Pithecantropus Mentalis

Angin bertiup dari selatan ke utara. Membawa kabar nasib yang belum saja berkecup mesra. Apa kabarmu? Bagaimana dengan korengmu? Sudahkah tak sebasah ketika kukatakan selamat berpisah? Pada setiap rindu yang belum kau kencani, aku katakan, selamat tidur sayang, semoga mimpimu nyaman.

Hari demi hari berlalu. Dada semakin menggebu. Menumpah darah rindu, berdegup jantungnya syahdu. Mengingatmu mengecup keningku. Melunturkan runyam di kepala dan di dada. Dada, yang ternyata itu mana buah juga.

Bermusim-musim sudah terlewati. Dari musim hujan hingga musim kecapi. Aku masih disini. Dari musim kawin hingga musim hujan lagi. Aku masih disini. Lama ini terasa sebentar jika amat dinikmati. Tangan tengadah meminta pada illahi. Merefleksi diri dengan secangkir kopi.

Berarak-arak awan membimbing ke masa depan yang diharapkan. Berbekal semangat juang dan serantang makanan akan kulawan. Melawan semua ketidakpastian. Pedangku lebih panjang dari lidahmu yang berkata seakan kau jagoan. Aku tidak takut dikalahkan. Sebab sebelum sholat, aku telah rancang catatan permintaan pada Tuhan. Karena Dia maha mengabulkan. Lebih dari kantor pegadaian.

Pithecantropus Marchongis

Dahulu kala, tidak lama-lama amat, tetapi cukup, telah turun ke dunia, seorang lelaki tampan mempesona. Buah hati karya kolaborasi ayah dan bundanya. Lelaki itu menangis yang disambut haru pada maret pagi di hari minggu. Dibubuhi nama dan do’a agar kelak menjadi anak yang berguna bagi siapa? Bagi semuanyalah.

Anak yang saban hari mandi air hujan di halaman rumah tanpa busana. Anak yang polos tanpa malu ketika onderdilnya dipamerkan pada hajat sunat. Anak yang giginya rontok karena cokelat. Anak yang tumbuh menjadi pria karena sudah dewasa. Itu aku, anak mereka. Bukan anak-anak, karena sekarang sudah tua. Terus bertambah usia, tergerus waktu dengan berbagai aneka cerita.

Maret, hujanmu masih menderu. Ibu-ibu kocar-kacir mengejar pakaian yang sedang dijemur. Hujan besar, hujan kecil, sama-sama hujan rindu. Kenangan berangsur muncul ketika hujan turun dengan makmur.

Maret, izinkan aku berkata-kata. Dengar semua getar doa. Merayakan suka cita dengan yang maha kuasa. Tidak mengajak si Nova karena dia sibuk mengurus anaknya. Aku saja. Biar aku saja. Cukup aku saja. Maret itu punyaku. Ada hari yang mesti dibubuhi rindu. Juga cinta yang harus segera ditempeli kamu.