Pithecantropus Julyenos

Bulan itu bersinar diantara ubun-ubun yang berasap digarang pikiran. Sinarnya terang bak kemilau wajah-wajah imut hasil editan. Menyerah, seperti kokok ayam ketika masih malam. Terlalu dini. Terlalu cepat untuk berpasrah diri. Lebih baik kulanjut minum teh. Ada gulanya. Ada semutnya juga. Biarin. Itu tambahan protein.

Juli. Waktu berjalan begitu cepat. Baru saja selesai sholat, adzan datang dengan kilat. Yaelah, ternyata sholatnya telat. Seperti gadis muda yang hamil karena telat ngangkat. Tuhan, mungkin aku tidak tepat. Kukira kuat, ternyata belum hebat. Maklumlah, namanya juga belum cermat.

Apabila waktu bisa ditukar kembali, akan aku tukar masa muda yang sedih dan salah pilih. Diralat, direvisi, atau direformasi. Meniti karir yang lebih rapi. Menata cinta yang lebih mesra. Namun yang lalu biarlah berlalu. Biar dilukis dalam kanvas keikhlasan. Tidak ada penyesalan. Ada kelegaan. Seperti rutinitas pengeluaran pada bilik jamban.

Juli. Agar semuanya wangi dan bersih. Agar semuanya putih dan suci. Agar semuanya tampan dan cantik. Ukir saja bulan ini dengan senyum yang baik. Juli tak akan berubah menjadi Juki jika kita lebih teliti. Juli tak akan jadi Jupri bila kita mendengarnya jernih. Atas nama Juli, biarkan cinta dan harapan tergugah lebih positif.

Pithecantropus Burungius

Di bawah rimbunnya pohon pete tua, yang masih rajin berbuah, di halaman SD, melihat teman sedang memainkan burungnya. Dia memainkannya dengan seksama. Lalu dimandikan setelah puas fokus pada kegiatannya. Burungnya yang bagus menurutku. Walau ukurannya tak besar namun cukup menarik perhatian jika bulunya terlihat rapi. 

Burung temanku memang lucu. Lebih lucu dari humor kamu tentang perbedaan warna kulit yang rasis. Burungnya menggemaskan. Begitu pasti katamu jika jadi suka saat melihatnya. Serasa ingin kamu genggam dan elus dengan lembut. Dan aku pun ikut mainin burung juga. Berbarengan dengannya. Berduet tapi dengan gaya yang berbeda.

Oh burung… Kamu tak mungkin lepas. Kamu terikat kontrak dengan kami para lelaki yang suka memainkanmu. Eh juga perempuan yang mungkin turut menikmatimu. Disuatu hari, dibawah rimbun pepohonan, dalam kontes burung berkicau di perkampungan.

Pithecantropus Barberius III

KERAJAAN AWAN DAN TUKANG CUKUR III (ENDING)

Nah. Dia menghindari wastafel yang barusan tadi dihadapinya. Dia menyandarkan diri di tembok. Kamar mandi seolah menjadi saksi bagaimana dia terkejut melihat dirinya. Rambut yang stylish dan berkilau miliknya hilang seperti habis diterjang gerombolan ABG Alay yang jago jurus Dewa Mabuk. Yang terlihat dicermin adalah kepala yang plontos dan dihiasi kecupan sisa gincu merah merona. Sang Raja marah. Lantas dia berteriak, “Mang Uhaaaaaaaaaannnnnn…….!!!”. Begitu dia memanggil pengawal pribadi sekaligus kepala BIKAMBON (Biro Intelijen Kerajaan Awan Makin Brengsek Oh No). Singkat cerita sang raja menceritakan apa yang sudah dialaminya. Sementara sang raja direkomendaskan memakai wig oleh mang uhan. Dia pun langsung mengumpulkan anggotanya untuk menyelidiki kasus besar ini.

Penyelidikan pun dimulai. Mang Uhan beserta bawahannya memulai dengan penuh semangat. Sehabis Sholat Subuh berjamaah mereka sarapan bubur ayam di alun-alun Kerajaan Awan. Sambil membahas kasus yang akan mereka tuntaskan. Dan tidak lupa berfoto ria bersama untuk di update mereka punya social media. Lumayan. Buat stok ganti profil picture juga katanya. Setelahnya, mereka langsung pergi ke tempat kejadian. Investigasi pun dilakukan. Mengumpulkan sidik jati hingga memeriksa kamera pengamanan. Alhasil mereka pun menemukan bukti bahwa, yang menghabiskan gorengan di pantry adalah salah satu anggotanya. Si Beben. Beben pun langsung mengiyakan. Mengakui perbuatannya. Biar gak Mubadzir katanya. Mang Uhan cuma senyum saja. Kasus pembotakan Raja ini sangat tertutup dilakukan. Agar aib Raja tidak menyebar luas dan menimbulkan keresahan. Bahkan media lokal setempat pun dilarang menginformasikan. Selang beberapa jam kemudian, korps pimpinan Mang Uhan menemukan bukti otentik yang tajam. Bukti yang didapat dari kamera pengamanan dan pesan secarik surat pelaku yang diletakan di meja rias permaisuri kerajaan. Di kamera terlihat ada sosok seseorang yang mengendap-ngendap melawati pagar istana kerajaan hingga masuk ke ruang raja punya tempat peristirahatan. Terlihat di monitor, ada Raja. Lagi tidur. Meluk boneka Beruang. Kasihan. Maklum 1 bulan ditinggal Permaisuri liburan. Ada seseorang juga. Wajahnya samar terlihat. Tapi kepalanya bersinar dengan nampak. Bahkan sempat selfie dia. Sedangkan isi pesan surat itu berbunyi;

“Assalamualaikum Wr. Wb. Dengan datangnya surat ini dan atas rahmat yang maha kuasa ; Saya, Tuan Muda Tukang Cukur yang Cakep, menyataken bahwa ; rambut anda dipangkas dengan cara seksama dan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Sekian. Tertanda, kamu taulah siapa”.. Thanks ya gan.

Mang Uhan dan  pasukannya langsung pergi untuk melakukan penangkapan. Tukang cukur yang baru saja hinggap di Kerajaan Awan diringkus dengan gampang. Seolah sudah tahu akan ada penyergapan. Tanpa ada perlawanan. Tanpa ada penyangkalan. Dia ditangkap tepat di dalam jamban. Ah. Sebenarnya situasinya tidak sebegitu tenang. Mengingat si tukang cukur yang pada saat sebenarnya mengalami gangguan pencernaan. Asam lambungnya naik karena makan mie ayam kepedesan. Bahkan ketika itu dia masuk jamban dengan gelagapan. Karena isi perutnya udah mulai menodai celana dalam.

Si tukang cukur pun dibawa ke ruang rahasia kerajaan. Diintrogasi langsung oleh raja yang ditemani mang Uhan. Si tukang cukur botak itu mengakui dia punya perbuatan. Namun tidak mengatakan maksud dan dia punya tujuan. Sang raja sudah tanggung marah bukan kepalang. Mang Uhan pun diintruksikan untuk menembak kepalanya yang cemerlang. Tiba-tiba, “braaaakkk…!!!”, suara pintu yang didorong paksa karena ada yang datang. Permaisuri yang sudah sebulan tidak pulang, akhirnya muncul dihadapan. Dia meminta mang Uhan untuk tidak melakukan penembakan. Sang raja pun heran. Mang Uhan heran. Si tukang cukur enggak. Lantas raja berkata, “ada apa ini istriku?”, bilangnya tegang. “Jangan lakukan itu suamiku”, bilangnya tenang. Sang permasuri pun menjelaskan bahwa si tukang cukur itu adalah anak kandung dari mereka berdua yang ketika raja menyuruh tapi sebenarnya tidak permaisuri gugurkan. “Daripada aborsi lebih baik aku membesarkannya dan ku titipkan pada nenek di negeri seberang”. Itu yang permaisuri katakan. Dalang yang mencukur rambut sang raja adalah permaisuri yang berharap sang raja bisa menerima ganjaran. Yaitu balasan pelajaran bagaimana menyikapi akibat perbuatan nakal mereka saat masih remaja. Jangan takut cibiran manusia. Harusnya lebih takut pada dosa. Begitu maksudnya. Sang raja pun ingat kejadiannya. Dan percaya bahwa si tukang cukur adalah anaknya setelah melihat tanda lahir berupa tahi lalat diketek berbentuk bintang yang juga dimiliki oleh raja. Mereka bertiga pun larut dalam haru kebahagiaan. Saling berpelukan. Mang Uhan jadi obat nyamuknya. Tamat.

Pithecantropus Oktobroth

Oktober

Suatu hari Aku akan menjadi Aka kalau sedang salah nulis. Atau menjadi Aki, karena tua dalam bahasa Sunda, juga dlm bentuk komponen elektrik.

Oktober

Aku adalah sebagaimana Kau menyebutku. Membicarakanku dibelakang seolah Kau Maha Tahu. Dalam perbincangan di depan saat Interview. 

Oktober

Aku dan Malam berteman sejak dulu. Ketika malam sudah kelabu, aku pulas dengan mimpiku.

Oktober

Apabila Malam, kepalaku mendadak rimbun. Tumbuh dahan dan daun. Ingat angan, ingat Timun. Timun? Terserah, namanya juga melamun.

Oktober

Katakan padaku. Siapakah pencipta jingle Tahu Bulat digoreng mendadak itu? Namun, aku yakin kamu tak tahu. Sama pula dengan bagaimana perasaanku.

Pithecantropus Septikus

September

Barusan aku selesai makan Getuk dan enak. Kiriman langsung dari tetangga yang baik. Makanan sederhana, cita rasa tradisi nan kaya. Seketika aku lupa kau sudah singgah dipelukan siapa.

September

Kiri-Kanan kulihat saja banyak Janur Kuning melambai. Mereka serempak, seperti sudah janjian. Hari menjadi panas berkat kekuatan doa si pawang hujan. Hati menjadi panas ketika dapat undangan dari mantan.

September

Langit bertambah cantik ketika malam. Dihiasi triliyunan bintang kecil dan purnama yang benderang. Indah namun mencemaskan. Kadang aku takut si Anang jadi Serigala jadi-jadian. Atau kamu tiba-tiba datang di mimpiku dengan membawa sebilah parang. Atau Ibuku yang ikutan audisi Dangdut Pantura. Hm, menyeramkan.

September

Anginnya klasik. Cuacanya fantastik. Semua dibungkus rapi oleh rindu yang tiba-tiba tumpang tindih.

Pithecantropus Julilovis

Juli dengarkan ini :

Ayah dan ibu menikah karena cinta. Kita hasil dari cinta mereka. Mengapa kau menginginkan yang lebih dari cinta?

Barang siapa yang mau denganmu, adalah ia yang suka koleksi barang kecuali cintamu. Barangkali. Cinta tak bisa digambarksn wujudnya kecuali cinta laura.
Sesungguhnya yang paling dibutuhkan oleh CINTA di dunia ini adalah ‘T’. Tanpanya, cuma jadi CINA. Lalu ada yg lebih sulit dari kisah percintaan. Yaitu kasih yang tak dicintakan.

Cinta tidak ada apa-apanya dibandingkan roti keju yang kau idamkan ketika lapar.