Dan aku klimaks oleh teh hangat, musik merdu, dan goreng sukun. Berilah kami semua ketabahan ketika harapan longsor digerus ketidakpastian.

Terima kasih tuhan. Ketika rindu, aku bersyukur, karena Kau tahu yang ku butuhkan. Februari yang tentram oleh cinta yang diidamkan.

Pithecantropus Takdirus

Aku tak tahu kemana takdir akan membawaku. Tuhan tidak pernah memberitahu. Entah pergi ke gunung, hutan, laut, entahlah kemana itu. Mungkin ke Papua, Jogja, Jakarta, atau Cilengkeng. Ke dalam sumur, ke jurang, ke rumah si Ilham, atau lapangan sepak bola. Kemana pun, asal ada kamu, pasti bagus.

Pithecantropus Octoblues

Oktober. Barusan aku putuskan untuk menyeduh jamu kuat. Jamu yang disimpan dalam lemari ukuran sedang. Sebagai pengganti medis yang kimiawi. Sebagai bukti cinta dalam negeri. Jamu kuat dianiaya cap nyonya minul. Ampuh mengatasi ketidakmampuan cinta yang cuma bermodal dengkul.

Oktober. Bulan sepuluh sebelum sebelas dan setelah sembilan. Menanak nasi pada sewaktu siang. Menghidangkan makanan untuk kasih yang kelaparan. Rindu saja tak akan cukup mengenyangkan. Melintas kenangan yang dijejer rapi. Memori denganmu mewarnai dunia lewat perbuatan mesum.

Oktober. Baik-baiklah kepada kami. Kami yang benjol dihantam hujan pikiran sedari September. Menjahit mimpi, memintal harapan. Hidup terasa miring sebelah ketika tidur salah bantal. Baik-baiklah kepada kami. Kami yang berdo’a agar Oktober ditutup dengan mesra.

Pithecantropus Lambonginus

Malam di tempatku, terbuat dari nyeri lambung dan gitar yang merdu. Setelah ini mungkin aku akan buat malam lebih faktual. Tentang mimpi yang emosional. Tentang cinta yang konseptual.

Jangan bergerak. Rindu sedang bergerak. Lebih lengkap. Lebih dekat. Dalam porsi yang lebih akurat. Lebih besar dari ukuran pemahaman. Lebih luas dari peluk dan pengakuan.

Malam ini, malam seperti biasanya, malam ketika mamang mie tek-tek kembali berkeliaran, dan pada sudut yang lain, aku sedang memikirkanmu. Memikirkan adonan yang cocok untuk memilikimu. Dengan kata lain aku ingin berdua menikmati hampa.

Kasih, dekatkanlah telingamu. Biar semua terbisik dengan jelas. Berbagi suara kentut dengan intim. Aku tahu kamu tak akan rela. Rela jika aku masuk angin.