Bulan: Februari 2016

Pithecantropus Mbahraino

Akhir bulan ini bakal terus hujan ya Mbah? Apa gak ada kesempatan buatku, walau cuma menjemur perasaan yang banjir karena rezim asmara? Padahal sudah siapkan segelas teh manis senja tadi lho. Yang mendadak jadi tempat berenang semut karena ku sibuk melongo.

Lihat deh Mbah… Banyak yang berteduh di pelataran jalan. Berharap reda dan cepat sampai tujuan. Kasihan muka-muka lesu itu ya Mbah. Baru saja dandan, sudah dihantam butiran hujan. Parfumnya luntur, semangat mengendur. Seperti rindu yang suka beringsut kabur. Datang. Kabur. Datang. Kabur. Datang lagi, menyempil di kasur.

Mbah kan penakluk hujan, bisa gak pindahkan awan hitam di kerning matanya? Agar dia melihatku. Agar dia tahu bahwa aku pelangi yang tak bosan menunggu. Lalu coba buat dia lebih mengenalku. Bukan lewat buku. Namun kedua mataku. Mataku dan matanya, sama. Sama-sama mata cinta. Yang sudah seharusnya diusahakan jadi mata pencaharian. Bisa kali Mbah?!

Mbah, nitip pesan, kalau bisa tiap malam hujani dia dengan mimpi indah. Soal memimpikanku atau tidak, itu urusannya. Aku menyukainya tulus. Kurasa tak perlu balas jasa. Kecuali pada guru.

Terima kasih kepada:
YTH, Mbah Raino Kontroller

Iklan

Pithecantropus Ahadius

Pada suatu hari di hari Minggu. Kisah kelam seorang manusia yang bangun tidur. Matanya merah. Hidungnya tersumbat. Dia kena Flu. Flu yang diberkati begadang sehabis menelepon rindu.

Hey lihatlah, ujung Dunia telah aku temukan. Ternyata ujung Dunia adalah A. Lalu Minggu mencuci bersih manusia itu dari mimpinya menaklukan Dunia. Dunia yang telah tunduk padanya. Cuma dengan menekan tombol Remote, Dunia dalam berita musnahlah sudah.

Cinta memang mengagumkan. Dipuja-puji layaknya buah Durian si Wirya yang besar dan manis di kebun Mak Enduh. Terkadang cinta menjadi miris. Bagai tukang Siomay yang jualan Cuanki. Sukar ditebak. Kapan jatuhnya, kapan patahnya. Kita cuma harus siap sedih dan juga bahagia. Kita harus bisa bermetaformosa.

Minggu, apa kabarnya si Wahyudin yang robek celananya setelah tendangannya ku tangkis di masa sekolah dulu ya? Semoga dia ingat kalo aku juga mengantarnya ke tukang jahit. Lalu si Toha? Ah tak tahulah. Dia mungkin sedang jajan Cilok di depan SMA 2. Sekolahnya si Dini kan? Iya sekolahnya Neng Dini. Mantanku. Cinta yang mengoyak hatiku karena dia selingkuh.

Semoga semuanya baik-baik saja. Tetap tenang, rendah hati dan banyak uang. Di Minggu yang cantik, kenangan manis tiba-tiba suka timbul mengusik.