Pithecantropus Dogmanipus

Aku berteriak didalam kepalaku, “Anjiiiiiinnggg!!!”, kataku. “Ada apa Nyet?”, begitu si Anjing menjawabku. Dalam kepala yang ramai, riuh oleh tanda tanya dan sesekali memikirkanmu. Aku dan Anjing suka berduaan memandangi bulan kala malam sudah meniduri orang-orang dengan mimpinya. Saling bertukar pikiran dan yang selanjutnya kami bertukar celana dalam. Sebagai simbol persahabatan kata si Anjing.

“Nyet, ada apa denganmu?”, tanya si anjing. “Kenapa mereka tidak pernah mengerti apa yg aku butuhkan?”, jawabku sambil menyetem gitar. “Aku sudah berkata, sudah juga membuktikan, namun tetap saja kurang”, sambungku lagi. “Suatu hari kamu akan lebih tinggi dari matahari. Akan lebih wangi dari bunga melati. Tanpa siapapun, tak dibantu siapapun. Hanya akan ada Tuhan, kau, dan bagian terbaik darimu”, cocor si anjing yang sedari tadi disampingku. Langsung aku iya kan kata-katanya barusan. Biar apa? Biar cepet dan tidak dibahas dengan lebar dan panjang.
Aah terima kasih Anjing!

Dalam malam yg sendu, kami bernyanyi. Melolongkan nada minor tentang sepinya malam, ramainya hati dan juga pikiran.

Pithecantropus Thinkerbull

Iya… Inilah aku. Si mesin bertenaga nasi goreng. Nafasku api, liurku oli, air kencingku bvlgary, dan cintaku cuma hanya untukmu. Iya, betul kamu. Kamu yang menerima kehendak Tuhan dengan mau padaku. Iya, aku. Seseorang yang kenal dengan seseorang.

Disuatu hari yang sejuk, semua berjalan terasa lamban dari biasanya. 5 menit berdiam, rasanya seperti sudah 30 hari jongkok. Iya, ini di jamban. Tempatku mengenang, melamun, selain tentu buang air juga. Oh hari-hari mulai memusingkan ketika dipikirkan.

Saat hujan, aku pergi ke awan. Setibanya aku disana, aku mau dadah-dadah pada temanku si Cepi yang sedang hujan-hujanan dibawah sana. Lalu aku kencing di awan pas hujan. Sebagai kamuflase. Supaya si Cepi tidak tahu dia mandi air hujan kencingku. Semoga dia senang. Hidup ini jadi terlalu merugikan, jika hanya untuk merengut dan memikirkan hal yang sebenarnya tidak harus dipikirkan.

Ooh malam. Malam yang cantik seperti biasanya. Sedikit ngantuk, banyak rindunya. Hari kadang terasa menyeramkan, namun cintalah yang membuat semua bisa bertahan.

Pithecantropus Septembros

September. Bulan ke 9 di kalender. Bulan yang sesudah Agustus, setelahnya Oktober. Ada angka-angkanya. Yang berjumlah 30 hari. Yang diantara hari-hari tersebut terisi senang dan sedih. Bukan bulannya mang Biye, karena dia mah lahirnya bulan Maret. Bagaimana aku tahu? Karena aku baca biodatanya.

September. Baru saja dimulai, gusarnya sudah menggetar. Sedih itu sederhana. Sesederhana itu saja. Bulannya murung. Sedikit senyum, banyak melamun. Sedikit senyum, banyak mainin burung. Tekukur yang sedari kemarin berkicau “suu..kuurrrr…suuu…kuuurrr…”, asu!

September. Semoga turun hujan. Semoga banyak kesempatan.