Pithecantropus Apriliseries

April. Semua sudah diserap seperti yang tersirat. Disekap dan diucap hingga tersadap. Mobat-mabit hati ini diembat. Apakah lebih baik bila aku tetap menyuarakan namamu? Baiklah, aku habisi dulu mie instan sebelum menjamah tentang kamu. Tentang nama-nama yang sudah terlanjur menjadi rindu.

April. Kamu tiba seperti biasanya. Menggusur maret karena sudah keharusan. Dalam hisapan tembakau ini ada oksigen yang dibagi untuk kamu. Dalam isi dompet ini harusnya ada wajah kamu sebagai jimat pelindung hasrat laparku. Di tengah ramainya kota, aku bisa senang dubidubidudu. Di tengah ramainya kota, aku bisa bernyanyi shalalala. Tapi tunggu. Dalam kamar aku menemukanku yang sensitif. Sendiri dan menjadi konservatif. Dihajar pilu yang dubidupapapcuaptiwdidiwdidiw. Huff. Terkadang hidup ini terasa lebih sempit ketika kamu mengenakan kancut ukuran anak PAUD.

April. Apa yang lebih baik dari jus gratis pemberian si rahmat? Ternyata jawabnya adalah peluk kamu ketika dunia terasa sedang runtuh. Kamu. Maafkan, aku harus rindu. Kecuali sedang mules, aku harus boker dan kamu tahu itu. Jika banyak pikiran, rasanya hidup digrogoti waktu. Boker tak tenang, rindu pun jadi kelabu. Di April yang cantik, semua angan menjadi hal yang klasik untuk ketika idamkan cinta yang romantik.

Pithecantropus Mentalis

Angin bertiup dari selatan ke utara. Membawa kabar nasib yang belum saja berkecup mesra. Apa kabarmu? Bagaimana dengan korengmu? Sudahkah tak sebasah ketika kukatakan selamat berpisah? Pada setiap rindu yang belum kau kencani, aku katakan, selamat tidur sayang, semoga mimpimu nyaman.

Hari demi hari berlalu. Dada semakin menggebu. Menumpah darah rindu, berdegup jantungnya syahdu. Mengingatmu mengecup keningku. Melunturkan runyam di kepala dan di dada. Dada, yang ternyata itu mana buah juga.

Bermusim-musim sudah terlewati. Dari musim hujan hingga musim kecapi. Aku masih disini. Dari musim kawin hingga musim hujan lagi. Aku masih disini. Lama ini terasa sebentar jika amat dinikmati. Tangan tengadah meminta pada illahi. Merefleksi diri dengan secangkir kopi.

Berarak-arak awan membimbing ke masa depan yang diharapkan. Berbekal semangat juang dan serantang makanan akan kulawan. Melawan semua ketidakpastian. Pedangku lebih panjang dari lidahmu yang berkata seakan kau jagoan. Aku tidak takut dikalahkan. Sebab sebelum sholat, aku telah rancang catatan permintaan pada Tuhan. Karena Dia maha mengabulkan. Lebih dari kantor pegadaian.

Pithecantropus Marchongis

Dahulu kala, tidak lama-lama amat, tetapi cukup, telah turun ke dunia, seorang lelaki tampan mempesona. Buah hati karya kolaborasi ayah dan bundanya. Lelaki itu menangis yang disambut haru pada maret pagi di hari minggu. Dibubuhi nama dan do’a agar kelak menjadi anak yang berguna bagi siapa? Bagi semuanyalah.

Anak yang saban hari mandi air hujan di halaman rumah tanpa busana. Anak yang polos tanpa malu ketika onderdilnya dipamerkan pada hajat sunat. Anak yang giginya rontok karena cokelat. Anak yang tumbuh menjadi pria karena sudah dewasa. Itu aku, anak mereka. Bukan anak-anak, karena sekarang sudah tua. Terus bertambah usia, tergerus waktu dengan berbagai aneka cerita.

Maret, hujanmu masih menderu. Ibu-ibu kocar-kacir mengejar pakaian yang sedang dijemur. Hujan besar, hujan kecil, sama-sama hujan rindu. Kenangan berangsur muncul ketika hujan turun dengan makmur.

Maret, izinkan aku berkata-kata. Dengar semua getar doa. Merayakan suka cita dengan yang maha kuasa. Tidak mengajak si Nova karena dia sibuk mengurus anaknya. Aku saja. Biar aku saja. Cukup aku saja. Maret itu punyaku. Ada hari yang mesti dibubuhi rindu. Juga cinta yang harus segera ditempeli kamu.

Pithecantropus Singleanus

Matahari. Kita jarang bertegur sapa. Kita jarang bertatap cahaya. Ketika kau meninggi, aku baru saja membuka mata. Entah berapa masa hal itu terlewat begitu saja. Entah berapa banyak rezekiku yang dipatok ayam. Namun tak masalah, karena nanti ayamnya tinggal ku makan. Sehingga rezekinya menyatu dengan tubuhku secara maksimal. Matahari meredup ketika senja. Saat itu, sore, di warung teh Uri, banyak kalimat di kepala. Menanyakan cinta ada dimana. Apakah cinta hanya milik si Rangga?

Banyak yang bilang single itu menyenangkan. Bisa dekati dia, dia, dia, dia dan dia, kecuali orangnya sudah tak bernafas. Menjadi single itu tidak semudah mengedit profile picture akun social media. Banyak halangan dan juga rintangan yang menjadi masalah dan beban pikiran. Single, berkelana setiap hari demi mendapat cinta suci. Single yang sering dibanggakan dengan berkata “i’m single and very happy” adalah single yang menutup lukanya sendiri dengan memanipulasi persepsi. Mengenai hal itu, aku sendiri sangat amat yakin bahwa single adalah bahasa Inggris.

Menatap langit. Hari sudah benderang. Dejavu. Bangun siang seperti kemarin. Matahari mulai menatap dengan garangnya. Menghidupi semua mahluk bumi. Memberi kesempatan bagi jutaan single di dunia untuk menemukan cinta abadinya. Cahaya cinta ciptaan Yang Maha Esa. Diseberang laut, diatas gunung, atau disamping pak kusir yang sedang bekerja, cinta ada dimana-mana. Kenapa kita masih sendiri saja? Apakah seharusnya mata hati lebih terbuka? Lebih terbuka dari kaum yang pamer belahan dada di facebooknya. Oh Tuhan bimbinglah kami kesana. Merasakan kembali denyut cinta yang berdegup di dada. Single tak selamanya bahagia. Single tak bahagia selamanya. I’m single and i’m very worry.

Pithecantropus Februarus

Februari. Dulu aku melihatnya bak mutiara dalam lumpur. Lama melebur, dia jadi tahi kucing diatas kasur. Cinta kabur, rindu dikubur. Baunya sampai Singapur? Tidak, cuma sampai nempel di dubur. Lama melamun akhirnya kutelan bubur. Enak, sewaktu sore yang dihabiskan dengan cara mendekam di dapur.

Februari. Lagi-lagi aku menulis dengan susah payah. Sambil tahan nafas sekuatnya. Sambil mengepul asap kretek sebagai salah satu bantuanku untuk meningkatkan kesejahteraan para petani tembakau Indonesia. Bulan yang teramat datar. Bulan yang semakin hambar. Tiada cinta di dada. Yang ada hanya tahi lalat yang dengan manisnya menghiasi dada. Dada. Katanya itu nama buah. 

Februari. Apakah aku ditakdirkan begini saja? Hidup santai dan gembira dikelilingi warna-warni lucu dan sendu hasil perbuatan lingkungan yang nyaman. Ditraktir makan-makan setiap minggu merayakan kejombloan si Firhan. Aku tak mau si Firhan. Aku ingin dia. Dia adalah penjahat yang diidam-idamkan untuk menjarah semua perasaan. Dia yang mengajak janjian agar bertemu di mimpi setiap malam. Aku adalah tipe protagonis pasrah yang siap teraniaya dengan bahagia olehnya.

Pithecantropus Patahatikus

Saat pertama aku patah hati, aku jadi malas untuk mandi pagi. Kecuali kalau masih ada jadwal sekolah dan kalau ada urusan penting dihari libur. Patah hati yang membuat aku paham tata cara berpacaran sewaktu cinta monyet-monyetan. Patah hati yang membuat pintu kamar terkunci dan lagu-lagu sendu diperdengarkan. Patah hati yang mengubah arah sisiran rambut menjadi menyaping ke kanan. Patah hati yang menjadi menyenangkan karena makin bertambahnya jumlah gebetan. Patah hati yang berubah menjadi broken heart kalau diucapkan mas David Beckham.

Selama ini aku mengira patah hati hanya disebabkan oleh cinta saja. Masya Allah, banyak yang lain juga ternyata. Misalnya si Cepy yang waktu itu menginap di rumahku dan motor kesayangannya digondol maling pada waktu subuh di rumahnya. Selepas itu dia terluka. Enggan menginap dimanapun karena trauma. Karena kejadian itu dia jadi tidak suka makan dedaunan lagi seperti biasanya. Dan itu bohong adanya. Dia tetap sama, memakan makanan yang standar konsumsi manusia. Ternyata, patah hati bukan disebabkan terlalu cinta atau sayang, tetapi didasari oleh kehilangan.

Tips: Jika engkau tidak mau rasakan patah hati, janganlah kau menggosok gigi. Agar timbul sakit gigi. Dengan begitu kamu bisa berkata, “sakit hati (patah hati) tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sakit gigi”. Itu.