Bahasa

Pithecantropus Octoblues

Oktober. Barusan aku putuskan untuk menyeduh jamu kuat. Jamu yang disimpan dalam lemari ukuran sedang. Sebagai pengganti medis yang kimiawi. Sebagai bukti cinta dalam negeri. Jamu kuat dianiaya cap nyonya minul. Ampuh mengatasi ketidakmampuan cinta yang cuma bermodal dengkul.

Oktober. Bulan sepuluh sebelum sebelas dan setelah sembilan. Menanak nasi pada sewaktu siang. Menghidangkan makanan untuk kasih yang kelaparan. Rindu saja tak akan cukup mengenyangkan. Melintas kenangan yang dijejer rapi. Memori denganmu mewarnai dunia lewat perbuatan mesum.

Oktober. Baik-baiklah kepada kami. Kami yang benjol dihantam hujan pikiran sedari September. Menjahit mimpi, memintal harapan. Hidup terasa miring sebelah ketika tidur salah bantal. Baik-baiklah kepada kami. Kami yang berdo’a agar Oktober ditutup dengan mesra.

Iklan

Pithecantropus Lambonginus

Malam di tempatku, terbuat dari nyeri lambung dan gitar yang merdu. Setelah ini mungkin aku akan buat malam lebih faktual. Tentang mimpi yang emosional. Tentang cinta yang konseptual.

Jangan bergerak. Rindu sedang bergerak. Lebih lengkap. Lebih dekat. Dalam porsi yang lebih akurat. Lebih besar dari ukuran pemahaman. Lebih luas dari peluk dan pengakuan.

Malam ini, malam seperti biasanya, malam ketika mamang mie tek-tek kembali berkeliaran, dan pada sudut yang lain, aku sedang memikirkanmu. Memikirkan adonan yang cocok untuk memilikimu. Dengan kata lain aku ingin berdua menikmati hampa.

Kasih, dekatkanlah telingamu. Biar semua terbisik dengan jelas. Berbagi suara kentut dengan intim. Aku tahu kamu tak akan rela. Rela jika aku masuk angin.

Pithecantropus Boringus

Ketika terasa menyebalkan. Ketika semua terasa memuakkan. Dan ketika tiada satu pun yang bisa diandalkan. Lebih baik kuputuskan untuk masak nasi goreng. Nasi yang sudah ditanak lalu digoreng. Pakai bumbu dan kecap agar warna berubah agak cokelat. Salah satu warna yang kusuka ketika kamu tidak membuat warna yang cantik dalam suramnya hari yang berat.

Maksud hati ingin menulis rindu yang mengikis. Maksud hati ingin ceritakan cinta yang manis. Namun apa daya, perasaan dan logika seperti tahi ayam dan kue lapis. Yang satu ingin meringis, yang satu kukuh realistis. 

Angin berubah dingin. Layar terkembang menuntun jalan ke pelabuhan. Banyak hal yang diingin. Dayung bergerak, perahu menabrak tebing karang. Cinta, sudahlah aku menyerah saja. Rindumu ternyata tak sebanyak panggilan kerja.
Lampu temaram di kampung gunung karang. Cahayanya redup, bagai bulan terhalang awan. Matamu sudah berbeda pandangan. Mataku sudah berada di perbatasan.

Pithecantropus Julyenos

Bulan itu bersinar diantara ubun-ubun yang berasap digarang pikiran. Sinarnya terang bak kemilau wajah-wajah imut hasil editan. Menyerah, seperti kokok ayam ketika masih malam. Terlalu dini. Terlalu cepat untuk berpasrah diri. Lebih baik kulanjut minum teh. Ada gulanya. Ada semutnya juga. Biarin. Itu tambahan protein.

Juli. Waktu berjalan begitu cepat. Baru saja selesai sholat, adzan datang dengan kilat. Yaelah, ternyata sholatnya telat. Seperti gadis muda yang hamil karena telat ngangkat. Tuhan, mungkin aku tidak tepat. Kukira kuat, ternyata belum hebat. Maklumlah, namanya juga belum cermat.

Apabila waktu bisa ditukar kembali, akan aku tukar masa muda yang sedih dan salah pilih. Diralat, direvisi, atau direformasi. Meniti karir yang lebih rapi. Menata cinta yang lebih mesra. Namun yang lalu biarlah berlalu. Biar dilukis dalam kanvas keikhlasan. Tidak ada penyesalan. Ada kelegaan. Seperti rutinitas pengeluaran pada bilik jamban.

Juli. Agar semuanya wangi dan bersih. Agar semuanya putih dan suci. Agar semuanya tampan dan cantik. Ukir saja bulan ini dengan senyum yang baik. Juli tak akan berubah menjadi Juki jika kita lebih teliti. Juli tak akan jadi Jupri bila kita mendengarnya jernih. Atas nama Juli, biarkan cinta dan harapan tergugah lebih positif.

Pithecantropus Burungius

Di bawah rimbunnya pohon pete tua, yang masih rajin berbuah, di halaman SD, melihat teman sedang memainkan burungnya. Dia memainkannya dengan seksama. Lalu dimandikan setelah puas fokus pada kegiatannya. Burungnya yang bagus menurutku. Walau ukurannya tak besar namun cukup menarik perhatian jika bulunya terlihat rapi. 

Burung temanku memang lucu. Lebih lucu dari humor kamu tentang perbedaan warna kulit yang rasis. Burungnya menggemaskan. Begitu pasti katamu jika jadi suka saat melihatnya. Serasa ingin kamu genggam dan elus dengan lembut. Dan aku pun ikut mainin burung juga. Berbarengan dengannya. Berduet tapi dengan gaya yang berbeda.

Oh burung… Kamu tak mungkin lepas. Kamu terikat kontrak dengan kami para lelaki yang suka memainkanmu. Eh juga perempuan yang mungkin turut menikmatimu. Disuatu hari, dibawah rimbun pepohonan, dalam kontes burung berkicau di perkampungan.

Pithecantropus Barberius III

KERAJAAN AWAN DAN TUKANG CUKUR III (ENDING)

Nah. Dia menghindari wastafel yang barusan tadi dihadapinya. Dia menyandarkan diri di tembok. Kamar mandi seolah menjadi saksi bagaimana dia terkejut melihat dirinya. Rambut yang stylish dan berkilau miliknya hilang seperti habis diterjang gerombolan ABG Alay yang jago jurus Dewa Mabuk. Yang terlihat dicermin adalah kepala yang plontos dan dihiasi kecupan sisa gincu merah merona. Sang Raja marah. Lantas dia berteriak, “Mang Uhaaaaaaaaaannnnnn…….!!!”. Begitu dia memanggil pengawal pribadi sekaligus kepala BIKAMBON (Biro Intelijen Kerajaan Awan Makin Brengsek Oh No). Singkat cerita sang raja menceritakan apa yang sudah dialaminya. Sementara sang raja direkomendaskan memakai wig oleh mang uhan. Dia pun langsung mengumpulkan anggotanya untuk menyelidiki kasus besar ini.

Penyelidikan pun dimulai. Mang Uhan beserta bawahannya memulai dengan penuh semangat. Sehabis Sholat Subuh berjamaah mereka sarapan bubur ayam di alun-alun Kerajaan Awan. Sambil membahas kasus yang akan mereka tuntaskan. Dan tidak lupa berfoto ria bersama untuk di update mereka punya social media. Lumayan. Buat stok ganti profil picture juga katanya. Setelahnya, mereka langsung pergi ke tempat kejadian. Investigasi pun dilakukan. Mengumpulkan sidik jati hingga memeriksa kamera pengamanan. Alhasil mereka pun menemukan bukti bahwa, yang menghabiskan gorengan di pantry adalah salah satu anggotanya. Si Beben. Beben pun langsung mengiyakan. Mengakui perbuatannya. Biar gak Mubadzir katanya. Mang Uhan cuma senyum saja. Kasus pembotakan Raja ini sangat tertutup dilakukan. Agar aib Raja tidak menyebar luas dan menimbulkan keresahan. Bahkan media lokal setempat pun dilarang menginformasikan. Selang beberapa jam kemudian, korps pimpinan Mang Uhan menemukan bukti otentik yang tajam. Bukti yang didapat dari kamera pengamanan dan pesan secarik surat pelaku yang diletakan di meja rias permaisuri kerajaan. Di kamera terlihat ada sosok seseorang yang mengendap-ngendap melawati pagar istana kerajaan hingga masuk ke ruang raja punya tempat peristirahatan. Terlihat di monitor, ada Raja. Lagi tidur. Meluk boneka Beruang. Kasihan. Maklum 1 bulan ditinggal Permaisuri liburan. Ada seseorang juga. Wajahnya samar terlihat. Tapi kepalanya bersinar dengan nampak. Bahkan sempat selfie dia. Sedangkan isi pesan surat itu berbunyi;

“Assalamualaikum Wr. Wb. Dengan datangnya surat ini dan atas rahmat yang maha kuasa ; Saya, Tuan Muda Tukang Cukur yang Cakep, menyataken bahwa ; rambut anda dipangkas dengan cara seksama dan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Sekian. Tertanda, kamu taulah siapa”.. Thanks ya gan.

Mang Uhan dan  pasukannya langsung pergi untuk melakukan penangkapan. Tukang cukur yang baru saja hinggap di Kerajaan Awan diringkus dengan gampang. Seolah sudah tahu akan ada penyergapan. Tanpa ada perlawanan. Tanpa ada penyangkalan. Dia ditangkap tepat di dalam jamban. Ah. Sebenarnya situasinya tidak sebegitu tenang. Mengingat si tukang cukur yang pada saat sebenarnya mengalami gangguan pencernaan. Asam lambungnya naik karena makan mie ayam kepedesan. Bahkan ketika itu dia masuk jamban dengan gelagapan. Karena isi perutnya udah mulai menodai celana dalam.

Si tukang cukur pun dibawa ke ruang rahasia kerajaan. Diintrogasi langsung oleh raja yang ditemani mang Uhan. Si tukang cukur botak itu mengakui dia punya perbuatan. Namun tidak mengatakan maksud dan dia punya tujuan. Sang raja sudah tanggung marah bukan kepalang. Mang Uhan pun diintruksikan untuk menembak kepalanya yang cemerlang. Tiba-tiba, “braaaakkk…!!!”, suara pintu yang didorong paksa karena ada yang datang. Permaisuri yang sudah sebulan tidak pulang, akhirnya muncul dihadapan. Dia meminta mang Uhan untuk tidak melakukan penembakan. Sang raja pun heran. Mang Uhan heran. Si tukang cukur enggak. Lantas raja berkata, “ada apa ini istriku?”, bilangnya tegang. “Jangan lakukan itu suamiku”, bilangnya tenang. Sang permasuri pun menjelaskan bahwa si tukang cukur itu adalah anak kandung dari mereka berdua yang ketika raja menyuruh tapi sebenarnya tidak permaisuri gugurkan. “Daripada aborsi lebih baik aku membesarkannya dan ku titipkan pada nenek di negeri seberang”. Itu yang permaisuri katakan. Dalang yang mencukur rambut sang raja adalah permaisuri yang berharap sang raja bisa menerima ganjaran. Yaitu balasan pelajaran bagaimana menyikapi akibat perbuatan nakal mereka saat masih remaja. Jangan takut cibiran manusia. Harusnya lebih takut pada dosa. Begitu maksudnya. Sang raja pun ingat kejadiannya. Dan percaya bahwa si tukang cukur adalah anaknya setelah melihat tanda lahir berupa tahi lalat diketek berbentuk bintang yang juga dimiliki oleh raja. Mereka bertiga pun larut dalam haru kebahagiaan. Saling berpelukan. Mang Uhan jadi obat nyamuknya. Tamat.