Pithecantropus Minimarketus

Pada saat itu aku berjumpa denganmu
Tidak lama, kita pun berhadapan
Mata kita saling berpandangan
Beberapa detik yang mengagumkan
Aku malu, grogi dibuat kamu

Kamu berkata,
“Cuma ini Mas?
Mau sekalian isi pulsanya?”
Dan aku berkata,
“Ngga mbak, makasih
Ini aja kayaknya
Pulsaku masih banyak
Kiriman dari ibu di kantor Polisi”

Namun, ada kekecewaan setelah berpisah denganmu
Apakah kamu tahu apa?
Apa kamu tahu maksudku apa?
Aku yakin kamu pasti tidak tahu
Karena aku belum ngasi tahu

Tak ada yang sempurna di dunia ini termasuk kamu
Walau cakep kau punya kekurangan
Pagi itu kau tidak ucap sihir manismu
“Selamat Pagi, selamat datang di Alpaindonkmart”
Biasanya kau bilang begitu
Tapi tidak kepadaku
Sakit!

Pithecantropus Bathuckus

Kemarau usai oleh tumpahan hujan. Aku meleleh bersama kenangan.

Batukku terdaftar di Departemen Tenggorokan Gatal. Sekali batuk, gemanya mendengung di kepala. Sial, ada hidung yang gagal mencium cinta.

Sewaktu hendak tidur, kepala jadi lebih berwarna. Melihat kejadian lampau. Merancang masa depan.

Tentram rasanya jikalau lewat tengah malam. Semua berisik telah menjadi sunyi. Sibuk menghunus dirinya sendiri. Berharap mimpi yang pasti.

Hatiku seperti jadwal siskamling RT 03. Daftar nama giliran rondanya ada, namun tiada satu pun yang jaga.

Ranjangku adalah surga yang dibeli oleh ibu. Tempatku tenggelam dalam ngantuk ataupun rindu.

Pithecantropus Meiforest

Dulu aku pernah jadi batu. Tapi capek. Tuhan hanya memberiku bisu. Sekarang aku jadi pohon. Untuk meneduhimu.

Pohon itu keren. Banyak manfaatnya. Termasuk menyediakan tempat untuk pacaran. Aku adalah pohon. Kamulah dahannya. Aku ditebang, kamu tentu tumbang. Kita adalah satu kehidupan. Sudah seharusnya satu cinta.

Semakin tinggi berdiri. Semakin besar angin yang menerpa. Semakin sering aku rindu kamu, semakin yakin aku ternyata manusia.

Bahagia itu sederhana bagi yang menunaikannya. Cinta itu sederhana bagi yang punya.