Bulan: Februari 2018

Pithecantropus Rizkipaus

Dulu aku gelap. Dulu aku beku. Dulu aku gagap. Dulu aku mati kutu. Bagai tahi ayam di atas gardu listrik yang lambat laun mengering terpapar waktu. Semua berjalan sesuai tuntunan zaman. Melampaui batas kesadaranku yang imut. Siapa aku sekarang? Dimana aku sekarang? Banyak kenangan melintas kala hujan, kopi dan musik mulai mendayu. Sekarang aku tangguh. Sekeras betis si Erik, bek kanan andalan Rajawali Club. Jangan macam-macam padaku. Walau rinduku cuma satu macam yaitu ke kamu. Kamu yang meneduhkan hati ketika hujaman pikiran menderu-deru.

Kelam yang dulu hinggap, semoga tak akan lagi mendarat. Berkarat-karat. Hih amit-amit. Aku tak mau lagi jadi bagian yang sempit. Aku sudah berubah. Banyak berubah. Kadang jadi serigala, ular kobra, lemari es atau juga seseorang yang lebih berwarna dari langit senja. Dekaplah aku demi cinta yang lebih mesra dari kisah Dilan dan Milea.

Iklan

Pithecantropus Le Febre

Diam. Dengarkan. Suara angin akhir-akhir ini lebih senyap. Menandakan arah telah berubah. Bagian mana dari hidup ini yang tak kau mengerti? Ketika angin membawa hujan lebih jauh ke tengah. Atau kau masih teguh berdiri di tebing penantian? Semua yang kita tulis akan memenuhi halaman buku hingga harus menyibakkan halaman baru. Cinta harus bermetamorfosis. Seperti pedagang tahu bulat yang juga berjualan cireng isi.

Februari. Bulan kedua di tahun ini. Tahun baru yang berasa baku. Cuacanya biasa. Langitnya indah di kala fajar, senja, dan malam jikalau sedang cerah. Para pencinta bergumul mesra bersama masing-masing selirnya. Si Anang intim dengan mobile legend-nya. Dan aku klimaks oleh teh hangat, musik merdu, dan goreng sukun. Berilah kami semua ketabahan ketika harapan longsor digerus ketidakpastian.

Terima kasih tuhan. Ketika rindu, aku bersyukur, karena Kau tahu yang ku butuhkan. Februari yang tentram oleh cinta yang diidamkan.