Bulan: Juli 2018

Pithecantropus Julgigos

Cuaca berubah menjadi dingin. Yang dulu hangat, mulai beku oleh angin. Arah mana yang mau kau tuju? Ketika dengkulmu berdarah, kakimu melepuh. Menggenggam erat harapan yang ingin ditempuh. Membeli obat sakit gigi pada jam sepuluh. Duhai malam, katakanlah, siapa disana yang suka minum teh manis ketika sore? Selain mas-mas yang lelah dipojokan warteg dan bau embe? Apakah kamu? Yang tadi mengenakan jaket dan berkata, “Aku tak mau cuaca mengubah suhu rindu. Dia mesti tetap hangat walau cuaca sedang sendu”.

Juli. Aku mau tidur dulu atau tidak itu bukan urusannya. Sebab itu juga aku tak pernah bisa mendapatkanmu dengan sederhana. Aku tersenyum manis ketika sore hari yang lalu mengenangnya. Mereka bilang padaku untuk mendapatkan kamu. Tapi aku rasa aku tidak bisa mencintaimu. Walaupun dipaksa untuk bersebelahan nyaman. Wujudmu kadang lonjong, kadang bundar, kadang serbuk putih. Tidak statis, dan bergantung pada kreasi orang farmasi. Kau memang yang aku cari. Tidak untuk selamanya, cuma saat sedang sakit gigi. Maaf kita beda jenis. Kau benda medis, aku anak manis.

Juli. Sialan. Niat mau curhat, malah jadi minum obat. Cintamu tak akan bisa menyembuhkan luka, kecuali dikecup Cinta Laura. Ubun-ubun jadi tumbuh beruban-uban. Cinta sudah mulai dimakan usia. Harus bijak menentukan pilihan. Mencari jawaban dalam sholat malam.

Iklan