Pithecantropus Moerahiyah

Aku sedang menebak isi kepalanya. Bagaimana bentuk dan sistem operasinya. Belah dada dan pamer paha, dipajang seakan bangga. Seakan tidak lama lagi berbugil ria didepan kamera. Kalau minta perhatian, cobalah pakai pengeras suara. Dandan dan gayanya mahal, kepribadiannya murah.

Aku normal. Aku juga suka melihatnya. Naluri laki-laki namanya. Macam sepertinya, cuma enak dinikmati, tidak lezat untuk sehidup semati. Lemah sekali pengetahuannya tentang seksi. Kau tidak mengenyangkan seperti seksi konsumsi.

Dunia maya. Sumber berita juga sumber ber-riya. Zaman termudah menemukan belahan dada. Zaman tersusah bertemu belahan jiwa. Semua sibuk menunduk pada telepon genggam. Lupa tegur, senyum, sapa, salam.

Pithecantropus Desemberous

Desember
Aku rindu pada tempat yang belum pernah kudatangi. Banyak kisah yang belum terjerat kasih. Banyak kasih yang suka dibuat kisah. Kisah kasih di selokan.

Desember
Kuharap kau tidak tahu apa yang aku tidak mau tahu. Kataku mungkin akan menjadi baku. Kataku mungkin ada di kolam bernyanyi saat hujan. Kuharap kau tidak salah dengar kataku jadi keteku.

Desember
Angin datang dari puncak Gunung Karang. Hempas gelisah, rampas pasrah, seketika semua menjadi benderang. Aku yang rindu pada tempat yang belum kudatangi, semoga tidak menjadi korban drama Turki.

Desember
Dimana kamu berada. Diamlah disitu. Atau disana. Terserah kamu maunya gimana. Kita hanya perlu cinta, sayang, dan rindu secukupmya.