Pithecantropus Vitalinus

Seketika itu di tanggal 19 dan malam. Anginnya pelan lalu ada gerimisnya juga. Dia berkata “Aku tak mau membebanimu. Karena aku butuh lebih dari lelaki yang sederhana. Yang bisa mewujudkan gairah dan hasrat hedon-ku. Aku gak bisa jalan beriringan denganmu. Maaf”. Lalu diselesaikan dengan aku minum susu. Sama makan keripik pisang yang aku curi dari warung mami juga sih. Semoga terselesaikan juga dengan lagu yang romantis dan mimpi yang manis.

Dia menghirup oksigen bumi dengan standar hidup yang tinggi. Banyak keinginan dan kebutuhan untuk memenuhi gengsi. Gak sadar dengan keadaan minim keluarga dan diri sendiri. Yah, maklumlah otak dan hatinya hanya sebesar Kwaci.

Dalam hitungan hari dan beberapa minggu ke depan, aku pasti dapat kabar kalau dia sedang jalan sama Monyet barunya yang tajir dan klimis. Yang suka pajang fotonya di sosial media dengan pakai kacamata didalam kendaraannya. Begitu yang dia mau. Kukira dia begitu karena itu yang maunya. Menyejahterakan dirinya dengan barang dan polesan make-up mahal hasil minta dan diberi oleh lelaki penikmat harta orangtua.

Bisa putus dengan orang yang tak pernah menghargai usaha dan kebaikkan kita adalah sebuah anugerah. Anugerah. Jangan dipisah. Anu-gerah. Anu siapa yang gerah? Punyaku? Tidaklah. Celana dalamku ada lubang fentilasi alaminya. Mau lihat? Janganlah. Dia pernah sih. Semoga bisa membuat dirinya rindu.

Dear wanita… Iqro! Ini foto profil yang aku copy dari seseorang yang kenal dengan seseorang. Silakan kalian sadar. Selamat jalan cinta.

image

Iklan

7 responses to “Pithecantropus Vitalinus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s