Pithecantropus Mbahraino

Akhir bulan ini bakal terus hujan ya Mbah? Apa gak ada kesempatan buatku, walau cuma menjemur perasaan yang banjir karena rezim asmara? Padahal sudah siapkan segelas teh manis senja tadi lho. Yang mendadak jadi tempat berenang semut karena ku sibuk melongo.

Lihat deh Mbah… Banyak yang berteduh di pelataran jalan. Berharap reda dan cepat sampai tujuan. Kasihan muka-muka lesu itu ya Mbah. Baru saja dandan, sudah dihantam butiran hujan. Parfumnya luntur, semangat mengendur. Seperti rindu yang suka beringsut kabur. Datang. Kabur. Datang. Kabur. Datang lagi, menyempil di kasur.

Mbah kan penakluk hujan, bisa gak pindahkan awan hitam di kerning matanya? Agar dia melihatku. Agar dia tahu bahwa aku pelangi yang tak bosan menunggu. Lalu coba buat dia lebih mengenalku. Bukan lewat buku. Namun kedua mataku. Mataku dan matanya, sama. Sama-sama mata cinta. Yang sudah seharusnya diusahakan jadi mata pencaharian. Bisa kali Mbah?!

Mbah, nitip pesan, kalau bisa tiap malam hujani dia dengan mimpi indah. Soal memimpikanku atau tidak, itu urusannya. Aku menyukainya tulus. Kurasa tak perlu balas jasa. Kecuali pada guru.

Terima kasih kepada:
YTH, Mbah Raino Kontroller

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s