Pithecantropus Dandanicus

Memulai berbaikan lagi dengan badan,
dengan hati, dengan perasaan.
Mulai lagi dengan cermin saling berpandangan.
Yah, serem juga awalnya,
tapi tetep bangga dengan kejelekkan muka.
Berdandan rapi, tapi tak dibedaki karena aku lelaki.
Belajar menghargai diri sendiri.
Ya aku normal…
Biar yang tertinggal, tinggal kenangan,
Luka menganga, atau rindu berlirik indah,
Biar yang tersimpan, di penyempitan perih,
Subur mimpi yang berseri,
Seperti bangun tidur dikelilingi ribuan peri,
Atau dicium Pevita Pearce bertubi-tubi

Pithecantropus Hatikoesplus

Kita bicara tentang hati
Mendengarkanmu dengan hati
Memadang sefokus hati
Berkentut selembut hati
Baunya sampai ke hati
Lalu berhati-hati bermain hati
Biar tidak tersakiti hati
Adakah jiwa setulus hati
Mungkin dia, mungkin kamu,
mungkin kita,
sedang mencari hati
Sedang menanti pujaan hati

Pithecantropus Medussa

Rasanya aku ingin diguyur hujan
Sampai membasahi daleman
Sampai aku tak merasakan lagi hinaan
Sampai aku katakan “aku senang, aku menang”

Daun singkong yang hijau tua disamping rumah
Tempat aku membahas soal cinta
Pipis disitu sambil mengingatnya
Hey, lihatlah aku pipis lepas tangan saja bisa

Oh Medussa…
Tatap mataku sekarang juga
Kita lihat siapa yang duluan membatu
Apakah mimpiku, atau kamu yang selalu memangku ragu?

Pithecantropus Clocksian

Kasihan yg hidupnya diatur waktu
Mereka berlari tak jelas apa memang itu yg diingini
Kitalah penguasa waktu
Saling berkait mengais kepingan rindu
Oh Rolex…
Waktu telah hampir pukul tujuh
Nanti malam aku ke rumah
Katakan pada bapak aku bawa martabak coklat susu
Salam sama ibuku, aku tak mau diperbudak waktu
Kemarin, Sekarang, besok atau lusa
Aku yakin tetap keren se-kece superman
Kamu… Jadilah apa yang kamu mau

Pithecantropus Galaus

Galaus…
Mukamu sekusut sempak terpampang di jemuran
Rambut terurai seperti kemoceng bermekaran
Lihatlah hujan diluar sana
Sama sepertimu yang meratap duka

Galaur…
Kamu bertanya pada hujan,
“Apa setelah ini ada pelangi?”
Iya tentu saja, pelangi selalu ada
Ada dihatimu, diantara kepingan upil dimatamu juga

Galaut…
Cobalah bijak dengan perasaan
Cuci muka dengan sabun dan autan
Biar wangi menutupi keresahan hati
Selalu yakin, setelah badai ada pelangi
Tenanglah… tenang… sayaaang ..
Ombilahom… Kurubah kau jadi pejuang