Pithecantropus Maskaranae

Wanita, mawar dan belati
Terhunus nasib, mengusung pedih
Bahkan ketika Martabak coklat keju
genit memanggil nafsu,
kami tersuguhkan kepalan nasi dan batu
Wanita, mawar dan belati
Kami yg berdahak, selalu serak karena rindu
Tertusuk dada kiri
Menembus jantung
Terluka hati
Terkentut-kentut lalu lari
Lalu kentut lagi,
Sampai lupa, lalu kentut lagi

Pithecantropus Kadangius

Hidup ini banyak kadangnya
Kadang dapat yg tidak dibutuhkan
Kadang tetap kebasahan walau sudah payungan
Kadang cuma memble seharian
Kadang rezeki seret saat banyak keperluan
Kadang mau cium malah jadi cium tangan
Kadang garuk2 padahal tidak kegatalan
Kadang bangun tidur kesiangan
Kadang lebur tertimpa kesialan
Kadang tersenyum sampai gigi kekeringan
Kadang cemberut seperti marmut kelaparan
Kadang mengeong krn biar mirip kekucingan
Kadang menclok2 dijendela melihat bulan krn kasmaran
Seperti mimpi yg kadang-kadang menjadi kenyataan.

Pithecantropus Nostalgius-Bocahingus

Demi Donat cokelat, kau paksa aku minum obat. Ya laknat.
Bahkan ketika mimpi pun aku jua terpaksa memimpikanmu.
Kami yg suaranya serak, lebih sering berdahak karena rindu,
Diujung belati masih tersisa darah bekas memotong kuku,
sisa kemarin kita bertemu. Saling membunuh.
Kamu keramas setelah hujan bertubi-tubi mengguyurmu.

Ketika itu aku masih berbaju putih, bercelana pendek merah,
ketika masih suka main gundu
Wajahmu pilu, remah-remah keju terdiam kan disisi mulutmu,
mengering seperti batu.
Kami selalu merindukan hujan di hari sabtu,
ketika yg berpasangan saling memuncak nafsu.
Malam ini lebih wangi. Terbuat dari Cologne yg diusap sampai ke hati.
Hati yg busuk tertutupi.