Bulan: September 2016

Pithecantropus Evolusius

Proses Evolusi-ku terjadi ketika ayah dan bunda di mabuk asmara. Dipadupadakan dalam prosesi pernikahan. Setelah dilegalisasi salah satu departemen pemerintahan. Lebih dari itu, mereka bertemu dan bersatu atas kuasa Tuhan.

Mumpung ingat Capung. Maka akan aku ceritakan. Capung. Hewan. Ciptaan Tuhan. Kecuali Bakwan. Ciptaan Mamanya si Ridwan. Seribuan. Diwarungnya, kunikmati sambil memandang Capung yang terbang. Kadang aku mengira, Tuhan sengaja mengirim Capung agar membuat hidupku lebih menyenangkan. Kutangkap dia. Kusuruh gigit pusarku agar jauh dari itikad mengompol sewaktu tidur. Kegiatan masa kecil yang penuh kenangan. Tiba-tiba datang melintang ketika melamun hujan, atau saat malam. Atau kebetulan.

Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan. Kecuali Amuba. Dia mandiri. Membelah diri. Agar ada keturunan. Apakah aku Amuba? Bukan. Aku Manusia. Bisa mencinta dan dicinta. Sama kamu, dia atau dia. Katanya jodoh ditangan Tuhan? Mana mungkin. Tuhanku tak berbentuk. Apa lagi punya tangan. Ini soal keyakinan. Seperti aku yakin, Aku cuma mau Kamu sekarang.

Sungguh sulit jadi manusia di zaman ini. Mau makan bukan baca doa, tapi malah foto dulu itu makanan. Sendok ditangan kanan. Smartphone ditangan kiri. Atau apakah aku harus ceritakan bagaimana media sosial dengan berbagai macam kelakuan? Gak mau ah. Nanti kepanjangan.

Tanpa disadari kita memang berevolusi. Mulai dari jalan kesuksesan atau kisah percintaan. Tergantung kamu mau menepa diri. Mau statis atau terus gelantungan.

Iklan

Pithecantropus Septikus

September

Barusan aku selesai makan Getuk dan enak. Kiriman langsung dari tetangga yang baik. Makanan sederhana, cita rasa tradisi nan kaya. Seketika aku lupa kau sudah singgah dipelukan siapa.

September

Kiri-Kanan kulihat saja banyak Janur Kuning melambai. Mereka serempak, seperti sudah janjian. Hari menjadi panas berkat kekuatan doa si pawang hujan. Hati menjadi panas ketika dapat undangan dari mantan.

September

Langit bertambah cantik ketika malam. Dihiasi triliyunan bintang kecil dan purnama yang benderang. Indah namun mencemaskan. Kadang aku takut si Anang jadi Serigala jadi-jadian. Atau kamu tiba-tiba datang di mimpiku dengan membawa sebilah parang. Atau Ibuku yang ikutan audisi Dangdut Pantura. Hm, menyeramkan.

September

Anginnya klasik. Cuacanya fantastik. Semua dibungkus rapi oleh rindu yang tiba-tiba tumpang tindih.