Bahasa

Pithecantropus Aprimeiramadanus

Aku marah pada batu. Ku hujat, ku caci, dan ku ludahi, dia tetap bisu. Batunya tetap membatu. Mati kutu. Bagai keteguhan hatimu. Yang tak goyah walau ribuan lelaki klimis meminta darahmu. Kau memilihku. Seseorang yang senang dengan makan sorabi sewaktu subuh.

April terlewat dengan lupa. Burung-burung terbang dalam udara yang cerah. Satu burung hinggap di celana. Mengeram menunggu di deportasi ke sarangnya. Menanti kasih membelai mesra.

Mei dan ramadan sedang berjalan. Di akhir ramadan, orang itu gugup menjelang adzan. Tentang apa yang nanti akan dia hidangkan. Tumis bolham atau sop kaki meja sambal belacan? Semoga semuanya kenyang dan senang, walau yang disuguhkan hanya ketiadaan.

Pithecantropus Marethololus

Meteor jatuh menghantam keras pohon jati. Seisi kampung menjadi riuh, bertanya-tanya “apa setelah ini akan hujan uang di kebun kami?”. Banyak harap yang harus dimaklumi. Kampung ini menjadi sunyi setelah ditinggal petani. Dia yang pergi, pergi setelah menanam benih kasih.

Seorang peramal sedang meramal dirinya sendiri. Menerka apa yang terjadi jika minum es teh manis dicampur sabun mandi. Dan tahun terus berganti, rindu masih saja mengusik. Raut wajahnya masih saja terngiang meski sedang buang air. Setelah cebokan ketiga, diputuskan, rindu ini harus dituntaskan dengan bertemu kasih.

Maret tersisa setengah lagi. Seorang petani diburu peramal pagi-pagi, mau bertanya nasib dikemudian hari. Pintu diketuk berulang kali. Namun petani tidak sanggup memanen benih buah rindunya sendiri. Peramal pergi, pergi setelah menerima wangsit. Tempo hari, dia memilih untuk tidak berpilih kasih.

Ini maret sayang, jangan dulu bergegas menuju januari lagi.

Pithecantropus Njamoeikhlas

Nyamuknya ramai sekali. Bak di pasar pagi yang kebanjiran pembeli. Ditepuk sekali, nyamuknya mlengos melarikan diri. Ditepuk berkali-kali, seisi kampung geger, “Ada perayaan apa ini?”.

Nyamuk biadab. Membuat salah terka. Jangan kau hisap darahnya. Dia terlalu manis. Kamu bisa diabetes. Dia jangan diganggu. Sedikit darahnya tercucur, akan ku fogging kau sampai hancur. Berubahlah jadi vegetarian. Ada kangkung di meja makan. Silakan kau habiskan. Jangan dia. Aku tak rela walau dia sedang donor darah.

Nyamuk, apakah kamu dan vampire satu klan? Sudah berapa ratus juta liter darah yang kau telan? Malam ini, aku tahu dia sedang mengobatimu. Menyembuhkan letih dan luka. Semoga senang dan bahagia. Karena terkadang cinta tidak butuh pengakuan. Damailah disana. Aku sudah tentram dengan perasaanku sendiri.

Pithecantropus Octogenesis

Akhirnya tiba pada Oktober yang mesra. Jiwa-jiwa yang gersang mulai diterpa angin pancaroba. Aku duduk disampingnya, dalam suasana damai khas negeri sunda. Bersama goreng singkong, teh manis, dan tahi ayam yang diinjak sandal si Rahmat. Nikmat dan semerbak tercampur udara lembab. Cinta dan rindu pun diralat agar tidak salah alamat.

Oktober. Aku minum air kopi. Setelah itu aku kembung. Kopinya kupandangi, air nya ku minum. Segalon. Minum sendiri. Agar kamu yakin aku mandiri. Lalu apa aku ngantuk? Tidak. Belum. Mungkin akibat tidur siang. Mungkin juga karena ada kamu yang dipikirkan. Sial! Kamu yang tidak mandiri. Kenapa harus aku memikirkanmu. Padahal kau punya kepala dan otak untuk memikirkan dirimu sendiri. Jadi ini rindu? Kenapa selalu berdegup ketika bisu?

Hey, Einstein, apa kau pernah masuk angin? Seharusnya kau pernah. Agar tau rasanya dikerokin. Tidak hanya soal fisika. Ketika kamu jatuh cinta, rumus apa yang kamu gunakan untuk menaklukan si dia? Beri aku jawabannya. Aku buta fisika. Buta kimia. Dan juga buta huruf ketika tutup mata. Semoga rindunya tidak pernah salah alamat karena buta arah.

Pithecantropus Septemblues

Puan. Aku seharusnya menulis sajak cinta. Sajak yang sedari tadi dirangkai di kepala. Selesai boker, buyar semua. Bingung mau nulis apa. Kalah genting oleh urusan biologis manusia. Dalam remang lampu-lampu bolham, dalam malam di kaki gunung karang, daku menyapa puan yang hilang batang hidungnya. Tertelan mesin ATM, alat kosmetik dan sistematis hedonistik. Puan berjalan jauh, lebih jauh dari warung Kak Ombi. Puan berkata pergi, setelah bertemu monyet dalam mimpi.

September malas membahas hal-hal yang rumit. Sedikit berpikir keras otak langsung sakit. Sakitnya tuh dimana? Sakitnya tuh di sana-sini di dalam hariku. Pernahkah kamu adu dengkul dengan kuda? Atau pernahkah kau mencoba pahami tugas pokok sebuah kecoa? Kamu tentu tak akan pernah mengetahui semuanya. Sama halnya ketika aku menginginkanmu. Malam ini, atas nama rindu dan rimbunnya kasih sayang.

Pithecantropus Agooschitis

Agustus. Tak ada koneksi. Sambungan terhalang batang dukuh. Sinyal hilang, semua mendadak rusuh. Kuota banyak, rindunya dihambat jaringan kumat. Kasihan dia. Terancam gagal bercinta gara-gara teknologi tiada nyawa. Akhirnya dia menulis serpihan kasih diatas kertas putih. Baru mau dicatat, pena bergetar hebat. Menahan diri dari rasa buang air. Larilah dia ke departemen pengeluaran. Disana dia bertemu banyak kenangan yang lalu lalang. Rindu kembali muncul ketika sebuah peluru emas meluncur dari liang dubur.

Agustus. Bulannya bulan negeri kaya akan perasaan. Tanah tumpah darah para penyair yang setiap malam tenggorokannya dibasahi kopi. Negeri indah, damai dan tenteram yang terkadang gemetar oleh isu pemberitaan. Tanah, air, pohon, batu, hewan, pedagang, artis-artis dunia maya, tukang tambal ban dan atau seluruh mahluk hidup yang ada diatasnya. Semuanya adalah aneka ragam ibu pertiwi. Ibu yang amat kucintai. Indonesia.

Agustus. Saat itu, diantara wanginya bunga kopi yang bermekaran di kaki gunung karang. Semua perasaan dan keinginan berhamburan berterbangan. Tertiup sejuk, terburai ambruk. Cita dan cinta kadang tak sesuai rencana. Detak jantung mulai tak beraturan. Masuk angin atau asam lambung kah ini? Aku bertanya pada diri sendiri. Dia menjawab, “Tenang, kita tidak apa-apa. Ini hanya karena kita bertemu dia di empat mimpi yang diberkati istiqoroh. Kita pasti bahagia dalam lindungan Allah”.