Pithecantropus Barberius III

KERAJAAN AWAN DAN TUKANG CUKUR III (ENDING)

Nah. Dia menghindari wastafel yang barusan tadi dihadapinya. Dia menyandarkan diri di tembok. Kamar mandi seolah menjadi saksi bagaimana dia terkejut melihat dirinya. Rambut yang stylish dan berkilau miliknya hilang seperti habis diterjang gerombolan ABG Alay yang jago jurus Dewa Mabuk. Yang terlihat dicermin adalah kepala yang plontos dan dihiasi kecupan sisa gincu merah merona. Sang Raja marah. Lantas dia berteriak, “Mang Uhaaaaaaaaaannnnnn…….!!!”. Begitu dia memanggil pengawal pribadi sekaligus kepala BIKAMBON (Biro Intelijen Kerajaan Awan Makin Brengsek Oh No). Singkat cerita sang raja menceritakan apa yang sudah dialaminya. Sementara sang raja direkomendaskan memakai wig oleh mang uhan. Dia pun langsung mengumpulkan anggotanya untuk menyelidiki kasus besar ini.

Penyelidikan pun dimulai. Mang Uhan beserta bawahannya memulai dengan penuh semangat. Sehabis Sholat Subuh berjamaah mereka sarapan bubur ayam di alun-alun Kerajaan Awan. Sambil membahas kasus yang akan mereka tuntaskan. Dan tidak lupa berfoto ria bersama untuk di update mereka punya social media. Lumayan. Buat stok ganti profil picture juga katanya. Setelahnya, mereka langsung pergi ke tempat kejadian. Investigasi pun dilakukan. Mengumpulkan sidik jati hingga memeriksa kamera pengamanan. Alhasil mereka pun menemukan bukti bahwa, yang menghabiskan gorengan di pantry adalah salah satu anggotanya. Si Beben. Beben pun langsung mengiyakan. Mengakui perbuatannya. Biar gak Mubadzir katanya. Mang Uhan cuma senyum saja. Kasus pembotakan Raja ini sangat tertutup dilakukan. Agar aib Raja tidak menyebar luas dan menimbulkan keresahan. Bahkan media lokal setempat pun dilarang menginformasikan. Selang beberapa jam kemudian, korps pimpinan Mang Uhan menemukan bukti otentik yang tajam. Bukti yang didapat dari kamera pengamanan dan pesan secarik surat pelaku yang diletakan di meja rias permaisuri kerajaan. Di kamera terlihat ada sosok seseorang yang mengendap-ngendap melawati pagar istana kerajaan hingga masuk ke ruang raja punya tempat peristirahatan. Terlihat di monitor, ada Raja. Lagi tidur. Meluk boneka Beruang. Kasihan. Maklum 1 bulan ditinggal Permaisuri liburan. Ada seseorang juga. Wajahnya samar terlihat. Tapi kepalanya bersinar dengan nampak. Bahkan sempat selfie dia. Sedangkan isi pesan surat itu berbunyi;

“Assalamualaikum Wr. Wb. Dengan datangnya surat ini dan atas rahmat yang maha kuasa ; Saya, Tuan Muda Tukang Cukur yang Cakep, menyataken bahwa ; rambut anda dipangkas dengan cara seksama dan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Sekian. Tertanda, kamu taulah siapa”.. Thanks ya gan.

Mang Uhan dan  pasukannya langsung pergi untuk melakukan penangkapan. Tukang cukur yang baru saja hinggap di Kerajaan Awan diringkus dengan gampang. Seolah sudah tahu akan ada penyergapan. Tanpa ada perlawanan. Tanpa ada penyangkalan. Dia ditangkap tepat di dalam jamban. Ah. Sebenarnya situasinya tidak sebegitu tenang. Mengingat si tukang cukur yang pada saat sebenarnya mengalami gangguan pencernaan. Asam lambungnya naik karena makan mie ayam kepedesan. Bahkan ketika itu dia masuk jamban dengan gelagapan. Karena isi perutnya udah mulai menodai celana dalam.

Si tukang cukur pun dibawa ke ruang rahasia kerajaan. Diintrogasi langsung oleh raja yang ditemani mang Uhan. Si tukang cukur botak itu mengakui dia punya perbuatan. Namun tidak mengatakan maksud dan dia punya tujuan. Sang raja sudah tanggung marah bukan kepalang. Mang Uhan pun diintruksikan untuk menembak kepalanya yang cemerlang. Tiba-tiba, “braaaakkk…!!!”, suara pintu yang didorong paksa karena ada yang datang. Permaisuri yang sudah sebulan tidak pulang, akhirnya muncul dihadapan. Dia meminta mang Uhan untuk tidak melakukan penembakan. Sang raja pun heran. Mang Uhan heran. Si tukang cukur enggak. Lantas raja berkata, “ada apa ini istriku?”, bilangnya tegang. “Jangan lakukan itu suamiku”, bilangnya tenang. Sang permasuri pun menjelaskan bahwa si tukang cukur itu adalah anak kandung dari mereka berdua yang ketika raja menyuruh tapi sebenarnya tidak permaisuri gugurkan. “Daripada aborsi lebih baik aku membesarkannya dan ku titipkan pada nenek di negeri seberang”. Itu yang permaisuri katakan. Dalang yang mencukur rambut sang raja adalah permaisuri yang berharap sang raja bisa menerima ganjaran. Yaitu balasan pelajaran bagaimana menyikapi akibat perbuatan nakal mereka saat masih remaja. Jangan takut cibiran manusia. Harusnya lebih takut pada dosa. Begitu maksudnya. Sang raja pun ingat kejadiannya. Dan percaya bahwa si tukang cukur adalah anaknya setelah melihat tanda lahir berupa tahi lalat diketek berbentuk bintang yang juga dimiliki oleh raja. Mereka bertiga pun larut dalam haru kebahagiaan. Saling berpelukan. Mang Uhan jadi obat nyamuknya. Tamat.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s