Pithecantropus Marchongis

Dahulu kala, tidak lama-lama amat, tetapi cukup, telah turun ke dunia, seorang lelaki tampan mempesona. Buah hati karya kolaborasi ayah dan bundanya. Lelaki itu menangis yang disambut haru pada maret pagi di hari minggu. Dibubuhi nama dan do’a agar kelak menjadi anak yang berguna bagi siapa? Bagi semuanyalah.

Anak yang saban hari mandi air hujan di halaman rumah tanpa busana. Anak yang polos tanpa malu ketika onderdilnya dipamerkan pada hajat sunat. Anak yang giginya rontok karena cokelat. Anak yang tumbuh menjadi pria karena sudah dewasa. Itu aku, anak mereka. Bukan anak-anak, karena sekarang sudah tua. Terus bertambah usia, tergerus waktu dengan berbagai aneka cerita.

Maret, hujanmu masih menderu. Ibu-ibu kocar-kacir mengejar pakaian yang sedang dijemur. Hujan besar, hujan kecil, sama-sama hujan rindu. Kenangan berangsur muncul ketika hujan turun dengan makmur.

Maret, izinkan aku berkata-kata. Dengar semua getar doa. Merayakan suka cita dengan yang maha kuasa. Tidak mengajak si Nova karena dia sibuk mengurus anaknya. Aku saja. Biar aku saja. Cukup aku saja. Maret itu punyaku. Ada hari yang mesti dibubuhi rindu. Juga cinta yang harus segera ditempeli kamu.

Iklan

30 responses to “Pithecantropus Marchongis

  1. Barakallah Bang Piiittth! πŸ˜„πŸŠπŸŒ§πŸŠπŸŒ§πŸŠπŸŒ§
    Semoga lekas dipertemukan oleh jodoh dari-Nya dan tulisan Bang Pith makin keren… aamiin allahumma aamiin.. πŸ˜„πŸŠπŸŒ§πŸŠπŸŒ§πŸŠπŸŒ§ #Semangaat ^ ~^)9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s