Pithecantropus Hoozhaniax

Hujan di hari Sabtu. Kasihan, pasti cucian kutangmu tak kering karena kurang pencahayaan. Sama denganku. Aku juga masih basah oleh kerinduan. Kian mendalam. Seperti nasib Jengkol dan Pete yang dipisahkan oleh kekuasaan Ibuku di teritorial meja makan.

Yang jelek jual mahal, yang cakep jual diri. Hm, aku berada di cuaca yang tidak menentu. Gagal paham dengan apa yang mereka pamerkan. Lebih baik aku main Football Manager, karena tidak bisa tidur siang.

Ketika hujan turun dengan derasnya, kamu sedang apa? Pasti kau sedang mendekap pelukan yang salah. Karena yang benar hanya dekapanku. Pelukanku. Yang salah hanyalah benarku.

Pithecantropus Katakotokus

Aku sepertinya bagaimana walau dimana
Bosan ketika apa karena mengapa meskipun
Jadi sebetulnya padahal jikalau apakah
Pecundang diantara bahwa siapa kapanpun
Maka demikian seandainya kenapa karena bagaimana
Aku akan ketika walau sepertinya dimana siapa yang
Jadi meski apabila ketika apapun karena seandainya siapa
Pemenang akan bila mengapa dimana bahwa jika kapan bagaimana

coba deh baca kata depannya saja

Pithecantropus Janwarmislop

Januari
Ini terasa semakin mendesak. Berdahak serak. Semacam gatal dari karet sempak. Cinta dan rindu belum nampak, para jomblo jadi Serigala mendadak.

Januari
Ini adalah haluan rindu. Lama tak dikunjungi Kupu-kupu atau Lebah penghisap madu. Mereka masih mangkal di terminal hantu. Kok terminal hantu? Terserah! Yang penting akhirannya “U”, dan kamu harus terima bahwa ini rindu padamu. Kudu!

Januari
Ini adalah buritan cinta. Mau ditulis “butiran”, nantinya jadi “ini adalah butiran debu”… Meresahkan. Andai ada cinta yang seperti angin sore, tentu resah langsung amblas digibas senyum dan belaian.