Bulan: Maret 2018

Pithecantropus Marethius

Maret beberapa ratus juta detik lalu. Dia itu terbuat dari kuatnya rasa cinta. Dia menimbulkan haru bahagia. Dia terjun ke dunia setelah berbulan-bulan mendekam dipangkuan ibu. Entah berapa bibir yang mendarat di kedua pipinya. Di keningnya. Di bibir dan hidungnya juga. Semua terjadi karena rasa suka. Gemas dengan wujudnya. Yang sehabis mandi sore wangi oleh lumuran minyak telon dan bedak. Dia yang lahir untuk dikenal dengan kamu panggil sayang, si jelek, atau cinta.

Maret beberapa juta menit yang lalu. Dia mengenalmu. Memberikan warna lain dalam hidupmu. Mengingatkanmu bersamanya pada kenangan tempo dulu. Dia yang suka kejepit resleting waktu itu. Dia yang rajin ke dokter gigi pada minggu. Dia yang tidur sambil memegang pipi ibu. Dia yang berkata, “Aku ingin beli mobil buntung agar seluruh keluargaku keangkut”. Ah dia itu. Dia yang gemar ngemut makanan sampai umur sepuluh. Dia yang suka kamu rindu adalah dia yang pernah bilang rindu ke kamu.

Duhai maret. Bulan yang bagus untuk konsumsi nasi goreng sendirian. Nasinya digoreng, piringnya dimakan. Banyak khilaf yang belum dimaafkan. Banyak rindu yang belum dipertemukan. Ku tanya malam, dapatkah kau lihat perbedaan yang tak terungkapkan? Tapi mengapa kau tak berubah. Ada apa dengan anu?

Iklan