Pithecantropus Singleanus

Matahari. Kita jarang bertegur sapa. Kita jarang bertatap cahaya. Ketika kau meninggi, aku baru saja membuka mata. Entah berapa masa hal itu terlewat begitu saja. Entah berapa banyak rezekiku yang dipatok ayam. Namun tak masalah, karena nanti ayamnya tinggal ku makan. Sehingga rezekinya menyatu dengan tubuhku secara maksimal. Matahari meredup ketika senja. Saat itu, sore, di warung teh Uri, banyak kalimat di kepala. Menanyakan cinta ada dimana. Apakah cinta hanya milik si Rangga?

Banyak yang bilang single itu menyenangkan. Bisa dekati dia, dia, dia, dia dan dia, kecuali orangnya sudah tak bernafas. Menjadi single itu tidak semudah mengedit profile picture akun social media. Banyak halangan dan juga rintangan yang menjadi masalah dan beban pikiran. Single, berkelana setiap hari demi mendapat cinta suci. Single yang sering dibanggakan dengan berkata “i’m single and very happy” adalah single yang menutup lukanya sendiri dengan memanipulasi persepsi. Mengenai hal itu, aku sendiri sangat amat yakin bahwa single adalah bahasa Inggris.

Menatap langit. Hari sudah benderang. Dejavu. Bangun siang seperti kemarin. Matahari mulai menatap dengan garangnya. Menghidupi semua mahluk bumi. Memberi kesempatan bagi jutaan single di dunia untuk menemukan cinta abadinya. Cahaya cinta ciptaan Yang Maha Esa. Diseberang laut, diatas gunung, atau disamping pak kusir yang sedang bekerja, cinta ada dimana-mana. Kenapa kita masih sendiri saja? Apakah seharusnya mata hati lebih terbuka? Lebih terbuka dari kaum yang pamer belahan dada di facebooknya. Oh Tuhan bimbinglah kami kesana. Merasakan kembali denyut cinta yang berdegup di dada. Single tak selamanya bahagia. Single tak bahagia selamanya. I’m single and i’m very worry.

Pithecantropus Februarus

Februari. Dulu aku melihatnya bak mutiara dalam lumpur. Lama melebur, dia jadi tahi kucing diatas kasur. Cinta kabur, rindu dikubur. Baunya sampai Singapur? Tidak, cuma sampai nempel di dubur. Lama melamun akhirnya kutelan bubur. Enak, sewaktu sore yang dihabiskan dengan cara mendekam di dapur.

Februari. Lagi-lagi aku menulis dengan susah payah. Sambil tahan nafas sekuatnya. Sambil mengepul asap kretek sebagai salah satu bantuanku untuk meningkatkan kesejahteraan para petani tembakau Indonesia. Bulan yang teramat datar. Bulan yang semakin hambar. Tiada cinta di dada. Yang ada hanya tahi lalat yang dengan manisnya menghiasi dada. Dada. Katanya itu nama buah. 

Februari. Apakah aku ditakdirkan begini saja? Hidup santai dan gembira dikelilingi warna-warni lucu dan sendu hasil perbuatan lingkungan yang nyaman. Ditraktir makan-makan setiap minggu merayakan kejombloan si Firhan. Aku tak mau si Firhan. Aku ingin dia. Dia adalah penjahat yang diidam-idamkan untuk menjarah semua perasaan. Dia yang mengajak janjian agar bertemu di mimpi setiap malam. Aku adalah tipe protagonis pasrah yang siap teraniaya dengan bahagia olehnya.

Pithecantropus Patahatikus

Saat pertama aku patah hati, aku jadi malas untuk mandi pagi. Kecuali kalau masih ada jadwal sekolah dan kalau ada urusan penting dihari libur. Patah hati yang membuat aku paham tata cara berpacaran sewaktu cinta monyet-monyetan. Patah hati yang membuat pintu kamar terkunci dan lagu-lagu sendu diperdengarkan. Patah hati yang mengubah arah sisiran rambut menjadi menyaping ke kanan. Patah hati yang menjadi menyenangkan karena makin bertambahnya jumlah gebetan. Patah hati yang berubah menjadi broken heart kalau diucapkan mas David Beckham.

Selama ini aku mengira patah hati hanya disebabkan oleh cinta saja. Masya Allah, banyak yang lain juga ternyata. Misalnya si Cepy yang waktu itu menginap di rumahku dan motor kesayangannya digondol maling pada waktu subuh di rumahnya. Selepas itu dia terluka. Enggan menginap dimanapun karena trauma. Karena kejadian itu dia jadi tidak suka makan dedaunan lagi seperti biasanya. Dan itu bohong adanya. Dia tetap sama, memakan makanan yang standar konsumsi manusia. Ternyata, patah hati bukan disebabkan terlalu cinta atau sayang, tetapi didasari oleh kehilangan.

Tips: Jika engkau tidak mau rasakan patah hati, janganlah kau menggosok gigi. Agar timbul sakit gigi. Dengan begitu kamu bisa berkata, “sakit hati (patah hati) tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sakit gigi”. Itu.

Pithecantropus Januaresolucius

Kamu adalah pajangan dinding yang didera berbagai huruf dan angka. Membacamu akan sulit jika dilakukan dengan menutup mata. Harusnya kau ada di angkasa. Bersama bintang dan awan hitam dan juga seluk beluk Aurora. Kamu tak perlu sedih jika suatu hari kau dijadikan bungkus kacang atau cabai di pasar. Memang almanak begitulah nasibnya. Terima saja. Bulan pertama di tahun yang baru, aku mengurus nasib dengan rindu menderu ke kamu.

Selamat tahun baru kulkas, Kamu dingin. Sukar menebak apa yang kau ingin. Hidup ini akan terasa berat jika angkat barbel sambil makan ikan asin. Kadang perlu untuk menghibur bathin. Kadang perlu juga dikerokin. Semua ini terangkai pada Januari yang kurang suntikan vitamin.

Januari. Semoga kau tahu bahwa menulis puisi cinta itu susah rasanya. Apa lagi ketika tangan diikat ke kursi dan mulutmu disumpal. Cinta, cinta, cinta. Sebuah kata yang tersusun dari lima huruf berbeda. Dan banyak frase tentangnya. Puisi cinta terbaik yang pernah aku buat adalah doa tentangmu yang aku panjatkan ke tuhan sehabis sholat. Dia maha mengabulkan lebih dari kamu. Apa lagi si Heru. Ya si Heru. Teman yang ku pergoki sedang mainin burung di kelas ketika sekolah dulu.

Januari. Selamat datang kembali. Maaf belum sempat buat resolusi. Beli rokok saja masih sering di Mak haji Nani. Dengkulmu resolusi. Resolusiku setiap hari. setiap hari evolusi. Membuat yang lebih baik lagi.

Pithecantropus Endingdongos

​Vintage Jazz music seperti sengaja dirancang agar lebih enak dinikmati ketika tengah malam. Sama, seperti rindu Kamu. Lebih berdenyut ketika sunyi. Dan mengidamkan tukang bakso lewat pada pukul 2 dini hari adalah sama dengan menginginkan peri datang menunggang Unicorn menyelamatkan dari bahaya ketika akan dibunuh penyihir nakal. Oke, inilah catatan akhir Desember. Catatan akhir 2016. 

11 bulan kemarin adalah waktu yg seperti biasanya dibuat menyenangkan sedemikian rupa. Ada sedihnya juga sih. Pokoknya lengkaplah. Bumbu rindu dan penyedap cinta juga ada. 11 bulan yang mengagumkan. Harus terus disyukuri walau banyak halang rintang dan kebahagiaan. Aku masih hidup sekarang. Masih makan nasi uduk. Dan masa lalu bagai bab pendahuluan. Tentangmu seperti halaman buku yang lupa aku batasi. Mengulang membaca dari awal. Lalu jadi hafal. Langsung merapikan diri untuk masa depan.

Beberapa bulan yang lalu adalah hal yang penuh kejutan. Aku ketemu cinta. Tapi cintanya keburu pergi. Kasian. Ada si Anang memutuskan untuk mirip dengan Reza Rahardian sebagai simbol pencitraan. Mengejutkan bukan? Si Ilham sih terkejut. Si Rahmat juga. Bapaknya, ngga. Beberapa momen manis dan pahit dalam hitungan bulan. Dapat dirasakan. Alhamdulillah normal. Sebagai mahluk sosial. Sebagai manusia bumi yang berkewarganegaraan, beradab dan berperasaan.

Masa depan itu hanya dalam satu hitungan detik. Satu detik ke depan adalah masa depan. Jangan disia-siakan dengan membuang kesempatan. Kenali diri. Apa yang sebenarnya yang kamu ingini. Jangan jadi penyesalan dikemudian hari. Sederhanakan pikiran. Jika rindu masih berdenyut dan cinta masih berdegup, jatuhkan dia pada pelukan. Jika dia enggan, maka “kasian deh lu” kalo kata si Firhan.

Desember sebentar lagi menggulung kalender dan berganti Januari. Sedang apa kamu disitu. Kemarilah. Aku ada uang 2000. Modal masa depan dengan kamu. Sisanya tergantung penghulu. Penghulunya, lupa belum bayar parkir. Parkirnya ternyata mahal. Mahal banget sampai cintanya juga dijual. Dijual pada orang berkantong tebal. Tebal dompetnya, setebal Alis matamu. Matamu berubah hijau. Hijau gunung, sawah dan ladang. Ladang ranjau darat. Darat, laut dan udara tahu jika aku menyukaimu. Menyukaimu ternyata lebih mudah dari berhenti merokok. Tamat. Tamat. Tamat.

Pithecantropus Inirainis

“Carilah. Pria kan pengembara bukan? 

Ya, kupikir kapalmu harus bersauh. Cukuplah berlayar. Titik palung mana lagi yg ingin kau jajaki? Belum cukupkah?

Titik bersauhmu sudah tersedia, mungkin kau yang masih enggan.”

Ya. Aku juga pengembara. Yang sedang merindukan hati untuk pulang. Pulang dan menetap disitu sampai ajal tiba.

Ya, betul. Aku rasa sudah cukup semuanya. Sakit, senang diarungi tanpa penyesalan. Aku cuma ingin pulang. Pada hati yang bijaksana menerima.