Pithecantropus Apriliokevinus

Kasihan dia. April baru saja mulai, cakepnya sudah hilang disedot nyamuk. Mukanya yang lonjong tiba-tiba dibubuhi jerawat dan senyum yang kecut. Sedikit-sedikit merengut. Sedikit-sedikit merengut. Dalam gelisah malam dia duduk sendirian disiuli Jangkrik di sebuah warung nasi uduk.

Priilll… Apriiiillll… Menulis sedang seret. Banyak kalimat yang mau aku tulis malah jadi macet. Nulis sedikit, mampet. Nulis sedikit, mampet. Riuh hati dan kepala sama-sama sedang pucet. Habis ditulis, Aprilnya jadi mumet.