Berita

Pithecantropus Octosilitus

Tiba-tiba dia bergegas menggulung lengan bajunya. Komat-kamit dipikirannya. Kursi dirapikan, teh manis diletakan di meja kaca. Memburu kata yang keburu kabur. Keadaan dan perasaan sedang mendukung. Bismillah, inilah waktunya untuk berkeluh kesah di media sosial. Berharap kasih dari para pembaca.

Oktober. Kamu hampir habis. Tinggal beberapa jam saja, kamu berubah jadi bulan lahirnya si nova atau novi. Mungkin juga si geri. Bulan yang dia mulai dengan berkeyakinan bahwa seekor ikan tidak mungkin sanggup memesan ojek online karena tidak punya kuota. Bulan yang selalu dia amini bahwa suatu saat kisah kasih hidupnya lebih cemerlang dari para penikmat harta ayah bunda.

Oktober. Tenanglah. Selalu ada pelangi setelah hujan. Nikmati saja dulu susu hangat yang dia seduh sebelum kau tidur. Tidurlah dengan nyaman. Walau esok yang disuguhkan hanya ketiadaan. Tenggak saja. Jangan takut akan masa depan! Semuanya akan terasa kenyang karena yang kau telan adalah sebuah ketulusan.

Pithecantropus Bagaipus

BAGAI

Bagai abu tanpa api. Bagai rindu tak bersemi. Bagai kuda tanpa pedati. Bagai aku tak peduli.

Bagai muram tak berdaya. Bagai selimut tak bernyawa. Bagai cinta tanpa asmara.Bagai kamu tanpa koma.

Bagai sempak tanpa bolong. Bagai cinta tanpa bohong. Bagai kamu tanpa cemong. Bagai motor tanpa bodong.

Bagai kasih tanpa kisah. Bagai geli tanpa basah. Bagai gerak tak berpindah. Bagai kita tak berpisah.

Pithecantropus Njamoeikhlas

Nyamuknya ramai sekali. Bak di pasar pagi yang kebanjiran pembeli. Ditepuk sekali, nyamuknya mlengos melarikan diri. Ditepuk berkali-kali, seisi kampung geger, “Ada perayaan apa ini?”.

Nyamuk biadab. Membuat salah terka. Jangan kau hisap darahnya. Dia terlalu manis. Kamu bisa diabetes. Dia jangan diganggu. Sedikit darahnya tercucur, akan ku fogging kau sampai hancur. Berubahlah jadi vegetarian. Ada kangkung di meja makan. Silakan kau habiskan. Jangan dia. Aku tak rela walau dia sedang donor darah.

Nyamuk, apakah kamu dan vampire satu klan? Sudah berapa ratus juta liter darah yang kau telan? Malam ini, aku tahu dia sedang mengobatimu. Menyembuhkan letih dan luka. Semoga senang dan bahagia. Karena terkadang cinta tidak butuh pengakuan. Damailah disana. Aku sudah tentram dengan perasaanku sendiri.

Pithecantropus Septemblues

Puan. Aku seharusnya menulis sajak cinta. Sajak yang sedari tadi dirangkai di kepala. Selesai boker, buyar semua. Bingung mau nulis apa. Kalah genting oleh urusan biologis manusia. Dalam remang lampu-lampu bolham, dalam malam di kaki gunung karang, daku menyapa puan yang hilang batang hidungnya. Tertelan mesin ATM, alat kosmetik dan sistematis hedonistik. Puan berjalan jauh, lebih jauh dari warung Kak Ombi. Puan berkata pergi, setelah bertemu monyet dalam mimpi.

September malas membahas hal-hal yang rumit. Sedikit berpikir keras otak langsung sakit. Sakitnya tuh dimana? Sakitnya tuh di sana-sini di dalam hariku. Pernahkah kamu adu dengkul dengan kuda? Atau pernahkah kau mencoba pahami tugas pokok sebuah kecoa? Kamu tentu tak akan pernah mengetahui semuanya. Sama halnya ketika aku menginginkanmu. Malam ini, atas nama rindu dan rimbunnya kasih sayang.

Pithecantropus Agooschitis

Agustus. Tak ada koneksi. Sambungan terhalang batang dukuh. Sinyal hilang, semua mendadak rusuh. Kuota banyak, rindunya dihambat jaringan kumat. Kasihan dia. Terancam gagal bercinta gara-gara teknologi tiada nyawa. Akhirnya dia menulis serpihan kasih diatas kertas putih. Baru mau dicatat, pena bergetar hebat. Menahan diri dari rasa buang air. Larilah dia ke departemen pengeluaran. Disana dia bertemu banyak kenangan yang lalu lalang. Rindu kembali muncul ketika sebuah peluru emas meluncur dari liang dubur.

Agustus. Bulannya bulan negeri kaya akan perasaan. Tanah tumpah darah para penyair yang setiap malam tenggorokannya dibasahi kopi. Negeri indah, damai dan tenteram yang terkadang gemetar oleh isu pemberitaan. Tanah, air, pohon, batu, hewan, pedagang, artis-artis dunia maya, tukang tambal ban dan atau seluruh mahluk hidup yang ada diatasnya. Semuanya adalah aneka ragam ibu pertiwi. Ibu yang amat kucintai. Indonesia.

Agustus. Saat itu, diantara wanginya bunga kopi yang bermekaran di kaki gunung karang. Semua perasaan dan keinginan berhamburan berterbangan. Tertiup sejuk, terburai ambruk. Cita dan cinta kadang tak sesuai rencana. Detak jantung mulai tak beraturan. Masuk angin atau asam lambung kah ini? Aku bertanya pada diri sendiri. Dia menjawab, “Tenang, kita tidak apa-apa. Ini hanya karena kita bertemu dia di empat mimpi yang diberkati istiqoroh. Kita pasti bahagia dalam lindungan Allah”.

Pithecantropus Julgigos

Cuaca berubah menjadi dingin. Yang dulu hangat, mulai beku oleh angin. Arah mana yang mau kau tuju? Ketika dengkulmu berdarah, kakimu melepuh. Menggenggam erat harapan yang ingin ditempuh. Membeli obat sakit gigi pada jam sepuluh. Duhai malam, katakanlah, siapa disana yang suka minum teh manis ketika sore? Selain mas-mas yang lelah dipojokan warteg dan bau embe? Apakah kamu? Yang tadi mengenakan jaket dan berkata, “Aku tak mau cuaca mengubah suhu rindu. Dia mesti tetap hangat walau cuaca sedang sendu”.

Juli. Aku mau tidur dulu atau tidak itu bukan urusannya. Sebab itu juga aku tak pernah bisa mendapatkanmu dengan sederhana. Aku tersenyum manis ketika sore hari yang lalu mengenangnya. Mereka bilang padaku untuk mendapatkan kamu. Tapi aku rasa aku tidak bisa mencintaimu. Walaupun dipaksa untuk bersebelahan nyaman. Wujudmu kadang lonjong, kadang bundar, kadang serbuk putih. Tidak statis, dan bergantung pada kreasi orang farmasi. Kau memang yang aku cari. Tidak untuk selamanya, cuma saat sedang sakit gigi. Maaf kita beda jenis. Kau benda medis, aku anak manis.

Juli. Sialan. Niat mau curhat, malah jadi minum obat. Cintamu tak akan bisa menyembuhkan luka, kecuali dikecup Cinta Laura. Ubun-ubun jadi tumbuh beruban-uban. Cinta sudah mulai dimakan usia. Harus bijak menentukan pilihan. Mencari jawaban dalam sholat malam.