Pithecantropus Meicascus

Darrr. Petir menyambar. Malam ini sedang turun hujan. Kolam ikan, ember, kaleng bekas dan rindu pun jadi tergenang. Beginilah dini hari di bulan Mei. Waktu yang kadang tepat untuk merefleksi diri, rindu dan ronda menjaga bumi. Hey! Rindu juga universal bukan? Tidak hanya tentang kamu, kasih dan cinta saja. Bahkan ada saja yang rindu masa-masa dia saat sekolah. Bebaslah, kamu mau merindukan apa. Tak ada peraturan yang melarang walau kamu rindu sembarangan.

Payah. Semuanya menutup mata. Pergi dihibur oleh bunga tidurnya. Dini hari adalah awal dari sebuah hari. Waktu yg terlalu dini untuk ngangon sapi. Keadaan yang sedang tumpang tindih. Pikiran yang sedang diblender mimpi. Semua cair dalam bentuk peluk kekasih. Di dini hari di bulan Mei. Jika kamu mau semua itu, jangan cari di online shop. Kamu tak akan menemukannya, karena mereka cuma menyediakan ongkir gratis dan barang yang jarang sesuai kebutuhan pokok.

Mei. Membiarkan angin melintas disela-sela rambut. Musim mengganti awan putih. Pada hari itu tiba kita akan bertemu disini. “Di pelaminan?”, begitu tanya si Putri. Padahal cuma tempat biasa yang sering digunakan untuk berbagi kasih. Dan malam akan menemukanmu kesepian. Menulis catatan untuk pelampiasan. Gerak angin akan menuntunmu pulang. Pulang pada cinta yang amat didambakan.

Iklan

One response to “Pithecantropus Meicascus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s