Pithecantropus Evolusius

Proses Evolusi-ku terjadi ketika ayah dan bunda di mabuk asmara. Dipadupadakan dalam prosesi pernikahan. Setelah dilegalisasi salah satu departemen pemerintahan. Lebih dari itu, mereka bertemu dan bersatu atas kuasa Tuhan.

Mumpung ingat Capung. Maka akan aku ceritakan. Capung. Hewan. Ciptaan Tuhan. Kecuali Bakwan. Ciptaan Mamanya si Ridwan. Seribuan. Diwarungnya, kunikmati sambil memandang Capung yang terbang. Kadang aku mengira, Tuhan sengaja mengirim Capung agar membuat hidupku lebih menyenangkan. Kutangkap dia. Kusuruh gigit pusarku agar jauh dari itikad mengompol sewaktu tidur. Kegiatan masa kecil yang penuh kenangan. Tiba-tiba datang melintang ketika melamun hujan, atau saat malam. Atau kebetulan.

Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan. Kecuali Amuba. Dia mandiri. Membelah diri. Agar ada keturunan. Apakah aku Amuba? Bukan. Aku Manusia. Bisa mencinta dan dicinta. Sama kamu, dia atau dia. Katanya jodoh ditangan Tuhan? Mana mungkin. Tuhanku tak berbentuk. Apa lagi punya tangan. Ini soal keyakinan. Seperti aku yakin, Aku cuma mau Kamu sekarang.

Sungguh sulit jadi manusia di zaman ini. Mau makan bukan baca doa, tapi malah foto dulu itu makanan. Sendok ditangan kanan. Smartphone ditangan kiri. Atau apakah aku harus ceritakan bagaimana media sosial dengan berbagai macam kelakuan? Gak mau ah. Nanti kepanjangan.

Tanpa disadari kita memang berevolusi. Mulai dari jalan kesuksesan atau kisah percintaan. Tergantung kamu mau menepa diri. Mau statis atau terus gelantungan.

Pithecantropus Septikus

September

Barusan aku selesai makan Getuk dan enak. Kiriman langsung dari tetangga yang baik. Makanan sederhana, cita rasa tradisi nan kaya. Seketika aku lupa kau sudah singgah dipelukan siapa.

September

Kiri-Kanan kulihat saja banyak Janur Kuning melambai. Mereka serempak, seperti sudah janjian. Hari menjadi panas berkat kekuatan doa si pawang hujan. Hati menjadi panas ketika dapat undangan dari mantan.

September

Langit bertambah cantik ketika malam. Dihiasi triliyunan bintang kecil dan purnama yang benderang. Indah namun mencemaskan. Kadang aku takut si Anang jadi Serigala jadi-jadian. Atau kamu tiba-tiba datang di mimpiku dengan membawa sebilah parang. Atau Ibuku yang ikutan audisi Dangdut Pantura. Hm, menyeramkan.

September

Anginnya klasik. Cuacanya fantastik. Semua dibungkus rapi oleh rindu yang tiba-tiba tumpang tindih.

Pithecantropus Statixis

Okelah. Disini listrik mati. Tak ada kekuatan yang mampu menyalakannya selain PLN itu sendiri. Dan tentu kuasa Tuhan tak akan mampu disaingi. Termasuk soal rezeki. Tidak hanya berwujud uang. Juga bisa berupa jodoh atau kesehatan.

Bagaimana aku tahu bahwa kamu makan bakwan 2 biji, hey Rifa’i ? Karena aku disampingmu Sore tadi. Minta dibayari. Sore yang cantik sehabis main Voli. Dada terasa pengap oleh nikotin jahat yang selalu kuhisap sebatang demi sebatang sebagai salah satu bentuk bantuanku pada pemerintah meningkatkan devisa negara.

Hari terus berganti. Aku meraba-raba apa yang telah aku lakukan sehari ini. Selain minum air, tak diduga aku juga makan nasi. Seperti biasanya kan? Tidak! Kali ini aku makan nasi uduk gratis. Itu memang nikmat. Tapi rasanya tak ada yang lebih lezat dari masakan seorang pasangan hati. Ah kamu.

Wajahmu makin lama makin menarik saja. Hasil terpaan efek kamera. Wajahku makin lama makin terlihat tua. Hasil terpaan usia. Direkam, diedit, sedemikian rupa. Sampai lupa wajah aslinya. Apa daya, tuntutan gaya hidup social media.

Apa kabarmu? Sedang apa kau disitu? Dengarlah ini suaraku. Yang datang dari hati dan juga pikiran. Campuran dari musik yang melankolis, balsem yang praktis, dan rindu yang statis. Semoga kamu dengar walau sekarang sedang nyuci piring di Atlantis.

Pithecantropus Julilovis

Juli dengarkan ini :

Ayah dan ibu menikah karena cinta. Kita hasil dari cinta mereka. Mengapa kau menginginkan yang lebih dari cinta?

Barang siapa yang mau denganmu, adalah ia yang suka koleksi barang kecuali cintamu. Barangkali. Cinta tak bisa digambarksn wujudnya kecuali cinta laura.
Sesungguhnya yang paling dibutuhkan oleh CINTA di dunia ini adalah ‘T’. Tanpanya, cuma jadi CINA. Lalu ada yg lebih sulit dari kisah percintaan. Yaitu kasih yang tak dicintakan.

Cinta tidak ada apa-apanya dibandingkan roti keju yang kau idamkan ketika lapar.

Pithecantropus Ramadhanosis

Mungkin akan jadi menyenangkan rasanya kalo tiap bulan adalah bulan ramadhan. Semua orang berlomba-lomba berbuat kebaikan. Tempat ibadah jadi pusat keramaian. Tapi itu juga termasuk rumah si Ridwan sih. Jadi tempat kabur kami pas malas solat tarawih.

Ramadhan. Orang-orang mempererat silaturahmi. Makan bersama teman-teman sekolah yang disebut juga reuni. Keasyikan kopdar sampai lupa solat magrib. Buka puasa sama pacar, eh malah dibuka semuanya. Hih.

Ramadhan. Bulan seribu berkah. Mengucap beribu do’a dengan tangan tengadah. Berharap rezeki tumpah tercurah. Yang berkeluarga meminta banyak uang untuk baju baru dan persenan sewaktu lebaran. Dhuafa cinta ancang-ancang siapkan jawaban dari pertanyaan kapan kawin yang kadang meresahkan.

Ramadhan. Sungguh penuh kemuliaan. Terima kasih Tuhan atas semua yang Kau berikan. Semoga kami selalu diberi kemudahan.