Bulan: Januari 2018

Pithecantropus Takdirus

Aku tak tahu kemana takdir akan membawaku. Tuhan tidak pernah memberitahu. Entah pergi ke gunung, hutan, laut, entahlah kemana itu. Mungkin ke Papua, Jogja, Jakarta, atau Cilengkeng. Ke dalam sumur, ke jurang, ke rumah si Ilham, atau lapangan sepak bola. Kemana pun, asal ada kamu, pasti bagus.

Iklan

Pithecantropus Januaryon

Wahai Januari. Tolong sampaikan maaf pada November dan Desember kemarin aku belum menyapanya rutin. Seperti yang biasa. Biasa yang seperti kita habiskan dengan berkata-kata. Singkatnya, aku lupa. Lupa hingga 2 bulan terlewat begitu saja. Tanpa ada tegur manja, atau gelisah tak berdaya. Ingin hati berjumpa, namun apa daya momen terlintas begitu basah.

Januari. Tahun baru yang dipenuhi mercon berwarna-warni. Mirip koleksi sempak di dalam lemari. Warnanya banyak, modelnya segitiga sama sisi. Sempak yang melindungi jutaan manusia di bumi dari jahatnya udara dingin. Sempak tidak akan berguna jika kamu tidak punya kemaluan. Rasa malu pada sesama spesies dan juga tuhan.

Januari. Ah aku pusing jika harus menulis rindu. Banyak hal yang perlu dirunut selain kamu. Cinta bisa saja berubah. Namun rindu selalu membawaku pada hangat selimut dihari yang basah. Rindu akan kekal selama tidak ada perjumpaan yang mesra. 

Januari. Teringat masa kecil yang bugil. Mandi sore dibawah hujan setelah sepakbola yang dekil. Tiada lelah, tak takut sakit. Tetesan hujan di pancuran atap bagai air terjun niagara versi paralon. Membersihkan diri dari kuman dan mencuci sempak yang bolong.

Januari. Segitu saja. Demi awan, laut, pohon dan juga bakwan, aku ingin sempak kita berjajar dalam lemari yang sama.